BACAAJA, SEMARANG – Laut selama ini identik dengan destinasi liburan atau tempat mencari suasana tenang. Namun belakangan, hamparan air biru mulai dimanfaatkan sebagai bagian dari terapi pendamping untuk membantu pemulihan kesehatan mental.
Pendekatan tersebut dikenal dengan istilah blue space therapy. Konsep ini memanfaatkan lingkungan perairan seperti laut, sungai, maupun danau untuk membantu meredakan trauma, kecemasan, depresi, hingga proses pemulihan dari kecanduan.
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi berbasis alam ini semakin banyak diterapkan di berbagai negara. Sejumlah organisasi bahkan memasukkannya sebagai pelengkap dalam program pendampingan kesehatan mental.
Perhatian terhadap metode ini muncul setelah berbagai penelitian menunjukkan bahwa berada di dekat air dapat membantu menurunkan tingkat stres. Efeknya juga disebut mampu meningkatkan rasa tenang dan kesejahteraan psikologis seseorang.
Istilah blue space mulai dikenal luas sejak ahli biologi kelautan Wallace J. Nichols menerbitkan buku Blue Mind pada 2014. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa berada di dalam, di atas, atau sekadar dekat dengan air dapat memberikan dampak positif bagi kerja otak.
Sejak saat itu, berbagai komunitas mulai mengembangkan program terapi yang memanfaatkan laut sebagai media pemulihan. Salah satunya dilakukan organisasi Turn to Starboard di Inggris.
Organisasi tersebut mendampingi para veteran militer yang mengalami trauma melalui kegiatan berlayar. Aktivitas di laut dipilih sebagai cara membantu mereka membangun kembali rasa percaya diri dan ketenangan batin.
Salah seorang pesertanya, Dave Phillips, mengaku hidupnya berubah setelah mengikuti program tersebut. Sebelum bergabung, mantan anggota Angkatan Darat Inggris itu bergulat dengan gangguan stres pascatrauma, kecemasan, hingga depresi setelah kehilangan beberapa orang terdekat.
Menurutnya, laut memberikan ruang untuk menjauh sejenak dari tekanan hidup. Berada di atas perairan membuat pikirannya terasa lebih ringan dan perlahan mampu kembali menikmati kehidupan.
Kini Dave kembali aktif berlayar mengelilingi Inggris sambil menggalang dana bagi organisasi yang membantunya bangkit. Pengalaman itu menjadi bukti bahwa alam bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan.
Program serupa juga berkembang di Amerika Serikat. Organisasi nirlaba Waves of Recovery memanfaatkan olahraga selancar sebagai terapi pendamping bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental maupun kecanduan.
Pendiri organisasi tersebut, Sophie Pyne, menegaskan terapi berbasis laut bukan pengganti pengobatan medis. Pendekatan ini hanya menjadi pelengkap agar proses pemulihan berjalan lebih menyeluruh.
Menurutnya, aktivitas di alam terbuka juga membantu mengurangi stigma ketika seseorang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental. Peserta merasa lebih nyaman menjalani proses pemulihan tanpa tekanan.
Geografer Catherine Kelly yang meneliti blue space menjelaskan bahwa lingkungan perairan memberikan efek menenangkan yang berbeda dibandingkan tempat lain. Saat berada di dekat air, tubuh cenderung lebih rileks secara alami.
Ia mengatakan bahu menjadi lebih santai, napas terasa lebih teratur, dan pikiran tetap fokus tanpa dibebani ketegangan berlebihan. Kondisi tersebut membantu tubuh memasuki fase relaksasi.
Kelly menilai kehidupan modern yang dipenuhi layar gawai dan tekanan pekerjaan membuat otak hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Kehadiran alam, terutama kawasan perairan, memberi kesempatan bagi pikiran untuk memulihkan diri.
Selain berlayar dan berselancar, terapi blue space kini mulai dikembangkan melalui aktivitas menyelam scuba hingga freediving. Pengalaman berada di bawah air dinilai mampu memberikan sensasi tenang yang berbeda.
Psikiater sekaligus mantan veteran militer Amerika Serikat, Dr. James Jung, menjelaskan bahwa aktivitas bawah air dapat membantu seseorang belajar mengatur kembali sistem saraf selama proses pemulihan trauma.
Meski hasilnya menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa penelitian mengenai blue space masih terus berkembang. Karena itu, terapi ini saat ini lebih diposisikan sebagai pendamping penanganan medis dan psikologis, bukan sebagai pengganti terapi utama bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. (*)

