BACAAJA, SEMARANG- Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen mendorong akselerasi pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai solusi konkret persoalan sampah yang tak kunjung usai. Bukan cuma soal kebersihan wilayah, tapi juga soal energi alternatif.
Dorongan itu disampaikan saat menerima audiensi jajaran direksi PT Semen Gresik di Kantor Wagub Jateng, Kota Semarang, Senin (23/2/2026). Menurut Taj Yasin, persoalan sampah sudah jadi perhatian serius pemerintah pusat, termasuk Presiden RI, Prabowo Subianto. Artinya, daerah nggak bisa santai. Harus ada langkah nyata, bukan sekadar wacana.
Baca juga: MBG Bikin Sampah Kian Menumpuk, Pemprov Jateng Akui Banyak Makanan Terbuang Sia-sia
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan sektor industri. Dalam hal ini, PT Semen Gresik diharapkan bisa menyerap hasil olahan sampah dari kabupaten/kota dalam bentuk RDF sebagai bahan bakar alternatif pengganti fosil.
Gayung bersambut. Direktur Utama PT Semen Gresik, Gatot Mardiana memastikan pihaknya tengah mempercepat kesiapan infrastruktur agar RDF bisa langsung dipakai di lini produksi.
Proyek Percontohan
Saat ini, kerja sama sudah terjalin dengan enam kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kabupaten Rembang jadi proyek percontohan yang progresnya paling ngebut. “Secara teknis kami sudah siap. Untuk Rembang, kalau tidak ada kendala, produksi mulai April 2026 dan targetnya bisa masuk pasar awal 2027,” ujar Gatot.
Meski begitu, ia mengakui masih ada PR yang nggak kecil: sinkronisasi antara kesiapan industri dan pemerintah daerah. Soalnya, sampah yang mau dijadikan bahan bakar harus memenuhi standar tertentu. Nggak bisa asal bakar.
Baca juga: Solo Darurat Sampah? Respati Serukan Gerakan Besar: Beresin Mulai dari Hulu!
Bagi perusahaan, penggunaan RDF bukan cuma demi memenuhi target administratif atau sekadar ikut tren energi hijau. Ini juga bagian dari komitmen menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.“Kami sudah investasi untuk mendukung pemakaian RDF itu sendiri,” tegas Gatot.
Kalau kolaborasi ini benar-benar jalan mulus, bukan nggak mungkin tumpukan sampah yang selama ini bikin pusing kepala bisa berubah jadi bahan bakar yang bernilai. Karena pada akhirnya, sampah itu cuma soal sudut pandang: mau terus jadi masalah, atau naik kasta jadi energi. Tinggal pilih, dibiarin numpuk atau dibikin nyala. (tebe)


