BACAAJA, SEMARANG- Kota Semarang lagi naik kelas. Bukan cuma jadi tuan rumah, tapi juga pusat kolaborasi lintas negara buat percepat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama 28-30 April 2026, berbagai pihak dari negara-negara ASEAN, organisasi internasional, sampai pemerintah pusat kumpul dalam forum ASEAN ID-Nourish yang dilanjutkan dengan dialog nasional praktik baik MBG.
Forum ini digelar di Hotel Gumaya dan dihadiri sejumlah tokoh penting. Mulai dari perwakilan pemerintah Indonesia, hingga organisasi global seperti Food and Agriculture Organization (FAO), World Food Programme, dan Milan Urban Food Policy Pact.
Baca juga: Semarang Disulap Jadi “War Room” MBG, Pakar Dunia Turun Gunung
Buat Semarang, ini bukan sekadar event formal. Tapi jadi momentum buat ngebut kesiapan daerah dalam menjalankan program MBG secara lebih matang dan terarah.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam membangun sistem pangan yang kuat. “Kita di sini sebagai satu keluarga besar dengan tujuan yang sama: membangun sistem pangan yang lebih tangguh,” ujarnya.
Investasi Masa Depan
Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis bukan cuma soal bagi-bagi makanan. Tapi investasi jangka panjang buat kualitas generasi ke depan. “Ini bukan sekadar program makan, tapi investasi masa depan,” tegasnya.
Dari sisi pemerintah pusat, Badan Gizi Nasional (BGN) juga menegaskan hal yang sama: kunci keberhasilan ada di daerah. Deputi BGN, Suardi Samiran, menyebut rantai pasok program ini justru bisa jadi “mesin ekonomi baru” di tingkat lokal. “Bahan pangan diambil dari masyarakat. Jadi ini juga menggerakkan ekonomi daerah,” jelasnya.
Artinya, program ini nggak cuma berdampak ke anak-anak sebagai penerima manfaat, tapi juga ke petani, pelaku usaha, sampai rantai distribusi di bawah.
Agustina juga melihat efek langsungnya ke kota. Kehadiran peserta dari dalam dan luar negeri ikut menggerakkan ekonomi, hotel, transportasi, hingga sektor jasa ikut hidup.
Saat ini, kesiapan Semarang juga sudah mulai terlihat. Ada 174 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif, menjangkau lebih dari 281 ribu penerima manfaat.
Baca juga: Dapur MBG di Semarang Upgrade Skill, Belajar Ngolah Makanan Halal dan Aman dari Ahlinya!
Forum ini juga jadi ajang “nyamain frekuensi” antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan organisasi internasional, supaya implementasi program nggak jalan sendiri-sendiri. Sebagai langkah lanjut, peserta dijadwalkan turun langsung ke lapangan buat ngecek kesiapan distribusi dan produksi pangan di Semarang.
Semarang sudah jadi tempat kumpulnya ide dan rencana besar soal makan bergizi. Tinggal satu hal yang ditunggu: apakah nanti yang kenyang cuma hasil rapatnya, atau benar-benar sampai ke piring anak-anak? (tebe)

