BACAAJA, SEMARANG- Dampak kebijakan merger sembilan lembaga pers mahasiswa (LPM/persma) di UIN Walisongo mulai terasa di berbagai lini. Termasuk di sektor kaderisasi, yang disebut makin sulit.
Pimpinan Umum LPM Edukasi (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan), Ryan Yulianto mengatakan, proses perekrutan anggota baru mengalami penurunan signifikan sejak kebijakan ini berjalan.
“Dari sudut pandang kaderisasi juga mengalami pengaruh yang cukup signifikan. Sulit dalam pengkaderan karena tidak ada ruang lagi untuk mencari anggota baru bagi LPM,” keluhnya saat dihubungi.
Baca juga: Aturan Baru Ancam Eksistensi Pers Mahasiswa Fakultas UIN Walisongo
Ia menyebut jumlah pendaftar anjlok drastis dibanding periode sebelumnya. “Ya, bisa dikatakan penurunannya drastis sekali, karena yang sebelumnya saat open recruitment itu yang daftar 100 lebih, tapi pada perekrutan periode lalu (2025) hanya belasan saja. Bahkan untuk sekadar promosi saja kita tidak diperbolehkan atau dipersulit,” lanjutnya.
Keluhan lain datang dari Pimpinan Umum LPM Justisia dari Fakultas Syariah dan Hukum, Madkur Ikhwan. Ia mengaku kebingungan terkait pola perekrutan anggota baru ke depan setelah adanya merger.
Perekrutan Anggota
“Terus terang kami bingung soal perekrutan anggotanya, karena FPW kan masuknya universitas, otomatis menampung sembilan LPM di UIN Walisongo yang harus bisa mewadahi teman-teman fakultas, tapi dengan adanya merger kita belum tahu mau seperti apa,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak juga terasa dari tidak adanya UKM Expo di tingkat fakultas. UKM Expo ini harusnya jadi promosi strategis untuk menarik minat mahasiswa baru gabung LPM. “Terakhir, dampak merger untuk fakultas tidak ada UKM Expo. Penurunan itu sudah terasa, karena biasanya di atas 40-an, tapi kemarin 20-an. Dan itu tidak hanya LPM saja,” jelasnya
Sementara itu, Pemimpin Umum LPM Frekuensi (Fakultas Sains dan Teknologi), Siti Qummariyah menyebut, dampak merger saat ini masih di tahap awal. Program kerja, menurutnya, masih berjalan seperti biasa.
Baca juga: Dampak Merger 9 LPM, Persma UIN Walisongo Keluhkan Hilangnya Identitas
“Dampak sekarang mungkin baru awal, dari program kerja masih berjalan seperti biasa. Mungkin besok ada perbedaan soal PJTD, PJTL akan digabung, program kerja yang mungkin bersamaan akan digabung,” ujarnya.
Katanya merger biar lebih kuat dan terpusat. Tapi kalau ujungnya malah bikin sepi anggota, jangan-jangan yang berhasil digabung cuma organisasinya, bukan semangat orang-orangnya. (bae)


