BACAAJA, JAKARTA – Menuntut ilmu bukan sekadar soal seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikuasai. Dalam tradisi Islam, adab kepada guru, kesungguhan belajar, dan penghormatan terhadap majelis ilmu menjadi bagian penting yang tak bisa dipisahkan. Hal itu tergambar dalam perjalanan hidup Imam Malik, ulama besar yang dikenal luas karena keluasan ilmu sekaligus keteguhannya menjaga kehormatan ilmu.
Nama Imam Malik tak hanya harum berkat karya Al-Muwaththa’ dan mazhab fikih yang dinisbatkan kepadanya. Cara ia memperlakukan hadis, guru, murid, dan majelis ilmu juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi setelahnya.
Dari Madinah, Imam Malik menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar bahan untuk berdebat atau mencari pengakuan. Ilmu harus dipelajari dengan kesungguhan, disampaikan secara jujur, dan diwujudkan dalam akhlak sehari-hari.
Pesan Ibu: Adab Lebih Dulu
Sejak kecil, Imam Malik mendapat pendidikan yang menekankan pentingnya adab. Ibunya berpesan agar ia mempelajari akhlak dan tata krama dari para guru sebelum mendalami ilmu mereka.
Nasihat tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan intelektualnya. Meski dikenal cerdas, Imam Malik tetap diarahkan untuk tidak terlena dengan kesenangan masa muda dan terus menjaga kesungguhan dalam belajar.
Salah satu guru yang membentuk perjalanan keilmuannya adalah Rabi’ah al-Ra’yi, seorang ulama yang dikenal memiliki pemahaman mendalam dalam fikih. Di hadapan gurunya, Imam Malik belajar dengan penuh hormat dan disiplin.
Dalam riwayat yang populer, Imam Malik disebut pernah mengatakan bahwa dirinya mempelajari adab selama 30 tahun, kemudian mempelajari ilmu selama 20 tahun. Ungkapan ini kerap dijadikan pengingat bahwa pengetahuan yang luas perlu dibangun di atas akhlak yang baik.
Majelis Hadis yang Penuh Wibawa
Majelis Imam Malik di Masjid Nabawi dikenal memiliki suasana yang tenang dan tertib. Para murid mendengarkan penjelasan dengan serius, sementara perdebatan yang tidak perlu dan suara keras tidak menjadi bagian dari kebiasaan majelis tersebut.
Penghormatan Imam Malik terhadap hadis juga terlihat dari persiapannya sebelum menyampaikan sabda Rasulullah SAW. Dalam sejumlah riwayat, ia disebut mandi, mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, dan membakar bukhur atau dupa sebelum mengajarkan hadis.
Bagi Imam Malik, menyampaikan hadis bukan kegiatan yang dilakukan secara sembarangan. Persiapan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap ilmu dan sumber ajaran yang disampaikannya.
Sikap ini menunjukkan bahwa proses belajar dan mengajarkan ilmu juga membutuhkan kesungguhan batin. Bukan hanya isi pelajaran yang diperhatikan, melainkan pula adab ketika ilmu itu disampaikan.
Berani Mengatakan Tidak Tahu
Salah satu keteladanan Imam Malik yang banyak dikenang adalah keberaniannya mengakui ketidaktahuan. Ia tidak merasa harus menjawab setiap pertanyaan hanya demi terlihat menguasai semua persoalan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, mengatakan “tidak tahu” merupakan bagian dari kejujuran. Sikap tersebut menunjukkan bahwa seorang alim tetap menyadari batas pengetahuannya.
Imam Malik juga dikenal dengan prinsip bahwa hadis sahih harus menjadi pedoman utama. Pendapat pribadi tidak boleh ditempatkan lebih tinggi daripada dalil yang benar.
Keteguhan tersebut membuatnya dihormati banyak murid, termasuk Imam Syafi’i. Hubungan keduanya menjadi salah satu contoh penting tentang bagaimana ilmu, ketawadukan, dan penghormatan kepada guru dapat berjalan beriringan.
Ilmu Tak Boleh Tunduk pada Kekuasaan
Imam Malik hidup pada masa pergantian kekuasaan dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyah. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal memiliki pendirian kuat dan tidak mudah menyesuaikan pandangan ilmiahnya demi kepentingan penguasa.
Ia juga dikenal dengan ungkapan, “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.” Pesan tersebut menggambarkan pandangannya bahwa majelis ilmu harus tetap memiliki wibawa dan tidak kehilangan kehormatan karena kepentingan kekuasaan.
Dalam salah satu peristiwa yang terkenal, Imam Malik menghadapi tekanan setelah menyampaikan pandangan tentang baiat yang dilakukan secara terpaksa. Ia kemudian mengalami hukuman dan perlakuan keras dari penguasa.
Meski demikian, ia tetap dikenal sebagai ulama yang berusaha mempertahankan prinsip keilmuan. Kisah tersebut menjadi bagian dari sejarah keteguhan Imam Malik dalam menghadapi tekanan politik.
Nasihat untuk Murid dan Generasi Berikutnya
Murid-murid Imam Malik datang dari berbagai wilayah dunia Islam. Mereka tidak hanya mempelajari fikih dan hadis, tetapi juga menyerap pelajaran tentang kesabaran, ketelitian, serta cara menghormati guru.
Imam Syafi’i merupakan salah satu murid yang memiliki hubungan keilmuan erat dengannya. Dalam sejumlah riwayat, Imam Malik memberikan nasihat agar Imam Syafi’i menjaga ketakwaan dan menjauhi maksiat.
Nasihat itu memperlihatkan bahwa pendidikan dalam majelis Imam Malik tidak berhenti pada hafalan atau pemahaman hukum. Pembentukan karakter menjadi bagian penting dari proses belajar.
Karena itu, warisan Imam Malik tidak hanya terlihat dari karya-karya tertulisnya. Pengaruhnya juga terasa melalui murid-murid yang meneruskan tradisi keilmuan dan akhlak tersebut.
Al-Muwaththa’, Warisan yang Terus Dibaca
Salah satu karya terbesar Imam Malik adalah Al-Muwaththa’. Kitab ini memuat hadis, pendapat sahabat, serta pembahasan hukum Islam yang disusun dengan ketelitian.
Karya tersebut menjadi rujukan penting dalam perkembangan ilmu hadis dan fikih. Hingga kini, Al-Muwaththa’ tetap dipelajari dalam berbagai tradisi pendidikan Islam.
Penyusunan kitab itu mencerminkan perhatian Imam Malik terhadap ketepatan riwayat dan kehati-hatian dalam menyampaikan ilmu. Baginya, ilmu bukan sekadar untuk memperbanyak perdebatan, tetapi harus memiliki manfaat nyata.
Keteladanan ini mengingatkan bahwa ilmu yang baik semestinya mendorong seseorang menjadi lebih rendah hati, jujur, dan bertanggung jawab.
Pelajaran dari Kota Madinah
Imam Malik lahir dan wafat di Madinah. Kota tersebut menjadi pusat kehidupan, pendidikan, dan pengabdiannya terhadap ilmu Islam.
Kedekatannya dengan Madinah membuatnya sangat menghormati tradisi keilmuan dan praktik keagamaan yang diwariskan generasi awal Islam. Ia memandang kota itu sebagai tempat yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah umat.
Kecintaan terhadap Madinah turut membentuk cara pandangnya dalam menjaga sunnah dan menghormati para ulama. Majelis ilmu baginya bukan ruang untuk mencari popularitas, melainkan tempat memperdalam petunjuk agama.
Warisan tersebut kemudian berkembang melalui Mazhab Maliki yang banyak dianut di Afrika Utara, Afrika Barat, dan sejumlah wilayah lainnya.
Menjaga Adab di Tengah Zaman
Kisah Imam Malik dan kemuliaan majelis ilmu tetap relevan untuk kehidupan sekarang. Di tengah kemudahan mengakses informasi, seseorang perlu membedakan antara sekadar mengetahui sesuatu dan benar-benar memahami ilmu dengan cara yang bertanggung jawab.
Menghormati guru, memeriksa kebenaran informasi, tidak malu mengakui ketidaktahuan, serta mengamalkan pengetahuan merupakan pelajaran yang bisa diterapkan siapa saja.
Majelis ilmu juga seharusnya menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, kesungguhan, dan saling menghargai. Semangat itulah yang tercermin dalam perjalanan Imam Malik.
Pada akhirnya, kisah ulama besar dari Madinah ini mengajarkan bahwa ilmu dan adab tidak bisa dipisahkan. Pengetahuan yang disertai akhlak, ketulusan, dan kejujuran akan menjadi bekal berharga bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat. (*)

