BACAAAJA, CILACAP – Di pesisir selatan Jawa, ada satu tempat yang kelihatannya biasa saja tapi ternyata penuh cerita. Benteng Pendem Cilacap berdiri diam menyimpan sejarah panjang dari masa kolonial. Dari luar tampak sederhana, tapi di dalamnya justru penuh lorong misterius.
Benteng ini dibangun pada era Hindia Belanda sekitar abad ke-19. Fungsinya dulu sebagai benteng pertahanan untuk mengawasi jalur laut strategis. Lokasinya memang langsung menghadap ke arah perairan selatan.
Nama “Pendem” sendiri punya arti unik. Dalam bahasa Jawa, pendem berarti dikubur atau ditimbun. Sesuai namanya, bangunan ini memang sengaja ditutup tanah sebagai kamuflase.
Teknik ini bikin benteng terlihat seperti hilang dari permukaan. Musuh jadi sulit mendeteksi keberadaannya. Sekaligus memberi perlindungan tambahan dari serangan.
Benteng ini berdiri di titik yang cukup strategis. Bentuk daratannya menjorok ke laut seperti lidah. Posisi ini memudahkan pengawasan kapal yang melintas.
Menariknya, kawasan ini menyimpan dua jejak penjajahan. Selain Belanda, Jepang juga sempat memanfaatkan area ini. Jadi, sejarahnya berlapis dalam satu lokasi.
Benteng sempat lama terkubur sebelum akhirnya digali kembali. Proses penggalian dilakukan sekitar tahun 1980-an. Dari situ, banyak struktur lama kembali ditemukan.
Total ada lebih dari 100 bangunan yang terungkap. Setiap bangunan punya karakter berbeda. Ini menunjukkan perbedaan gaya antara Belanda dan Jepang.
Bangunan Belanda umumnya menggunakan batu bata. Warnanya bervariasi dari merah hingga kekuningan. Sementara Jepang lebih banyak memakai beton.
Di dalam benteng, fasilitasnya cukup lengkap. Ada barak tentara, gudang logistik, hingga penjara. Semuanya masih bisa dilihat hingga sekarang.
Penjara di sini punya dinding tebal sekitar 2,5 meter. Terdiri dari beberapa ruangan dengan kapasitas puluhan orang. Gambaran kerasnya masa lalu terasa cukup kuat.
Salah satu bagian paling menarik adalah lorong bawah tanah. Panjangnya sekitar 150 meter dengan beberapa cabang. Lorong ini dulu dipakai untuk mobilitas tentara.
Di dalamnya juga ada ruang meriam. Bahkan terdapat jalur yang mengarah ke laut. Jalur ini digunakan untuk kondisi darurat.
Banyak cerita beredar soal lorong rahasia. Salah satunya disebut tembus ke Nusakambangan. Tapi cerita ini lebih dianggap sebagai mitos.
Dengan luas sekitar 10 hektare, benteng ini kini jadi situs bersejarah. Statusnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Artinya, keberadaannya dilindungi negara.
Saat bulan Ramadhan, suasana di sini cenderung sepi. Pengunjung yang datang tidak terlalu banyak. Bahkan kadang bisa dihitung jari.
Namun suasana berubah saat Lebaran tiba. Ribuan orang bisa datang setiap hari. Tempat ini jadi salah satu destinasi favorit.
Pengunjung biasanya datang dari berbagai daerah. Mulai dari warga lokal hingga pemudik dari kota besar. Mereka penasaran dengan suasana unik benteng ini.
Spot foto jadi daya tarik utama. Terowongan gelap dan bangunan tua jadi latar favorit. Kadang juga ada rusa yang muncul di area sekitar.
Pengelolaan benteng dilakukan secara mandiri. Tiket masuknya cukup terjangkau. Perawatan juga dilakukan hati-hati agar struktur tetap asli.
Benteng ini buka setiap hari dari pagi sampai sore. Cocok jadi tempat singgah saat melintas jalur selatan. Sekalian napak tilas sejarah sebelum lanjut perjalanan. (*)


