BACAAJA, SEMARANG – Jawa Tengah disebut masih surplus listrik lebih dari 2.000 megawatt (MW). Tapi di saat yang sama, proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal terus didorong.
Kondisi ini dipertanyakan WALHI Jateng. Mereka mempertanyakan alasan pembangunan PLTP secara masif ketika pasokan listrik di Jateng disebut sudah berlebih.
“Untuk siapa pembangunan PLTP secara masif di tengah terjadinya surplus listrik?” kata Fahmi Bastian dari WALHI Jateng dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9/2026).
Bacaaja: Jangan Bor Gunung Ungaran! Warga Khawatir Air dan Petani Jadi Korban Proyek Geothermal
Bacaaja: Geothermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm
Jateng sendiri sudah memiliki PLTP Dieng yang beroperasi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dengan kapasitas sekitar 70 MW.
Kini, pemerintah menyiapkan pengembangan PLTP Gunung Ungaran berkapasitas 55 MW, yang masih berada pada tahap perencanaan dan studi kelayakan.
Menurut Fahmi, persoalannya bukan sekadar soal menambah pembangkit. Proyek panas bumi atau geothermal juga membawa dampak bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Sementara itu, riset kolaboratif yang melibatkan warga di tujuh desa menemukan sejumlah persoalan di sekitar proyek panas bumi Dieng.
Di antaranya penurunan aktivitas pariwisata, konflik antarwarga, akses lahan yang terbatas karena infrastruktur panas bumi, hingga persoalan kompensasi.
Dimas dari Kita Institute mengatakan pembangunan PLTP Dieng 2 pada 2022 juga disebut memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Artinya, ketika proyek disebut sebagai bagian dari transisi energi, warga justru mempertanyakan dampak yang mereka rasakan langsung. (bae)

