BACAAJA, SEMARANG – Tantrum sering membuat orangtua panik, apalagi jika terjadi di tempat umum. Reaksi pertama yang muncul biasanya meminta anak berhenti menangis atau segera tenang. Padahal, menurut psikolog, cara seperti itu belum tentu membantu meredakan emosinya.
Ledakan emosi pada anak umumnya muncul saat mereka merasa frustrasi, sedih, kewalahan, atau belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan. Karena itu, anak lebih membutuhkan pendampingan daripada sekadar perintah untuk diam.
Psikolog klinis Rebecca Weksner menyarankan orangtua memilih kalimat yang lebih menenangkan. Salah satunya dengan menyisipkan kata “sekarang” atau “saat ini” ketika berbicara kepada anak.
Misalnya, orangtua bisa berkata, “Mama tahu kamu lagi sedih sekarang,” atau “Memang rasanya berat saat ini, ya.” Kalimat sederhana itu membantu anak memahami bahwa emosi yang sedang dirasakan tidak akan berlangsung selamanya.
Menurut Rebecca, cara tersebut membuat anak melihat bahwa perasaan bisa berubah seiring waktu. Saat emosinya mulai turun, mereka biasanya lebih siap diajak mencari jalan keluar.
Tak hanya pilihan kata, nada bicara juga punya pengaruh besar. Orangtua dianjurkan berbicara lebih pelan, lebih lambat, dan menurunkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak.
Sikap tenang dari orangtua bisa menjadi contoh bagi otak anak tentang cara mengendalikan emosi. Sebaliknya, membentak atau berbicara dengan nada tinggi justru dapat memperpanjang tantrum.
Rebecca juga mengingatkan bahwa otak anak yang sedang diliputi emosi sulit menerima banyak penjelasan. Karena itu, hindari memberi ceramah panjang saat mereka masih menangis.
Sebagai gantinya, berikan arahan sederhana yang mudah dilakukan. Misalnya mengajak anak minum beberapa teguk air, menarik napas perlahan, atau mengambil benda tertentu sebelum kembali berbicara.
Aktivitas kecil semacam itu membantu mengalihkan fokus otak dari luapan emosi menuju proses berpikir yang lebih tenang. Hasilnya, anak akan lebih mudah mengendalikan dirinya.
Psikolog Adina Chesir menambahkan, kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah terburu-buru mencari solusi ketika anak masih berada di puncak emosinya.
Menurutnya, langkah pertama yang jauh lebih penting adalah memvalidasi perasaan anak. Orangtua bisa mengatakan, “Mama tahu ini memang bikin kamu kecewa,” atau “Pasti rasanya nggak enak, ya.”
Saat anak merasa dipahami, mereka biasanya tidak lagi merasa perlu menangis lebih keras agar didengar. Hubungan emosional pun menjadi lebih kuat.
Setelah suasana mulai tenang, barulah orangtua mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi bersama.
Para psikolog menegaskan tidak ada satu cara yang ampuh untuk semua anak. Namun, tetap tenang, mengakui perasaan mereka, dan memilih kata-kata yang menenangkan menjadi bekal penting agar anak belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat. (*)

