Hidar Amaruddin, dosen FIP Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.
Yang berbahaya ialah, masalah yang menimpa anak sering kali masuk ke ruang grup WA itu dalam bentuk yang setengah matang: potongan cerita, potongan kejadian, kadang cuma kesan.
Pukul 21.47, grup WA kelas di sekolah tiba-tiba ramai. Notifikasi seperti hujan kecil yang jatuh terus-menerus. Seorang ibu yang baru selesai menjemur baju membaca satu pesan, lalu berhenti di kalimat yang sama tiga kali. “Mohon orang tua lebih memperhatikan perilaku anaknya.” Beberapa detik kemudian muncul balasan. “Anaknya siapa, Bu? Biar jelas.”
Di banyak kelas, grup WA kelas dibuat untuk koordinasi antara guru dengan orang tua peserta didik. Dari tugas, jadwal, hingga pengumuman penting. Tapi pelan-pelan ia berubah jadi ruang penghakiman. Bukan karena orang tua suka ribut, melainkan karena semua orang sedang cemas, dan grup WA jadi gelanggang pelampiasan.
Bagi masyarakat kota, waktu seringkali begitu mampat. Tiap orang punya kesibukan masing-masing. Tenaga habis di pekerjaan. Orang tua pulang dari tempat kerja dengan kepala penuh, guru pulang dengan badan lelah, dan anak pulang membawa sisa-sisa emosi dari sekolah.
Grup WA lalu menjadi tempat menumpahkan kekesalan. Yang berbahaya ialah, masalah yang menimpa anak sering kali masuk ke ruang grup WA itu dalam bentuk yang setengah matang: potongan cerita, potongan kejadian, kadang cuma kesan.
Bunga-bunga percakapan muncul menjadi gosip. Dari situ gosip muncul bukan sebagai gosip yang heboh, melainkan gosip halus yang terdengar sopan. Kalimat seperti “anak-anak tertentu sering mengganggu” kelihatan aman. Namun, di kepala orang tua lain, “anak-anak tertentu” cepat punya wajah. Bahkan labelnya sering sudah tersedia sebelum cerita utuh selesai: “memang dari dulu begitu”, “kalau anak itu ya wajar”, “pantas saja”.
Sementara di rumah, anak bisa tiba-tiba diminta mengaku tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dipersoalkan. “Kamu tadi bikin ulah lagi, ya?” Padahal ia mungkin sedang salah paham, sedang belajar berteman, atau sedang meniru candaan yang ia lihat dari mana-mana.
Guru berada di posisi paling terjepit. Ia ingin menjaga kelas tetap kondusif, tapi ia juga manusia yang punya batas. Sekali ia menegur secara menggeneralisir, di grup WA kelas misalnya, orang tua akan bereaksi dengan meminta kejelasan nama yang dimaksud. Sekali ia menyebut nama, ia dianggap mempermalukan.
Di layar WA, nada suara gampang dibaca sebagai amarah. Diam sebentar dianggap menghindar. Balas terlalu cepat dianggap defensif. Kepala sekolah pun ikut menanggung bayang-bayang lain: nama baik sekolah. Karena satu tangkapan layar bisa beredar lebih cepat daripada klarifikasi.
Kalau dipikir-pikir, grup WA kelas ini seperti sentra tambahan dalam kehidupan anak: rumah, sekolah, lalu layar. Di situlah keputusan kecil dibuat, emosi disulut, dan “kebenaran” sering disusun dari serpihan. Maka yang perlu dijaga bukan hanya etika berkomunikasi, tapi juga kebiasaan menahan diri sebelum menilai.
Yang paling sederhana: pisahkan koordinasi dan evaluasi. Pengumuman ya pengumuman. Kalau ada masalah perilaku, sebaiknya lewat jalur pribadi, bukan di dalam forum. Lalu kendalikan jempol sebelum mengirim pesan. Kalau masih ragu, tanya guru terlebih dulu. Jangan mengundang tebak-tebakan di dalam grup, sebab bisa seperti bola liar yang bisa menyinggung siapa saja.
Dengan menuliskan “anak-anak tertentu”, itu seperti melempar umpan dan cepat sekali berubah jadi perburuan. Dan bagi orang tua, sebelum bereaksi sebaiknya ajak anak bicara dengan pertanyaan yang tidak bersifat menginterogasi. “Tadi di sekolah ada kejadian apa?” misalnya. Jangan langsung memvonis dengan pertanyaan “kamu bikin masalah apa?”
Sejatinya, grup WA kelas bisa jadi ruang kerja sama yang hangat bagi orang tua maupun guru. Tapi kalau tidak dijaga baik-baik justru akan menjelma ruang sidang, tempat kita ramai-ramai merasa paling benar. Dan ketika orang dewasa sibuk mengadili di layar, anak-anak belajar satu pelajaran hidup yang keliru: kesalahan bukan untuk dipahami, melainkan untuk diumumkan. Mari lebih bijak dalam memanfaatkan grup WA kelas. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


