BACAAJA, SEMARANG- Di halaman kantor Gubernur Jateng, suasana apel kerja terasa kayak “reset button” setelah libur panjang. Luthfi ngingetin, Lebaran bukan cuma soal silaturahmi dan saling memaafkan, tapi juga momen buat ngecas ulang soliditas antarinstansi.
Menurutnya, kerja di pemerintahan itu nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus satu frekuensi, satu ritme. Dari level provinsi sampai kabupaten/kota, semuanya kudu kompak. Soalnya, ngurus warga Jateng itu bukan perkara kecil, wilayahnya luas, jumlah penduduknya juga nggak sedikit.
Baca juga: Halalbihalal Pemprov Jateng Jadi Ajang Konsolidasi Kepala Daerah
“Kerja itu pasti butuh kolaborasi, nggak bisa ego sektoral,” kira-kira begitu penekanan Luthfi. Nggak cuma ngomong soal internal, dia juga nyinggung momen Lebaran yang baru aja lewat.
Jateng lagi-lagi jadi salah satu titik paling sibuk buat arus mudik dan balik. Tapi kabar baiknya, semuanya relatif terkendali. Dari kondisi jalan, program transportasi gratis, sampai pengamanan, semua berjalan cukup mulus.
Kerja Bareng
Bahkan, Luthfi bilang hampir nggak ada komplain berarti dari masyarakat soal infrastruktur jalan selama periode mudik. Selain itu, urusan bahan pokok juga aman terkendali. Stok kebutuhan masyarakat, termasuk bahan bakar, tetap tersedia. Semua itu, katanya, hasil kerja bareng lintas sektor yang nggak saling lempar tanggung jawab.
Atas capaian itu, Luthfi kasih apresiasi ke ASN yang tetap kerja maksimal meski suasana Lebaran. Tapi dia juga ngingetin, jangan cuma kenceng pas momentum doang.
Baca juga: Pemprov-Baznas Salurkan 8.000 Paket Sembako
Menurutnya, jadi ASN itu bukan sekadar kerja administratif, tapi soal pengabdian. Harus peka, responsif, dan nggak nunggu disuruh kalau ada masalah di masyarakat.
Lebaran memang ajang saling maaf-maafan. Tapi kalau habis itu pelayanan publik malah ikut “libur panjang”, ya maafnya jadi terasa setengah-setengah. Karena di mata warga, yang paling dibutuhkan bukan cuma kata “mohon maaf lahir batin”, tapi juga bukti kerja yang nggak ikut cuti. (tebe)


