BACAAJA, SEMARANG – Demonstrasi sering dianggap cuma aksi turun ke jalan tanpa rencana. Dua orang dari kampus di Semarang coba mematahkan anggapan itu lewat sebuah buku panduan demo.
Buku berjudul Gerakan Aksi Massa: Panduan Strategi dan Teknik Demonstrasi Efektif ini ditulis dosen Amrizarois Ismail bareng Ketua BEM Soegijapranata Catholic University (SCU) Ariendra Wirya Prananda.
Isinya bukan sekadar teori. Buku ini membahas cara demonstrasi yang rapi, terorganisir, dan tetap berbasis data. Tujuannya supaya mahasiswa dan masyarakat bisa menyampaikan aspirasi dengan cara yang lebih terarah.
Bacaaja: Ribuan Pelajar Papua Kembali Demo Tolak MBG, Serempak Bilang Setuju!
Bacaaja: BREAKING NEWS: 2 Aktivis Demo Pati Divonis 6 Bulan Penjara, tapi Nggak Perlu Dikurung
Rektor SCU periode 2021–2025, Ferdinandus Hindiarto, menilai buku ini penting buat melatih sikap kritis mahasiswa. Menurut dia, aksi massa seharusnya diawali riset isu, data yang kuat, dan solusi yang jelas.
Editor buku, Benny Danang Setianto, juga menekankan pentingnya struktur dan aturan hukum dalam aksi. Demonstrasi, kata dia, tetap harus berjalan dalam koridor demokrasi dan tanggung jawab.
Di dalam buku itu dijelaskan banyak hal teknis. Mulai dari pembagian peran dalam aksi seperti korlap dan orator, sampai tim pendamping hukum dan kesehatan.
Ada juga panduan soal prosedur pemberitahuan aksi ke polisi dan cara mencegah provokasi yang bisa bikin demo ricuh. Bahkan dibahas juga aktivisme digital, seperti petisi online dan kampanye lewat media sosial.
Ariendra bilang, ukuran keberhasilan aksi bukan cuma soal banyaknya massa. Yang lebih penting adalah strategi advokasi, jaringan, dan ketajaman isu yang diperjuangkan.
“Pembaca diajak untuk menjadi massa aksi yang cerdas, mampu memverifikasi kebenaran isu, serta mengutamakan kepentingan publik di atas agenda kelompok tertentu,” katanya. (bae)


