BACAAJA, JAKARTA- Penjual es gabus bernama Suderajat (50), mengaku belum berani kembali berjualan. Trauma masih nempel, meski Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang sempat menuding dagangannya berbahan spons akhirnya menyampaikan permintaan maaf.
Polres Metro Depok bahkan mencoba “menebus kesalahan” dengan memberikan bantuan motor dan modal usaha. Tapi buat Suderajat, luka batin akibat tuduhan yang keburu viral itu belum bisa sembuh cepat. Ia mengaku khawatir dengan keselamatannya jika kembali mangkal jualan.
“Takut digebuk pakai kayu atau apa itu. Entar saya mati konyol,” ujarnya, Selasa (28/1/2026). Bukan cuma soal ancaman fisik, stigma juga bikin Suderajat makin waswas. Ia takut dagangannya sudah telanjur dicap negatif oleh warga. “Takut dibilang es racun,” imbuh pria yang tinggal di Bojonggede, Bogor ini.
Kasus ini bermula dari video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang polisi dan Babinsa menginterogasi Suderajat. Dalam video tersebut, es gabus yang dijual dituduh mengandung spons atau PU Foam, bahkan sempat dibakar dan disebut berbahaya.
Menyebar Cepat
Video itu menyebar cepat dan bikin publik geger. Belakangan, polisi mengakui kesalahan. Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. “Kami menyadari telah menyimpulkan terlalu cepat,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan es gabus tersebut aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya. Polisi pun menegaskan tuduhan sebelumnya tidak benar.
Namun klarifikasi datang belakangan. Dampaknya, rasa takut sudah terlanjur tertanam. Hingga kini, Suderajat masih belum yakin bisa kembali berjualan seperti dulu.
Es gabusnya sudah dinyatakan aman. Yang masih berbahaya justru satu hal: tuduhan cepat, klarifikasi belakangan, dan trauma yang keburu melekat di kepala orang kecil. (bae)


