Yuli Retno Indah Peratiwi, mahasiswa Universitas PGRI Semarang, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Domisili Gayamsari, Semarang.
Apa yang membuat kita begitu senang menemukan label untuk diri sendiri?
Kalian pernah nggak, melihat bio Instagram orang yang mencantumkan label kepribadian? “INFJ, introvert, extrovert mentok.” Saya juga pernah. Dulu saya suka mencari tahu kepribadian diri lewat tes gratis di internet.
Bukan untuk menertawakan orang yang melakukan hal serupa. Justru saya penasaran: apa yang membuat kita begitu senang menemukan label untuk diri sendiri?
Menurut saya, ini bagian dari budaya yang mengubah diagnosis menjadi estetika. Kesadaran diri tentu bagus. Namun, ada garis tipis antara self-awareness dan menjadikan kondisi psikologis sebagai merchandising: dicetak di kaus, bio Instagram, bahkan personal branding.
Dulu, membicarakan kesehatan mental sering dianggap tabu atau lebay. Sekarang, konten “aku banget” justru bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali diri. Video TikTok, misalnya, menyebut “jarang bicara, suka mengamati, nyaman sendirian” sebagai ciri introvert.
Penonton pun berpikir, “Oh, berarti aku introvert.” Sampai di sini sebenarnya tidak masalah. Masalah muncul ketika konten relatable dianggap sebagai diagnosis.
Survei yang diberitakan Kompas menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental meningkat; 64% responden Indonesia mengaku sering mencari tahu kondisi kesehatan mentalnya dan delapan dari sepuluh responden menganggap kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Itu kabar baik. Tetapi konten psikologi di TikTok sebaiknya diperlakukan seperti brosur klinik: bisa menyadarkan bahwa kita perlu bantuan. Tetapi bukan pengganti dokter atau psikolog.
Sebab, gejala seperti cemas, lelah bersosialisasi, sulit tidur, atau kehilangan energi bukan otomatis tanda gangguan tertentu. Diagnosis membutuhkan asesmen yang lebih menyeluruh dan mempertimbangkan kemungkinan kondisi lain.
Di sinilah “Barnum Effect” ikut bermain. Kita cenderung merasa deskripsi umum sangat cocok dengan diri sendiri. Pernah membaca ramalan zodiak lalu berkata, “Ini gue banget”? Kurang lebih begitu.
Tes kepribadian gratis pun bisa terasa sangat akurat hanya karena kalimatnya cukup umum untuk berlaku kepada banyak orang. MyEduSolve menjelaskan Barnum Effect sebagai kecenderungan menganggap deskripsi umum sebagai sesuatu yang spesifik dan personal.
Masalahnya menjadi lebih rumit ketika gangguan psikologis dikemas menjadi sesuatu yang estetik dan menguntungkan. Ada ebook, konten, sampai “coach” yang menjual solusi instan. Di sisi lain, penyandang kondisi psikologis yang benar-benar terdiagnosis berisiko dianggap sekadar ikut tren.
Jadi, yang perlu dikritik bukan orang yang ingin memahami dirinya, melainkan kebiasaan menjadikan diagnosis sebagai dekorasi. Silakan gunakan konten TikTok atau tes gratis sebagai langkah awal untuk bertanya, bukan sebagai palu hakim untuk memvonis diri sendiri.
Bio boleh estetik, tetapi diagnosis bukan dekorasi. Kalau memang merasa ada yang tidak beres, jangan berhenti di kolom komentar. Temui orang yang bisa memeriksa, dan kompeten sesuai profesinya. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

