BACAAJA, JAKARTA – Pemerintah sangat ketat mengawasi keamanan makan bergizi yang dibagikan kepada siswa sekolah. Sanksinya tak main-main, mulai dari pidana denda hingga penutupan dapur secara permanen alias putus kontrak.
87 siswa sebuah sekolah mengalami keracunan massal setelah menyantanp ‘makan bergizi gratis (MBG)’. Instansi terkait langsung melakukan investigasi secara serius terhadap tata kelola dan kebersihan dapur.
Hal itu terjadi di Taipe. Bukan di Indonesia. Dikutip dari CNA, laporan dari pihak sekolah diterima Departemen Kesehatan Taipei pada Selasa (8/9/2026). Petugas kemudian turun langsung untuk mengecek dugaan keracunan makanan tersebut.
Dari pemeriksaan awal, petugas menemukan sejumlah persoalan kebersihan. Di antaranya ada kotoran di bawah kulkas, genangan air di lantai, serta rak dan bingkai yang kotor.
Bacaaja: BGN Pangkas 1.653 Sekolah dari Sasaran MBG
Bacaaja: Pemerintah Siapkan Skema Bantuan Khusus untuk Keluarga yang Rawat Anak dan Lansia
Para siswa diketahui makan siang sekitar tengah hari pada Senin. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 22.00, sejumlah siswa mulai mengalami diare.
Departemen Kesehatan Taipei masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah keluhan para siswa memang berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.
Petugas mengambil 11 sampel untuk pemeriksaan. Sampel tersebut meliputi sisa makanan, usapan dari berbagai permukaan dapur, hingga sampel dari tangan pekerja yang menangani makanan.
Sampel dari para siswa yang mengalami gejala juga akan diperiksa. Hasil seluruh pemeriksaan nantinya digunakan untuk mengetahui penyebab kejadian.
Terancam denda Rp111 miliar
Sambil investigasi berjalan, Departemen Kesehatan Taipei memerintahkan penyedia makanan untuk menghentikan sementara operasionalnya.
Penyedia juga diminta memperbaiki seluruh pelanggaran yang ditemukan paling lambat Jumat. Jika nantinya terbukti melanggar aturan keamanan dan sanitasi pangan, penyedia makanan tersebut terancam denda hingga NT$200 juta atau sekitar Rp111 miliar.
Wali Kota Taipei Chiang Wan-an mengatakan pemerintah langsung melakukan pemeriksaan setelah menerima laporan.
Pemerintah juga mengambil sampel dan menyiapkan makanan dari pemasok lain agar kebutuhan makan para siswa tetap terpenuhi.
Layanan makan sekolah baru akan kembali seperti biasa setelah dapur memenuhi persyaratan kesehatan dan proses investigasi selesai.
Departemen Pendidikan Taipei menyebut tindakan selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil laboratorium dan hasil penyelidikan terhadap penyedia makanan.
Jika ditemukan masalah dalam layanan makanan atau pelanggaran kontrak, pemerintah kota bisa menghentikan sebagian maupun seluruh kontrak dengan penyedia tersebut.
Untuk saat ini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Penyebab pasti siswa mengalami diare juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. (*)

