NACAAJA, BANYUMAS – Kehamilan bukan berarti harus berhenti merawat penampilan. Banyak ibu hamil tetap ingin tampil segar, salah satunya dengan mengganti warna rambut. Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering terdengar, apakah mewarnai rambut saat hamil sebenarnya aman?
Menurut para ahli, jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Hingga kini, penelitian mengenai dampak pewarna rambut terhadap kehamilan memang masih terbatas, tetapi risiko yang ditemukan tergolong rendah.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Dr. Shaghayegh DeNoble menjelaskan, sebagian besar penelitian dilakukan pada pekerja salon yang lebih sering terpapar bahan kimia. Hasilnya pun masih beragam dan belum menunjukkan bukti kuat bahwa pewarna rambut membahayakan kehamilan.
Ia mengatakan, hanya sedikit kandungan pewarna yang dapat terserap tubuh. Karena itu, penggunaan pewarna rambut umumnya dinilai relatif aman bagi ibu hamil.
Meski begitu, banyak dokter tetap menyarankan agar pewarnaan rambut ditunda sampai memasuki trimester kedua. Pada tiga bulan pertama kehamilan, organ-organ penting janin sedang berkembang sehingga paparan bahan kimia yang tidak diperlukan sebaiknya diminimalkan.
Perubahan hormon selama hamil juga membuat kulit menjadi lebih sensitif. Tak heran jika ibu hamil lebih mudah mengalami iritasi atau alergi terhadap produk yang sebelumnya terasa aman.
Sebelum mengecat rambut, sebaiknya lakukan patch test atau uji tempel terlebih dahulu. Cara sederhana ini membantu memastikan kulit tidak bereaksi negatif terhadap produk yang akan digunakan.
Kalau tetap ingin mengubah warna rambut, teknik pewarnaannya juga patut diperhatikan. Tidak semua metode memberikan tingkat paparan yang sama pada kulit kepala.
Dr. DeNoble menyebut teknik highlight atau balayage bisa menjadi pilihan yang lebih aman. Alasannya, pewarna hanya diaplikasikan pada sebagian batang rambut sehingga kontak langsung dengan kulit kepala jauh lebih sedikit.
Bidan bersertifikat Janna Stults menjelaskan, batang rambut sendiri tidak memiliki sel hidup. Selama pewarna tidak banyak mengenai kulit kepala atau folikel rambut, risiko penyerapannya ke dalam tubuh menjadi sangat kecil.
Selain teknik pewarnaan, kondisi salon juga perlu diperhatikan. Pilih tempat yang memiliki sirkulasi udara baik agar uap dari bahan kimia tidak terhirup terlalu banyak selama proses pewarnaan.
Beberapa kandungan kimia juga sebaiknya dihindari jika memungkinkan. Misalnya formaldehida, ftalat, paraben, oxybenzone, dan triclosan yang sering menjadi perhatian dalam berbagai produk perawatan.
Sementara itu, prosedur pelurusan rambut menggunakan bahan kimia atau hair relaxer lebih baik ditunda hingga setelah melahirkan. Beberapa penelitian menunjukkan perawatan jenis ini memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding pewarna rambut biasa.
Bagi ibu hamil yang masih ragu memakai pewarna permanen, ada alternatif yang lebih ramah. Pewarna alami berbahan henna maupun ekstrak tumbuhan bisa menjadi pilihan untuk mempercantik rambut.
Pilihan lain adalah melakukan highlight yang dimulai dari bagian tengah batang rambut sehingga pewarna tidak menyentuh kulit kepala. Cara ini juga cukup banyak direkomendasikan oleh para ahli.
Meski demikian, kondisi setiap ibu hamil tidak selalu sama. Ada yang menjalani kehamilan normal, tetapi ada pula yang memiliki risiko kesehatan tertentu sehingga membutuhkan perhatian lebih.
Karena itu, jika kehamilan tergolong berisiko tinggi atau muncul keluhan tertentu, berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum mewarnai rambut adalah langkah paling bijak.
Pada akhirnya, tampil cantik saat hamil bukanlah hal yang dilarang. Yang terpenting, pilih cara yang aman, gunakan produk yang tepat, dan jangan ragu meminta saran tenaga medis sebelum mencoba perawatan berbahan kimia. Dengan begitu, ibu tetap bisa percaya diri tanpa mengabaikan kesehatan diri sendiri maupun calon buah hati. (*)

