BACAAJA, YOGYAKARTA –Β Ada satu program studi di Universitas Gadjah Mada yang diam-diam sedang naik daun. Bukan kedokteran, bukan hukum, dan bukan pula teknik yang selama ini identik dengan persaingan ketat. Justru program studi yang berkaitan dengan pertanian kini menjadi magnet baru bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah.
Fenomena itu terlihat dari tingginya persaingan masuk Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian UGM. Pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP 2026, sebanyak 271 siswa berebut hanya 27 kursi yang tersedia. Artinya, satu kursi diperebutkan sekitar 10 pendaftar.
Angka tersebut menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian. Jika dulu sektor ini kerap dianggap identik dengan pekerjaan di sawah atau ladang, kini banyak siswa mulai melihat pertanian sebagai sektor masa depan yang menawarkan peluang luas.
Ketua Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian UGM, Hani Perwitasari, menilai lonjakan peminat tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, pertanian modern saat ini sudah berkembang jauh melampaui aktivitas bercocok tanam semata.
Dalam praktiknya, sektor pertanian kini terhubung dengan banyak bidang lain, mulai dari bisnis, perdagangan, teknologi, hingga kebijakan publik. Karena itu, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami seluruh rantai pertanian juga semakin besar.
Hani menjelaskan mahasiswa di program studi tersebut tidak hanya diajarkan cara memahami produksi pertanian. Mereka juga dilatih membaca tren pasar, mengelola usaha, melakukan analisis ekonomi, hingga menyusun rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan pangan dan pertanian.
Inilah yang menjadi daya tarik utama program studi tersebut. Mahasiswa mendapatkan kombinasi ilmu yang cukup lengkap karena mempelajari sisi ekonomi sekaligus aspek bisnis pertanian dalam satu paket pembelajaran.
Di satu sisi, mahasiswa bisa mendalami ekonomi pertanian yang berkaitan dengan harga komoditas, perdagangan hasil pertanian, hingga isu ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, mereka juga dapat memperkuat kemampuan di bidang manajemen agribisnis seperti pemasaran, keuangan, serta pengelolaan usaha.
Kurikulum yang diterapkan pun dibuat cukup fleksibel. Pada masa awal perkuliahan, mahasiswa tetap dibekali dasar-dasar ilmu pertanian agar memahami proses produksi dari hulu. Mereka belajar mengenai tanah, mikrobiologi, budidaya tanaman, hingga berbagai aspek teknis pertanian lainnya.
Setelah fondasi tersebut terbentuk, pembelajaran mulai bergeser ke bidang ekonomi dan bisnis. Mahasiswa akan bertemu dengan berbagai mata kuliah yang membahas pembangunan pertanian, ekonomi internasional, pemasaran, hingga strategi pengembangan usaha agribisnis.
Perpaduan dua dunia ini membuat lulusan tidak hanya memahami bagaimana produk pertanian dihasilkan, tetapi juga mengerti bagaimana produk tersebut bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar.
Keunggulan lainnya adalah program studi ini terbuka bagi siswa dengan latar belakang IPA maupun IPS. Menurut Hani, kedua latar belakang tersebut justru bisa saling melengkapi ketika memasuki dunia pertanian modern.
Siswa yang memiliki dasar sains biasanya lebih cepat memahami proses produksi dan teknologi pertanian. Sementara mereka yang terbiasa dengan ilmu sosial dan ekonomi cenderung unggul dalam analisis bisnis maupun kebijakan.
Di tengah berbagai tantangan global saat ini, mulai dari ancaman krisis pangan, ketergantungan impor, perubahan iklim, hingga gejolak harga bahan pangan, kebutuhan terhadap lulusan yang memahami berbagai aspek tersebut semakin meningkat.
Karena itu mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori. Mereka juga dilatih membaca data, mengolah informasi, melakukan riset, dan menyusun solusi yang bisa diterapkan dalam dunia nyata.
Pendekatan seperti ini membuat lulusan memiliki kemampuan yang cukup luas. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pelaku usaha pertanian, tetapi juga calon pengambil kebijakan yang mampu membaca persoalan sektor pangan secara komprehensif.
Prospek kerja yang terbuka juga menjadi salah satu alasan meningkatnya minat calon mahasiswa. Alumni program studi ini tersebar di berbagai sektor, baik pemerintahan maupun swasta.
Banyak lulusan yang berkarier di kementerian, lembaga negara, perusahaan pangan nasional, industri perbankan, hingga organisasi internasional yang bergerak di bidang pembangunan dan ketahanan pangan.
Tidak sedikit pula yang memilih membangun usaha sendiri. Dunia agribisnis saat ini menawarkan banyak peluang, mulai dari perdagangan hasil pertanian, pengolahan pangan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran produk pertanian.
Perubahan cara pandang terhadap sektor pertanian inilah yang dinilai menjadi penyebab meningkatnya minat siswa setiap tahun. Pertanian kini tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional yang tertinggal oleh perkembangan zaman.
Sebaliknya, banyak anak muda mulai melihat pertanian sebagai arena strategis yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, bisnis, dan kebijakan dalam satu bidang yang sangat dekat dengan kebutuhan manusia sehari-hari.
Lonjakan peminat di Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis UGM menjadi bukti bahwa persepsi tersebut perlahan berubah. Dari yang dulu kerap dipandang sebelah mata, kini program studi ini justru menjadi salah satu tujuan yang diperebutkan banyak siswa karena dianggap mampu membuka jalan menuju berbagai peluang karier di masa depan. (*)

