BACAAJA, SEMARANG – Jagat X sempat rame gara-gara obrolan soal kebiasaan orang Indonesia yang nggak bisa lepas dari cabai. Mau makan apa pun, rasanya kurang afdol kalau belum ada sambal atau cabai mentah di pinggir piring.
Cerita ini makin viral setelah ada kisah pria asal India yang kaget sama kebiasaan istrinya—orang Indonesia—yang selalu makan pakai cabai. Bukannya kuat, dia malah bolak-balik ke kamar mandi karena nggak tahan pedasnya.
Dari situ, muncul pertanyaan: kenapa sih orang Indonesia bisa sedekat itu sama cabai?
Ternyata, menurut dosen sejarah dari Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, cabai bukan tanaman asli Nusantara. Bumbu pedas ini justru datang dari benua Amerika, dibawa oleh penjelajah Spanyol dan Portugis sekitar abad ke-16.
Tapi karena cocok banget sama iklim tropis, cabai langsung “betah” dan berkembang pesat di Indonesia. Dari situ, muncul berbagai jenis cabai dengan bentuk, ukuran, dan level pedas yang beda-beda.
Di Indonesia sendiri, yang paling populer tentu cabai merah dan cabai rawit. Selain bikin rasa makin nendang, warna merahnya juga bikin makanan terlihat lebih menggoda.
Menariknya, rasa pedas dari cabai justru bisa bikin nafsu makan naik. Walau kepedasan, banyak orang malah ketagihan. Ada sensasi “tersiksa tapi nagih” yang bikin susah berhenti.
Nggak cuma soal rasa, cabai juga punya jejak panjang dalam budaya. Dalam naskah kuno seperti Serat Centhini, cabai disebut sebagai bagian dari sesaji ritual. Bahkan sampai sekarang, dalam tradisi tumpengan atau selamatan, cabai sering muncul sebagai simbol tertentu.
Selain itu, dulu cabai juga dipakai sebagai obat tradisional, mulai dari sakit tenggorokan sampai pegal-pegal.
Jadi, kedekatan orang Indonesia dengan cabai bukan sekadar soal lidah doang. Ada sejarah panjang, budaya, sampai kebiasaan turun-temurun yang bikin cabai jadi “teman makan” wajib.
Nggak heran kalau buat sebagian orang, makan tanpa pedas itu rasanya kayak ada yang kurang—bukan cuma hambar, tapi juga kehilangan identitas kecil di atas piring. (*)

