BACAAJA, SEMARANG – Ramadhan itu tiap tahun datang, tapi nggak semua orang benar-benar “datang” menyambutnya. Ada yang puasanya jalan, sahurnya bangun, bukanya tepat waktu, tapi hatinya terasa biasa saja. Nggak ada getar, nggak ada rindu, nggak ada target berubah.
Padahal bulan ini sering disebut sebagai momen reset paling besar dalam hidup seorang muslim. Waktu di mana pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dibuka lebar, dan kesempatan memperbaiki diri terasa begitu dekat. Tapi tetap saja, ada yang melewatinya seperti lewat bulan biasa.
Dalam sebuah ceramah, pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, menyinggung soal siapa saja yang sebenarnya merugi di bulan suci ini. Ucapannya sederhana, tapi cukup bikin mikir dalam.
Menurutnya, orang yang tidak punya rasa rindu pada Ramadhan patut khawatir pada dirinya sendiri. Ramadhan itu tamu agung. Kalau tamu istimewa datang tapi kita biasa saja, bahkan nggak antusias, ada yang perlu dibereskan di dalam hati.
Ceramah tersebut dirangkum dari tayangan di kanal YouTube Al Bahjah. Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, tapi kesempatan emas yang belum tentu terulang.
Banyak orang menjalani Ramadhan hanya sebatas formalitas. Puasa iya, tapi kebiasaan lama tetap dipelihara. Lisan masih mudah menyakiti, waktu habis untuk hal sia-sia, dan ibadah tambahan terasa berat.
Inilah barisan orang yang sebenarnya rugi di bulan Ramadhan. Mereka yang masuk bulan suci tanpa target apa pun, lalu keluar darinya tanpa perubahan apa pun. Nggak ada peningkatan, nggak ada evaluasi, nggak ada perbaikan.
Ramadhan seharusnya jadi ruang refleksi. Tempat kita jujur pada diri sendiri. Sudah sejauh mana hubungan dengan Allah? Sudah berapa banyak dosa yang ditinggalkan? Atau jangan-jangan, masih nyaman dengan kebiasaan lama?
Puasa bukan cuma menahan lapar dan haus. Kalau cuma itu, semua orang yang diet juga bisa. Tapi esensi puasa adalah menahan diri dari yang haram, yang sia-sia, dan yang merusak hati.
Ada juga yang sibuk berburu takjil, sibuk buka bersama, sibuk update media sosial, tapi lupa memperbaiki kualitas sholatnya. Ramadhan jadi ramai di luar, tapi kosong di dalam.
Buya Yahya mengingatkan, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan seberapa sering kita upload momen ibadah, tapi seberapa dalam perubahan itu terasa setelahnya. Apakah kita jadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih ringan membantu orang lain?
Orang yang beruntung di bulan ini biasanya terlihat dari perubahan kecil yang konsisten. Dulu jarang ke masjid, sekarang lebih rajin. Dulu mudah marah, sekarang lebih tenang. Dulu pelit, sekarang lebih dermawan.
Sebaliknya, orang yang merugi adalah mereka yang tetap sama seperti sebelum Ramadhan. Sholat masih bolong, maksiat masih jalan, hati masih keras. Seolah-olah Ramadhan hanya numpang lewat tanpa bekas.
Ada juga yang merasa aman karena sudah puasa penuh, tapi lupa mengevaluasi kualitas puasanya. Padahal bisa jadi, yang didapat hanya lapar dan haus, tanpa pahala maksimal karena sikap dan lisannya tak dijaga.
Ramadhan sering disebut sebagai madrasah kehidupan. Tempat belajar mengendalikan diri, mengatur waktu, dan melatih empati pada yang kekurangan. Kalau lulusannya nggak berubah, berarti ada yang salah dalam prosesnya.
Yang bikin sedih, kesempatan bertemu Ramadhan bukan jaminan tiap tahun. Banyak yang tahun lalu masih semangat tarawih, tapi tahun ini namanya tinggal kenangan. Umur itu rahasia.
Karena itu, siapa pun yang masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan harusnya merasa beruntung. Ini bukan rutinitas biasa, ini kesempatan langka yang bisa jadi yang terakhir.
Jangan sampai Ramadhan berlalu dan kita cuma ingat menu buka puasanya, bukan momen taubatnya. Jangan sampai yang tersisa hanya foto-foto kebersamaan, tapi nggak ada cerita perubahan dalam diri.
Buya Yahya menegaskan, yang paling rugi adalah orang yang tidak mendapatkan ampunan di bulan penuh ampunan. Bayangkan, diskon dosa besar-besaran sedang dibuka, tapi kita malah cuek.
Ramadhan itu bukan soal ramai-ramai, bukan soal tren, bukan soal gaya hidup musiman. Ini soal hati dan kesungguhan. Soal mau berubah atau tidak.
Akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi dalam: setelah Ramadhan selesai nanti, kita mau jadi versi yang sama, atau versi yang lebih baik? Karena yang benar-benar rugi bukan yang tak punya harta, tapi yang melewati Ramadhan tanpa makna. (*)


