BACAAJA, SEMARANG – Kasus seorang jemaah haji asal Indonesia yang ditangkap di Arab Saudi karena merekam perempuan tanpa izin mendadak bikin banyak calon jemaah ikut waspada. Peristiwa itu jadi pengingat kalau selama berada di Tanah Suci, ada banyak aturan yang wajib dipatuhi dan tidak bisa dianggap sepele.
Banyak orang mengira aturan di Makkah dan Madinah cuma berkaitan soal ibadah saja. Padahal kenyataannya, otoritas Arab Saudi juga sangat ketat mengawasi perilaku jemaah di area publik, termasuk urusan merekam video, berkumpul, sampai cara menjaga kebersihan.
Pemerintah Saudi memang dikenal menerapkan pengamanan super ketat di kawasan masjid. Petugas keamanan atau askar masjid rutin melakukan patroli langsung, ditambah pengawasan CCTV yang tersebar hampir di berbagai sudut area ibadah.
Karena itu, aktivitas yang terlihat biasa bagi sebagian orang bisa saja dianggap mencurigakan di sana. Apalagi kalau sampai mengganggu kenyamanan jemaah lain atau melanggar privasi orang lain yang sedang beribadah.
Salah satu aturan yang kini ramai dibicarakan adalah larangan merekam video terlalu lama menggunakan perlengkapan khusus. Banyak jemaah sekarang memang suka membuat konten perjalanan haji atau umrah untuk media sosial, namun di Arab Saudi hal itu punya batasan tertentu.
Jemaah tidak diperbolehkan melakukan pengambilan gambar secara statis dalam waktu lama, apalagi memakai tripod, lampu tambahan, mikrofon khusus, hingga kabel audio-video yang terlihat seperti perlengkapan produksi profesional.
Aktivitas semacam itu bisa langsung menarik perhatian petugas keamanan Saudi. Mereka khawatir ada kegiatan dokumentasi yang tidak memiliki izin resmi atau justru mengganggu ketertiban kawasan ibadah yang selalu dipadati jutaan orang.
Kalau petugas menganggap aktivitas perekaman melanggar aturan, kamera atau alat rekam bisa disita sementara. Bahkan rekaman yang sudah dibuat juga dapat diminta untuk dihapus langsung di lokasi.
Kasus terbaru yang menyeret jemaah Indonesia pun membuat banyak orang mulai sadar pentingnya menjaga etika saat menggunakan ponsel di Tanah Suci. Merekam orang lain tanpa izin, terutama perempuan, bisa berujung masalah hukum serius di Arab Saudi.
Selain urusan video, ada aturan lain yang ternyata masih sering dilanggar jemaah, yaitu membawa dan membentangkan atribut kelompok tertentu di area masjid. Banyak yang belum tahu kalau tindakan ini termasuk hal yang dilarang keras.
Jemaah tidak diperbolehkan mengibarkan bendera, spanduk, atau atribut identitas tertentu, termasuk membawa bendera Merah Putih untuk difoto bersama di kawasan masjid. Meski niatnya sekadar dokumentasi atau kebanggaan nasional, petugas Saudi tetap menganggapnya pelanggaran aturan ketertiban.
Otoritas keamanan di sana memang ingin kawasan masjid tetap steril dari simbol-simbol kelompok atau aktivitas yang berpotensi memicu keramaian. Karena itu, jemaah disarankan tidak membawa atribut semacam itu saat masuk kompleks ibadah.
Aturan lain yang cukup bikin kaget sebagian jemaah adalah larangan merokok di sekitar kawasan Masjid Nabawi. Larangan ini benar-benar diterapkan serius dan petugas tidak segan memberikan sanksi.
Kalau kedapatan merokok di area terlarang, jemaah bisa langsung diamankan dan diproses hukum. Bahkan dendanya disebut bisa mencapai jutaan rupiah. Karena itu, perokok diminta mencari area yang jauh dari masjid bila memang ingin merokok.
Tak cuma soal rokok, jemaah juga diminta tidak berkerumun terlalu lama di area masjid. Aturan ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang Indonesia yang terbiasa berkumpul sambil ngobrol setelah ibadah.
Namun di Arab Saudi, kerumunan kecil yang terlalu lama diam di satu titik bisa memancing perhatian askar masjid. Biasanya kalau ada lebih dari lima orang berkumpul tanpa bergerak cukup lama, petugas akan meminta mereka segera berjalan atau membubarkan diri.
Aturan itu diterapkan demi menjaga kelancaran arus jutaan jemaah yang keluar masuk kawasan ibadah setiap hari. Selain itu, Saudi juga ingin mencegah aktivitas yang dianggap mencurigakan dari sisi keamanan.
Karena itu, kalau ingin bertemu rombongan lain atau ngobrol santai, jemaah biasanya disarankan melakukannya di luar area masjid atau sambil tetap berjalan agar tidak menimbulkan keramaian yang menghambat lalu lintas manusia.
Hal yang sering dianggap paling sepele ternyata juga bisa berujung masalah, yaitu membuang sampah sembarangan. Meski terlihat sederhana, kebersihan di kawasan Tanah Suci sangat dijaga dan diawasi ketat.
Jemaah yang sengaja mengotori area masjid bisa ditegur bahkan diamankan petugas kalau dianggap mengganggu kebersihan lingkungan ibadah. Padahal di banyak sudut sebenarnya sudah tersedia tempat sampah dan petugas kebersihan yang siap membantu.
Petugas kebersihan di kawasan masjid bahkan sering berkeliling membawa plastik besar agar jemaah lebih mudah membuang sampah tanpa harus mencari tong sampah terlalu jauh. Karena itu, alasan bingung mencari tempat sampah biasanya sulit diterima.
Kalau memang belum menemukan tempat pembuangan, jemaah dianjurkan menyimpan sampah sementara di tas atau kantong pribadi sampai menemukan lokasi yang tepat untuk membuangnya.
Aturan-aturan ini memang terdengar ketat, tetapi tujuan utamanya adalah menjaga kenyamanan jutaan jemaah dari berbagai negara yang berkumpul di satu tempat. Dengan jumlah manusia sebesar itu, sedikit pelanggaran kecil saja bisa memicu kekacauan kalau tidak diatur dengan disiplin.
Karena itulah calon jemaah haji dan umrah sekarang diminta makin sadar bahwa ibadah di Tanah Suci bukan cuma soal ritual, tetapi juga tentang menghormati aturan, menjaga sikap, dan memahami budaya hukum negara yang sedang dikunjungi. (*)

