BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti bilang, sampai sekarang Pemkot belum mutusin bakal ikut kebijakan work from home (WFH) tiap Jumat. Alasannya simpel tapi ngena: masih dikaji, terutama soal efek nyatanya ke penghematan energi.
Menurutnya, jangan sampai kebijakan ini cuma formalitas. Yang penting itu hasilnya, bukan sekadar gaya kerjanya. “Dimana pun kerjanya, pelayanan ke masyarakat nggak boleh terganggu,” tegasnya.
Baca juga: WFH Jumat di Semarang: Bukan Buat Rebahan, Tapi Biar Hemat BBM
Kebetulan, pada Jumat, (10/4/2026), ada agenda penting bareng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejari, dan Polrestabes Semarang. Kegiatan besar kayak gini jelas butuh kehadiran langsung ASN biar semua berjalan lancar.
Alih-alih buru-buru WFH, Pemkot justru lagi ngulik cara lain buat hemat energi, yang dianggap lebih “kena sasaran”. Salah satunya: memangkas anggaran BBM untuk mobil dinas.
Langkah Konkret
Logikanya sederhana. Kalau ASN WFH tapi mobil dinas tetap jalan dan tetap diisi bensin, lalu hematnya di mana? Makanya, Pemkot lagi nyusun skema pengurangan perjalanan dinas sebagai langkah konkret. Harapannya, penghematan energi benar-benar terasa, bukan cuma di atas kertas.
Di sisi lain, level provinsi sudah lebih dulu gaspol. Pemprov Jateng lewat surat edaran resmi sudah mulai menerapkan WFH bagi sebagian ASN tiap Jumat, sebagai bagian dari transformasi budaya kerja.
Baca juga: WFH Perlu Indikator Jelas, Pengawasan ASN Jadi Kunci
Kebijakan ini juga nyambung dengan arahan pemerintah pusat soal penyesuaian pola kerja ASN. Tapi lagi-lagi, Semarang memilih nggak ikut-ikutan dulu. Fokusnya tetap satu: pelayanan publik jangan sampai kena imbas.
WFH memang terdengar modern dan kekinian. Tapi kalau cuma pindah kerja dari kantor ke rumah tanpa benar-benar ngurangin energi, ya jatuhnya cuma ganti lokasi, bukan solusi. Di Semarang, sepertinya yang lagi dicari bukan sekadar “kerja dari mana”, tapi “hematnya benar atau cuma kelihatan aja.” (tebe)

