BACAAJA, LOMBOK – ebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak cuma meninggalkan puing. Musibah ini juga membuat warga kehilangan rumah sekaligus bagian dari ruang hidup masyarakat Suku Sasak yang selama ini menjadi salah satu ikon budaya Lombok.
Ratusan bangunan di kawasan permukiman adat dilaporkan terdampak. Warga kini harus menghadapi masa sulit untuk kembali menata kehidupan setelah api melalap kawasan tersebut.
Di tengah proses pemulihan, muncul dorongan agar penyebab kebakaran jangan sampai berhenti sebagai tanda tanya. Pemerintah dan aparat diminta serius mengusutnya sampai terang.
Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PKS, Saadiah Uluputty, meminta penyebab kebakaran ditelusuri secara tuntas. Menurutnya, padamnya api bukan berarti persoalan selesai.
“Saya meminta agar penyebab kebakaran Desa Adat Sade diusut tuntas. Jangan sampai setelah api padam, pertanyaan masyarakat justru dibiarkan tanpa jawaban,” tegas Saadiah, Senin (24/8/2026).
Ia menilai Sade punya nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar deretan rumah warga. Kawasan ini menjadi bagian dari identitas, sejarah, sekaligus warisan budaya masyarakat Sasak.
Karena itu, menurut Saadiah, kerusakan akibat kebakaran tidak bisa hanya dihitung dari jumlah bangunan yang terbakar. Ada sejarah dan tradisi yang ikut terdampak dalam musibah tersebut.
“Yang terbakar bukan hanya bangunan. Ada rumah, ada kenangan, ada sejarah, ada warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, negara harus hadir,” ujarnya.
Saat ini polisi sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim Inafis ikut diterjunkan untuk mengumpulkan barang bukti, mendokumentasikan lokasi, serta menggali keterangan dari saksi dan warga yang terdampak.
Penyebab pasti kebakaran sampai sekarang masih dalam penyelidikan. Belum ada kesimpulan resmi apakah api dipicu masalah kelistrikan, kelalaian, atau faktor lainnya.
Saadiah meminta proses tersebut berjalan profesional dan transparan. Pemeriksaan berbasis bukti, termasuk melibatkan laboratorium forensik jika dibutuhkan, dinilai penting agar kesimpulan yang dihasilkan tidak asal tebak.
“Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Apakah faktor kelistrikan, kelalaian, atau faktor lainnya, semuanya harus dibuktikan melalui penyelidikan yang profesional. Masyarakat berhak mengetahui kebenarannya,” katanya.
Selain mencari penyebab kebakaran, Saadiah juga mengingatkan pemerintah agar pemulihan tidak sekadar mengejar pembangunan fisik. Kehidupan warga dan karakter budaya Sade harus tetap menjadi perhatian utama.
Menurutnya, membangun kembali Sade harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan sampai proses rehabilitasi justru menghilangkan bentuk, nilai, maupun tradisi yang selama ini menjadi ciri khas kawasan adat tersebut.
“Kita ingin Sade bangkit. Tetapi ketika dibangun kembali, jangan sampai identitas dan nilai adatnya hilang. Pemulihan harus menghadirkan keselamatan, kepastian bagi warga, sekaligus menjaga warisan budaya,” ujar Saadiah.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat memenuhi kebutuhan warga yang terdampak. Mulai dari tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan perlu dipastikan.
Bagi Saadiah, kebakaran Sade semestinya menjadi alarm untuk memperkuat sistem pencegahan kebakaran di kawasan permukiman adat dan destinasi wisata budaya. Apalagi kawasan semacam ini memiliki karakter bangunan dan lingkungan yang perlu mendapat penanganan khusus.
“Kita berduka untuk Sade. Tetapi dari duka ini harus lahir evaluasi dan pembenahan. Jangan sampai kejadian serupa terulang di kawasan adat lainnya,” tutupnya. (*)

