BACAAJA, MALANG- Sebanyak 75 siswa MA Mambaul Ulum, Kabupaten Malang, mendapat bekal untuk merancang masa depan melalui kegiatan pendampingan karier yang digelar Tim Dosen Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Brawijaya (UB), Senin (27/7/2026).
Mengusung tema “Dari Cita-Cita ke Realita: Strategi Perencanaan Karier Siswa SMA”, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti siswa kelas X hingga XII. Tujuannya sederhana, tetapi penting: membantu siswa mengenali potensi diri, memahami pilihan pendidikan, dan menyusun langkah nyata menuju cita-cita.
Kegiatan yang berlangsung di MA Mambaul Ulum, Dusun Bletok, Desa Pandanajeng itu lahir dari kenyataan bahwa banyak siswa di wilayah pedesaan masih menghadapi tantangan untuk melanjutkan pendidikan.
Mulai dari keterbatasan ekonomi, minimnya akses informasi tentang kuliah dan karier, hingga tuntutan membantu keluarga, sering kali membuat pilihan masa depan terasa semakin sempit.
Baca juga: Bunda PAUD Jateng Gandeng Psikologi Undip Masuk Posyandu
Sebelum menerima materi, para siswa terlebih dahulu mengikuti asesmen untuk mengenali karakter, minat, dan potensi yang mereka miliki. Hasil asesmen itu kemudian menjadi bahan diskusi bersama tim dosen agar siswa bisa menghubungkan kemampuan diri dengan berbagai pilihan studi maupun profesi.
Harapannya, keputusan setelah lulus nanti tidak hanya mengikuti teman atau sekadar memenuhi tekanan lingkungan, tetapi benar-benar sesuai dengan kemampuan dan impian masing-masing.
Materi utama disampaikan oleh akademisi Psikologi FISIP UB, Yuliezar Perwira Dara, SPsi, MPsi, dan Sukma Nurmala, SPsi, MSi. Dalam pemaparannya, Sukma menjelaskan pentingnya membangun self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri, serta career adaptability, yakni kesiapan menghadapi perubahan di dunia pendidikan maupun pekerjaan.
Menurutnya, latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, atau tempat tinggal bukanlah penentu akhir masa depan seseorang. Yang lebih penting adalah keberanian untuk terus belajar, mencari informasi, dan mampu menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan.
Sementara itu, Yuliezar menekankan pentingnya pendampingan karier bagi remaja di wilayah pedesaan agar mereka memiliki arah yang jelas setelah lulus sekolah.
“Masa remaja merupakan periode penting untuk mulai merancang masa depan, termasuk bagi siswa di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses informasi pendidikan dan karier,” ucapnya.
Potensi Diri
Melalui kegiatan ini, lanjutnya, pihaknya berharap siswa semakin yakin mengenali potensi diri, memahami pilihan studi lanjut, serta menginternalisasi nilai Smart, Religius, dan Skillful sebagai bekal mewujudkan cita-cita dan karier yang diharapkan.
Suasana semakin hidup saat sesi diskusi dibuka. Banyak siswa menyampaikan kegelisahan mereka, mulai dari keterbatasan biaya kuliah, kurang percaya diri masuk perguruan tinggi, hingga dilema antara melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja membantu orang tua.
Menjawab keresahan tersebut, tim pengabdian bersama para asisten membagikan berbagai informasi tentang peluang beasiswa yang bisa dipersiapkan sejak duduk di bangku SMA maupun MA.
Tak hanya teori, para mahasiswa juga berbagi pengalaman pribadi saat berburu beasiswa hingga akhirnya berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Cerita-cerita itu memberi gambaran bahwa keterbatasan bukan penghalang mutlak selama ada kemauan, informasi yang tepat, dan keberanian mencoba. Di penghujung kegiatan, para siswa mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman mereka setelah menerima materi.
Baca juga: IDAI Warning Kesehatan Mental Anak! Satu dari Tiga Remaja Indonesia Alami Masalah Psikologis
Setiap peserta kemudian diminta menuliskan satu cita-cita terbesar beserta tujuan hidup yang ingin dicapai pada selembar kertas. Kertas-kertas itu ditempelkan di sebuah “Pohon Harapan”, sebagai simbol komitmen untuk mulai mewujudkan mimpi yang telah mereka tuliskan.
Melalui kegiatan ini, tim Psikologi Fisip UB berharap para siswa semakin percaya diri menyusun masa depan, aktif mencari peluang, dan berani mengubah cita-cita menjadi langkah nyata.
Alamat rumah boleh berada di pelosok desa, tapi mimpi tak pernah mengenal kode pos. Yang sering membatasi bukan jarak menuju kampus, melainkan keberanian untuk memulai langkah pertama. (tebe)

