BACAAJA, SEMARANG- Nasib lembaga pers mahasiswa (LPM/Persma) di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang berbeda dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Usai ada Keputusan Dirjen Pendis Nomor 3814, UIN Semarang langsung menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor 2212 Tahun 2024 tentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan.
Lewat aturan ini, kampus langsung tancap gas memerger atau memaksa menggabungkan LPM di tingkat fakultas ke dalam satu wadah bersama di tingkat universitas.
Baca juga: WR III UIN Walisongo: Soal Merger Ormawa, Tunggu Pejabat Baru
Langkah tersebut dinilai sejumlah aktivis mahasiswa UIN Walisongo terkesan terlalu buru-buru, apalagi saat kampus lain dengan payung kebijakan yang sama justru belum mengambil langkah serupa.
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta misalnya. Aktivitas pers mahasiswa tingkat fakultas di sana tetap berjalan seperti biasa, tanpa ada perubahan struktur atau tekanan untuk merger.
Pemimpin Umum LPM Arena UIN Sunan Kalijaga, Khirza Zubadil Ashrof mengatakan hingga kini belum ada kebijakan terkait wacana merger. “Untuk sekarang belum ada pembatasan ataupun upaya lebih lanjut soal merger,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (3/4/2026).
Masih Sama
Ia menjelaskan, struktur pers mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga masih seperti sebelumnya. LPM di tingkat universitas dan fakultas tetap berjalan masing-masing.
Saat ini, LPM Arena berada di tingkat universitas. Sementara di fakultas, masih aktif LPM Rethor di Fakultas Dakwah dan Komunikasi serta LPM Advokasia di Fakultas Syariah dan Hukum. Ada juga Kalijaga.co yang berada di bawah laboratorium KPI.
“Untuk LPM tingkat fakultas di UIN Sunan Kalijaga masih berjalan seprti sebelumnya,” katanya. Menurutnya, wacana merger memang sempat terdengar, namun belum berkembang lebih jauh hingga saat ini.
Baca juga: Merger Jalan, Kaderisasi Jalan di Tempat: Persma UIN Walisongo Mulai Sepi Peminat
Ia juga menyinggung bahwa saat isu merger pertama kali muncul, UIN Walisongo termasuk yang paling cepat merespons. “Iya, waktu pertama dengar isu itu ya di UIN Walisongo yang terbilang cepat banget geraknya, dan di UIN Jogja waktu itu belum ada respons yang kelihatan,” ujarnya.
Jadi, di satu sisi ada yang langsung “beresin rumah” sebelum tamu datang, di sisi lain masih santai duduk sambil nanya, “emang tamunya jadi datang nggak sih?”, dan di tengah itu, Persma cuma bisa ikut alur: mau diajak lari atau disuruh rebahan. (bae)


