BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang menorehkan catatan positif di sektor pendidikan. Bukan cuma soal pemerataan akses sekolah, tapi juga soal cara mengelola penerimaan siswa baru yang lebih rapi dan transparan.
Lewat kebijakan melibatkan sekolah swasta dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Pemkot berhasil meningkatkan daya tampung siswa hingga 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini sekaligus mengurangi ketergantungan calon siswa pada sekolah negeri yang selama ini sering jadi rebutan.
Capaian tersebut diganjar dua penghargaan dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jateng. Penghargaan diterima oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Muhammad Ahsan, dari Kepala BBPMP Jateng Nugraheni Triastuti, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus
Menurut Agustina, penghargaan ini bukan sekadar simbol, tapi bukti bahwa tata kelola pendidikan di Kota Semarang terus diarahkan lebih inklusif dan terbuka. “Pemkot Semarang sangat mengapresiasi penghargaan ini. Ini hasil kerja bersama semua pihak untuk mewujudkan visi Semarang Cerdas melalui pemerataan akses pendidikan,” kata Agustina.
Penghargaan pertama yang diraih adalah kategori Kinerja Terbaik Pelibatan Sekolah Swasta dan Kepatuhan Rombel SPMB. Lewat kebijakan ini, sekolah swasta tak lagi diposisikan sekadar alternatif, tetapi menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan kota. Dengan cara itu, distribusi siswa menjadi lebih merata dan tidak menumpuk di sekolah negeri.
“Pelibatan sekolah swasta adalah langkah strategis agar tidak ada anak yang tertinggal mendapatkan akses pendidikan. Dengan skema ini, daya tampung siswa bisa naik sampai 15 persen,” jelasnya.
Program Prioritas
Selain itu, Kota Semarang juga meraih penghargaan Sinergi dan Kolaborasi Program Prioritas Kemendikdasmen. Penghargaan ini diberikan karena dinilai cepat dan patuh dalam menjalankan berbagai program prioritas pemerintah pusat, mulai dari peningkatan mutu pembelajaran hingga perluasan akses pendidikan.
Agustina menegaskan, sektor pendidikan tetap menjadi prioritas utama pemerintah kota. “Kami terus memperkuat sinergi dengan program nasional agar kualitas pendidikan di Semarang sejalan dengan standar nasional, bahkan bisa melampauinya lewat berbagai inovasi daerah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap jumlah rombongan belajar (rombel) dalam SPMB. Menurutnya, menjaga jumlah siswa di kelas sesuai aturan penting agar proses belajar tetap efektif dan nyaman bagi siswa maupun guru.
Baca juga: Anak Semarang Udah Nggak Takut Sekolah!
“Dengan tidak memaksakan jumlah siswa di luar kuota, proses belajar bisa lebih kondusif dan kualitas pendidikan tetap terjaga,” katanya. Ke depan, Pemkot Semarang berharap capaian ini menjadi motivasi untuk terus menjaga integritas dalam sistem penerimaan siswa baru. Tujuannya sederhana: memastikan setiap anak punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Di tengah riuhnya cerita bangku sekolah yang sering jadi rebutan tiap tahun, langkah Semarang ini seolah memberi pesan sederhana: kalau daya tampung diperbanyak dan aturan dijaga, mungkin drama PPDB bisa mulai dikurangi, atau setidaknya, tidak lagi jadi tontonan saban tahun. (tebe)


