BACAAJA, TEMANGGUNG- Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, lagi naik kelas. Bukan karena kafe estetik atau glamping viral, tapi karena suasana damainya yang bikin orang betah buat rehat dari hidup yang kebanyakan notifikasi.
Dusun yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga beragama Buddha itu sekarang didorong jadi destinasi mindfulness tourism berbasis masyarakat. Program ini digarap lewat kolaborasi alumni dan dosen Universitas Diponegoro (Undip) dalam program Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (Equity).
Selama ini Krecek memang dikenal sebagai ruang wisata spiritual dan budaya. Mulai dari perayaan Waisak, Nyadran Perdamaian, Merti Dusun, live in, meditasi, sampai Krecek Mindfulness Weekend rutin digelar di sana.
Baca juga: Fisip Undip Gelar Pelatihan Packaging bagi Pelaku UMKM Rowosari
Yang datang juga bukan cuma satu dua orang. Dalam setahun, kegiatan mindfulness di Krecek bisa berlangsung tiga sampai empat kali dengan peserta mencapai 30 hingga 100 orang dari berbagai daerah dan lintas agama.
Dosen Administrasi Bisnis Undip, Ardy Wibowo bilang, pengembangan wisata di Krecek nggak boleh menghilangkan identitas asli dusun. “Dusun Krecek punya kekuatan yang nggak banyak dimiliki tempat lain. Kehidupan masyarakat Buddhisnya masih terjaga, tradisinya hidup, dan suasananya mendukung praktik mindfulness,” katanya, Minggu, (17/5/2026).
Eco Homestay
Program pendampingan itu nggak cuma ngomongin wisata, tapi juga urusan yang sering dianggap sepele: toilet dan pelayanan tamu. Fasilitas MCK di dusun direnovasi supaya pengunjung yang ikut live in atau meditasi beberapa hari bisa lebih nyaman. Selain itu, dua eco-homestay berbasis rumah warga juga mulai disiapkan.
Direktur PT Kalandra Nusantara sekaligus Direktur Manusa Foundation, Arya Pradhana Wirawan mengatakan, tujuan program ini bukan sekadar mempercantik dusun. “Yang penting masyarakat punya standar pelayanan dan sistem pengelolaan yang bisa jalan terus meski program selesai,” ujarnya.
Baca juga: Undip Kenalkan Kopi Tawangmangu ke Dunia
Warga juga mendapat pelatihan hospitality dengan pendekatan reliability, assurance, tangibles, empathy, dan responsiveness (RATER). Mulai dari cara menyambut tamu, menjaga kebersihan, sampai komunikasi dengan wisatawan.
Bagi warga Krecek sendiri, tamu yang datang bukan sekadar wisatawan biasa. Mereka dianggap ikut belajar hidup sederhana bersama warga.
“Orang datang ke Krecek bukan cuma lihat tempat, tapi ikut merasakan kehidupan warga. Belajar hidup tenang dan rukun,” kata Ngasiran, salah satu warga.
Kini Dusun Krecek pelan-pelan berubah jadi pengingat kalau wisata nggak selalu soal sound horeg, antre foto, atau kopi Rp40 ribu. Kadang, yang paling mahal justru suasana tenang yang sekarang makin susah dicari. (tebe)

