Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Hilangnya Kepercayaan Rakyat Kepada Negara
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Hilangnya Kepercayaan Rakyat Kepada Negara

Redaktur Opini
Last updated: Juni 4, 2026 8:39 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Kepercayaan publik tidak lahir dari pencitraan. Ia tumbuh ketika negara mampu menghadirkan keadilan yang benar-benar dirasakan warga.

 

Demokrasi Indonesia hari ini tampak baik-baik saja di permukaan. Pemilu tetap berlangsung, lembaga negara tetap bekerja, dan undang-undang baru terus disahkan. Dari luar, semuanya terlihat rapi. Namun, di tingkat masyarakat muncul pertanyaan, jika negara sudah berjalan sesuai prosedur, mengapa publik justru makin sulit percaya kepada negara?

Di sinilah pentingnya kita memahami perbedaan antara legalitas dan legitimasi. Sesuatu bisa sah secara hukum, tetapi belum tentu dianggap adil secara moral. Franz Magnis-Suseno pernah mengingatkan bahwa negara modern tidak cukup hanya berdiri di atas aturan. Negara juga membutuhkan dasar etis yang membuat warga merasa bahwa kekuasaan memang layak ditaati.

Fenomena ini dapat dilihat pada sejumlah proyek besar negara belakangan ini. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipromosikan untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda, sementara Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) diperkenalkan atas nama pemberdayaan ekonomi desa. Namun, sebagian masyarakat justru mempertanyakan prioritas, kesiapan, dan arah kebijakan tersebut. Kritik tersebut muncul karena kebijakan dianggap terlalu elitis, top-down, dan tidak bertolak dari kebutuhan nyata masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat cenderung berharap negara lebih memprioritaskan kebijakan yang langsung menyentuh akar ketimpangan sosial, seperti perbaikan pendidikan, layanan kesehatan, fasilitas publik, dan penciptaan lapangan kerja. Sebab kewibawaan moral negara tidak dibangun hanya melalui besarnya proyek atau kuatnya narasi politik, melainkan melalui kemampuan menghadirkan keadilan yang benar-benar dirasakan warga.

Namun, orientasi kebijakan sering kali tidak lahir dari kebutuhan sosial masyarakat, melainkan dari logika kompromi elite politik. Politik kita belakangan lebih mirip arena pembagian pengaruh dibanding ruang memperjuangkan kepentingan publik. Koalisi besar dibangun ke mana-mana sampai oposisi kadang terasa seperti spesies langka. Akibatnya, kritik melemah dan publik mulai melihat politik hanya sebagai urusan elite berbagi kursi.

Krisis ini makin rumit di era digital. Hari ini, citra yang ditampilkan menjadi lebih penting daripada substansi. Seorang pejabat bisa terlihat dekat dengan rakyat lewat video pendek, walau kebijakannya belum tentu berpihak pada rakyat. Ukuran keberhasilan politik perlahan bergeser. Bukan lagi sejauh mana kebijakan menyelesaikan masalah, tetapi seberapa efektif ia dikemas dan disebarkan di ruang digital. Demokrasi akhirnya lebih sibuk mengelola impresi dibanding memperbaiki basis realitas.

Kepercayaan publik tidak lahir dari pencitraan. Ia tumbuh ketika negara mampu menghadirkan keadilan yang benar-benar dirasakan warga. Selain itu, transparansi, akuntabilitas, dan keberanian menerima kritik jauh lebih penting dibanding slogan manis atau unggahan media sosial yang dibuat terlalu dramatis.

Karena itu, pemulihan demokrasi tidak cukup hanya dengan memperbaiki prosedur pemilu atau mengganti tokoh politik. Yang perlu dipulihkan adalah etika politik itu sendiri. Pejabat publik harus mampu menempatkan dirinya sebagai pelayan kepentingan bersama, bukan sekadar pengelola kekuasaan. Demokrasi yang sehat bukan hanya soal siapa menang pemilu, tetapi juga soal apakah elite masih merasa malu ketika menyalahgunakan jabatan.

Pada akhirnya, demokrasi bukan sekadar mesin administrasi negara. Demokrasi hanya akan hidup jika warga percaya bahwa hukum bekerja untuk keadilan, bukan sekadar menjaga ketertiban. Negara bisa saja tetap sah di atas kertas. Namun tanpa legitimasi moral, ia perlahan kehilangan alasan mengapa rakyat harus mempercayainya. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

Iman dan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Hadapan Ancaman Akal Imitasi

Piala Dunia Hanya Melahirkan Satu Juara, Ekonomi Membutuhkan Semua Pemain

Urban Parenting dan Mitos “Anak Baik-Baik Saja”

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article BERI KETERAGAN - Kepala Dinkes Semarang, Abdul hakam, memberi keterangan kepada sejumlah awak media. (dul) LIDYA DIMARI Jadi Andalan, Pasien HIV dari Luar Kota Ikut Berobat ke Semarang
Next Article DPRD Serahkan Aspirasi Warga ke Pemkot Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), saat memberi keterangan kepada awak media, Jumat (16/1/2026). (ist)

Peringati Hari Santri Nasional 2026, Wagub Jateng Gus Yasin Gas Gerakan Bersih Pesantren

GUNUNG KEBAKARAN: Asap kebakaran mengepul di dekat area puncak Gunung Sumbing, Selasa (20/10/2026) siang. (ist)

Alasan Pemkab Wonosobo Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla di Gunung Sumbing

Bupati Ngawi Lantik Ratusan PNS, Minta ASN Melek AI dan Tak Terjebak Rutinitas

Politikus Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

DWS Minta Pemerintah Sederhanakan Persyaratan Program Bedah Rumah

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ini Kebakaran atau Pembakaran Ya?” Ganjar Usul 5 Langkah Tangani Bencana Karhutla di Indonesia

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Alasan Pekerja Informal Rentan dan Sulit Naik Kelas

Januari 5, 2026
Opini

Prabowo dan Sirkus Uang

Mei 20, 2026
Opini

Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?

Oktober 21, 2026
Opini

2016 Called, and We Picked Up Immediately: Nostalgia dan Kerinduan yang Palsu

Juli 21, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Hilangnya Kepercayaan Rakyat Kepada Negara
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?