BACAAJA, PURWOREJO – Suasana tenang di Desa Trirejo, Kecamatan Loano, mendadak berubah jadi kepanikan. Puluhan warga dilaporkan mengalami gejala mirip keracunan massal setelah menghadiri acara ruwahan pada Minggu (15/2/2026) malam.
Pemerintah desa pun tak mau ambil risiko. Posko pelayanan kesehatan darurat langsung didirikan agar penanganan bisa dilakukan cepat dan terpusat.
Sekretaris Desa Trirejo, Fabrian Mahendra, mengatakan laporan pertama datang dari warga pada Senin sekitar pukul 14.00 WIB.
Bacaaja: Jumlah Korban Diduga Keracunan MBG di Kudus Jadi 118 Orang
Bacaaja: Korban Keracunan MBG di Majene Merata: Mulai Ibu Hamil, Balita, hingga Siswa Sekolah
“Kami menerima informasi ada warga yang muntah dan diare. Setelah itu langsung kami lakukan penelusuran dan pendataan,” ujarnya.
Hasilnya bikin kaget. Total 68 warga tercatat mengalami keluhan, mulai dari muntah, diare, sakit perut, sampai pusing.
“Kami buka posko supaya penanganan lebih mudah. Kalau ada gejala berat, langsung kami arahkan ke fasilitas kesehatan,” tambah Fabrian.
Diduga berawal dari hidangan acara
Penelusuran sementara mengarah pada hidangan yang dibagikan dalam acara ruwahan salah satu warga selepas Maghrib. Awalnya, makanan hanya disajikan untuk sekitar 64 tamu undangan.
Namun jumlah korban membengkak setelah sebagian makanan dibawa pulang dan disantap bersama keluarga.
Menu diketahui berasal dari jasa katering lokal di wilayah Kabupaten Purworejo. Meski saat diterima makanan disebut masih hangat, penyebab pasti dugaan kontaminasi masih diselidiki.
Gejala mulai muncul bertahap sejak malam hari dan memuncak menjelang subuh, pola yang langsung memicu kewaspadaan aparat desa.
Posko darurat ditempatkan di rumah salah satu perangkat desa agar mudah dijangkau warga. Penanganan dilakukan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Loano serta tim medis rumah sakit setempat.
Aparat keamanan dari Polsek Loano dan Koramil Loano juga ikut diterjunkan untuk membantu pendataan sekaligus menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami terus monitoring. Kalau masih ada warga yang merasakan gejala, segera lapor ke posko,” tegas Fabrian.
Hingga Senin sore, kondisi desa dilaporkan mulai terkendali. Meski begitu, warga diminta tetap tenang sambil menunggu hasil pemeriksaan resmi dari instansi kesehatan terkait.
Satu hal yang jadi pengingat: acara kebersamaan memang membawa hangatnya silaturahmi, tapi soal keamanan makanan, kewaspadaan tetap nomor satu. (*)


