BACAAJA, SEMARANG – Obrolan santai terkadang bisa berubah menjadi gunjingan tanpa disadari. Awalnya hanya membahas kabar seseorang, tetapi lama-kelamaan pembicaraan justru mengarah pada keburukan orang yang tidak ada di tempat.
Dalam ajaran Islam, kebiasaan seperti ini perlu diwaspadai. Ghibah bukan hanya menyangkut ucapan, tetapi juga berkaitan dengan kehormatan sesama Muslim yang wajib dijaga.
Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan agar umatnya mampu mengendalikan lisan. Ada beberapa amalan dan kebiasaan yang bisa dilakukan untuk menghindari ghibah, mulai dari memperbanyak dzikir hingga berani mengalihkan obrolan yang mulai tidak sehat.
Mengenal Ghibah dan Bahayanya
Ghibah adalah membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak disukainya ketika orang tersebut tidak berada di tempat, meskipun apa yang dibicarakan itu benar. Jika kabar yang disampaikan ternyata tidak benar, perbuatan tersebut termasuk dusta atau fitnah.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan ghibah kepada para sahabat. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menerangkan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudaramu yang tidak dia sukai.
Ketika ditanya bagaimana jika yang dibicarakan memang benar, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika perkataan itu benar, berarti seseorang telah melakukan ghibah. Jika tidak benar, berarti ia telah membuat kedustaan terhadap orang tersebut.
Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras mengenai perilaku ini melalui Surah Al-Hujurat ayat 12.
Arab:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ
Latin:
Yā ayyuhallażīna āmanū ijtanibū katsīram minaẓ-ẓanni inna ba‘ḍaẓ-ẓanni itsmun wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba‘ḍukum ba‘ḍā. A yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh. Wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
Perumpamaan dalam ayat tersebut menunjukkan betapa buruknya ghibah. Karena itu, umat Islam dianjurkan menjaga ucapan agar tidak melukai kehormatan orang lain.
1. Perbanyak Dzikir dan Istighfar
Membiasakan diri berdzikir dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga hati tetap terarah kepada Allah SWT. Ketika seseorang terbiasa mengingat Allah, ia memiliki kesempatan untuk lebih sadar terhadap ucapan dan perbuatannya.
Istighfar juga bisa diamalkan ketika muncul keinginan membicarakan keburukan orang lain. Ucapkan Astaghfirullah sambil menahan diri dan mengalihkan perhatian pada hal yang lebih bermanfaat.
Namun, dzikir bukan pengganti usaha memperbaiki perilaku. Kebiasaan menjaga lisan tetap perlu dilatih melalui kesadaran dan pengendalian diri.
2. Membaca Doa Sebelum Berkumpul
Sebagian literatur keislaman memuat doa yang dianjurkan dibaca ketika seseorang berada dalam sebuah majelis. Salah satu bacaan yang dikenal dalam pembahasan adab majelis adalah shalawat berikut:
Arab:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin:
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, wa ṣallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam.
Artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Bacaan tersebut dapat menjadi pengingat agar seseorang menjaga adab selama berada di majelis. Namun, klaim bahwa doa ini secara khusus menjamin seseorang tidak akan digunjing atau pasti mendapat perlindungan malaikat perlu disikapi hati-hati karena riwayat yang menjadi dasarnya tidak memiliki kedudukan yang sama dengan hadis sahih.
3. Segera Tinggalkan Obrolan yang Mengarah Ghibah
Ketika pembicaraan mulai membahas aib seseorang, langkah paling aman adalah tidak ikut menambahkan cerita. Jika memungkinkan, tinggalkan percakapan tersebut atau alihkan pembahasan ke topik lain.
Misalnya, ketika teman mulai menggunjing, seseorang bisa berkata, “Kita bahas yang lain saja, yuk,” atau “Jangan sampai obrolan ini jadi ghibah.”
Cara sederhana ini bisa membantu menjaga suasana tetap nyaman tanpa harus mempermalukan orang yang sedang berbicara. Menjaga lisan juga berarti berani menghentikan diri sendiri ketika mulai terbawa arus percakapan.
4. Mengingatkan dengan Cara yang Lembut
Menjauhi ghibah bukan berarti harus memusuhi orang yang melakukannya. Jika ingin mengingatkan, pilih kata-kata yang santun dan tidak terkesan menghakimi.
Nasihat yang disampaikan dengan tenang biasanya lebih mudah diterima. Apalagi jika disampaikan sebagai pengingat bersama, bukan seolah-olah hanya orang lain yang melakukan kesalahan.
Islam mengajarkan pentingnya berdakwah dengan hikmah. Karena itu, mengingatkan teman agar menjaga ucapan sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik dan penuh penghormatan.
5. Isi Waktu dengan Pembicaraan Bermanfaat
Ghibah sering muncul ketika obrolan tidak memiliki arah yang jelas. Agar tidak terjebak, seseorang dapat membiasakan diri mengisi percakapan dengan hal-hal yang bermanfaat.
Membahas ilmu agama, pengalaman positif, pekerjaan, keluarga, atau rencana kegiatan sosial bisa menjadi pilihan. Bukan berarti semua obrolan harus serius, tetapi pembicaraan sebaiknya tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan hiburan.
Menjaga topik pembicaraan juga dapat membantu menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih sehat. Kebiasaan ini bisa dimulai dari rumah, tempat kerja, sekolah, hingga majelis ilmu.
6. Introspeksi Diri dan Menjaga Hati
Ghibah tidak selalu muncul karena kebencian. Kadang, rasa iri, marah, kecewa, atau keinginan mendapat perhatian dapat mendorong seseorang membicarakan orang lain.
Karena itu, penting untuk sering melakukan introspeksi diri. Tanyakan kepada diri sendiri apakah ucapan yang hendak disampaikan benar-benar bermanfaat atau hanya untuk melampiaskan emosi.
Membersihkan hati dari iri dan dengki juga perlu diiringi dengan usaha memperbaiki hubungan dengan sesama. Semakin seseorang belajar memahami kekurangan dirinya, semakin besar kesempatan untuk tidak sibuk mencari kesalahan orang lain.
Dampak Ghibah bagi Kehidupan Sosial
Ghibah dapat merusak kepercayaan dalam pertemanan dan keluarga. Orang yang mengetahui dirinya menjadi bahan gunjingan bisa merasa terluka, malu, atau enggan bergaul dengan lingkungan tersebut.
Dalam jangka panjang, kebiasaan menggunjing juga dapat memicu konflik. Kabar yang awalnya hanya berupa percakapan kecil bisa berkembang menjadi kesalahpahaman ketika berpindah dari satu orang ke orang lain.
Karena itu, menjaga lisan bukan hanya urusan ibadah pribadi. Sikap tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial untuk menjaga kehormatan dan perasaan sesama.
Bagaimana Jika Terlanjur Berghibah?
Jika seseorang menyadari telah melakukan ghibah, langkah pertama adalah segera bertobat kepada Allah SWT dan bertekad tidak mengulangi perbuatan tersebut. Istighfar serta memperbanyak amal saleh dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki diri.
Mengenai meminta maaf kepada orang yang menjadi korban ghibah, para ulama memiliki pembahasan yang berbeda. Jika permintaan maaf justru berpotensi menimbulkan masalah baru, sebagian ulama menganjurkan agar seseorang tidak menyampaikan kabar tersebut, tetapi mendoakan orang yang digunjing dan memperbaiki citranya di hadapan orang yang sebelumnya mendengar gunjingan.
Jika meminta maaf dapat dilakukan tanpa menimbulkan mudarat, langkah tersebut bisa dipertimbangkan. Yang penting, seseorang benar-benar menyesali perbuatannya dan berusaha memperbaiki dampak yang telah ditimbulkan.
Menjaga lisan dari ghibah membutuhkan latihan dan kesadaran setiap hari. Amalan seperti dzikir, istighfar, membaca shalawat, serta membiasakan obrolan yang bermanfaat dapat membantu seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara.
Ghibah mungkin terlihat seperti percakapan biasa, tetapi dampaknya bisa menyentuh kehormatan dan perasaan orang lain. Karena itu, sebelum membicarakan seseorang, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri apakah ucapan tersebut benar-benar perlu disampaikan.
Dengan membiasakan diri menjaga ucapan, umat Islam dapat membangun lingkungan yang lebih damai, saling menghormati, dan jauh dari kebiasaan yang merusak persaudaraan.(*)

