BACAAJA, SEMARANG – Saraf kejepit sering dikira hanya dialami orang yang mengangkat beban berat atau mengalami cedera saat berolahraga. Padahal, rutinitas sehari-hari yang terlihat biasa saja juga bisa menjadi pemicunya jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda.
Tekanan yang terjadi berulang pada saraf bisa memunculkan keluhan seperti nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga otot terasa lemah. Sayangnya, banyak orang baru menyadari kondisinya ketika gejala mulai mengganggu aktivitas.
Secara medis, saraf kejepit terjadi saat jaringan di sekitar saraf, seperti tulang, otot, tendon, atau bantalan tulang belakang, memberikan tekanan berlebih. Akibatnya, fungsi saraf terganggu dan menimbulkan rasa tidak nyaman di berbagai bagian tubuh.
Kondisi ini bisa muncul di leher, punggung, pinggang, hingga pergelangan tangan. Pada beberapa kasus, rasa nyeri bahkan dapat menjalar ke kaki atau dikenal sebagai linu panggul.
Berikut tiga kebiasaan yang tanpa disadari dapat meningkatkan risiko saraf kejepit.
Duduk atau Diam Terlalu Lama
Terlalu lama duduk di depan komputer, rebahan dengan posisi yang sama, atau sering menyilangkan kaki bisa membuat saraf mendapat tekanan terus-menerus. Semakin lama tubuh berada di satu posisi, semakin besar pula risiko terjadinya kompresi saraf.
Karena itu, biasakan berdiri, berjalan sebentar, atau melakukan peregangan setiap 30 hingga 60 menit. Cara sederhana ini membantu melancarkan sirkulasi sekaligus mengurangi tekanan pada saraf.
Gerakan Berulang Tanpa Istirahat
Aktivitas seperti mengetik, menggunakan mouse, bekerja di pabrik, atau melakukan gerakan olahraga yang sama berulang kali juga dapat memicu saraf kejepit. Apalagi jika dilakukan berjam-jam tanpa memberi waktu istirahat.
Memberikan jeda beberapa menit dan melakukan peregangan ringan dapat membantu mengurangi ketegangan otot. Kebiasaan kecil ini juga membuat saraf tidak terus-menerus menerima tekanan.
Postur Tubuh yang Sering Membungkuk
Banyak orang tidak sadar sering membungkuk saat bekerja di depan laptop atau menunduk terlalu lama ketika bermain ponsel. Posisi tubuh yang kurang ideal ini bisa membuat otot menjadi tegang dan meningkatkan tekanan pada saraf.
Selain saat bekerja, posisi tidur yang terus menekan satu sisi tubuh juga berpotensi menimbulkan masalah serupa. Jika berlangsung dalam waktu lama, risiko saraf kejepit bisa ikut meningkat.
Menjaga postur tubuh tetap tegak, rutin bergerak, dan menghindari posisi yang sama terlalu lama menjadi langkah sederhana untuk melindungi kesehatan saraf. Bila sudah muncul nyeri, kesemutan, atau mati rasa yang tidak kunjung membaik, sebaiknya segera periksakan diri ke tenaga medis agar penyebabnya dapat ditangani lebih cepat. (*)

