BACAAJA, SEMARANG – Sampah plastik sekali pakai masih jadi masalah klasik di perkotaan. Tapi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 29 punya cara kreatif buat ikut mengatasinya.
Mereka menggelar pelatihan pembuatan ecobrick bareng ibu-ibu PKK di Balai RW Kelurahan Pedurungan Lor, Kecamatan Pedurungan.
Program ini masuk dalam rangkaian pengabdian bertajuk “KKN Mengabdi” dengan tema “Sigap Berkarya Nyata.” Lewat kegiatan ini, mahasiswa ingin menunjukkan kalau sampah plastik yang biasanya cuma dibuang ternyata masih bisa diubah jadi barang bermanfaat.
Buat yang belum familiar, ecobrick adalah teknik mengolah sampah plastik dengan cara memotongnya kecil-kecil lalu memadatkannya ke dalam botol plastik bekas sampai keras seperti batu bata. Tujuannya simpel: mencegah plastik mencemari tanah dan saluran air.
Selama pelatihan yang digelar pada Selasa (3/2/2026) pekan lalu, para ibu PKK diajak langsung praktik. Mereka membawa berbagai sampah plastik dari rumah, mulai dari bungkus deterjen, kemasan camilan, sampai kantong kresek.
Setelah dibersihkan dan dikeringkan, plastik dimasukkan ke botol lalu dipadatkan pakai tongkat kayu.
Hasilnya? Botol-botol padat itu nantinya bisa disusun jadi furnitur sederhana, seperti kursi, meja, bahkan dekorasi taman. Lumayan, dari sampah bisa jadi sesuatu yang estetik sekaligus fungsional.

Koordinator KKN UPGRIS Kelompok 29, Liza Veronika, mengatakan program ecobrick dipilih karena volume sampah rumah tangga di wilayah tersebut tergolong tinggi.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang praktis dan murah. Ecobrick tidak butuh biaya besar, tapi dampaknya bisa terasa untuk mengurangi tumpukan sampah. Harapannya, ibu-ibu PKK bisa mengelola limbah domestik secara mandiri,” jelas Liza, Senin (9/2/2026).
Ia juga berharap pola pikir masyarakat bisa mulai bergeser—plastik bukan cuma sampah, tapi juga material alternatif yang masih punya nilai guna.
Respons warga pun terbilang positif. Ketua PKK Kelurahan Pedurungan Lor, Ibu Jimy, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama ini plastik biasanya langsung dibakar atau dibuang. Ternyata bisa diolah jadi kursi yang kuat dan cantik. Pelatihannya juga gampang diikuti dan jadi kegiatan positif buat ibu-ibu,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya berencana menjadikan ecobrick sebagai program rutin di setiap dasawisma agar lingkungan Pedurungan Lor makin bersih dan nyaman.
Lewat kolaborasi ini, mahasiswa KKN UPGRIS berharap gerakan ecobrick bisa terus berlanjut dan jadi kebiasaan baru di masyarakat. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan nggak harus selalu lewat langkah besar, aksi kecil yang konsisten juga bisa bikin perubahan nyata. (*)


