BACAAJA, SEMARANG- Warga Kota Semarang kompak menggelar kerja bakti membersihkan Kali Banger sebagai langkah antisipasi risiko banjir. Aksi bersih-bersih ini tak cuma bermodal sapu dan karung, tapi juga didukung penuh oleh Pemerintah Kota Semarang dengan menurunkan alat berat.
Pemkot Semarang mengerahkan backhoe untuk mengeruk endapan tanah dan sampah berukuran besar yang selama ini menghambat aliran sungai. Saat meninjau langsung kerja bakti sekaligus kondisi talut Kali Banger, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyebut kondisi sungai sudah cukup memprihatinkan karena dipenuhi sampah dan sedimentasi.
Limbah yang menumpuk itu kemudian dikeruk menggunakan ekskavator agar tidak menyumbat aliran air. “Sambil tadi ada yang nggak bisa diselesaikan oleh masyarakat, kita harus bawa truk, harus bawa backhoe. Dan kita juga menganggarkan untuk pembetulan talut,” ujar Agustina, Senin (26/1/2026).
Baca juga: Delapan Pompa Ngebut Sedot Banjir Semarang
Kerja bakti ini melibatkan warga yang tinggal di bantaran Kali Banger bersama jajaran Pemkot Semarang. Warga membersihkan sampah rumah tangga dan material ringan secara manual, sementara alat berat difokuskan untuk mengangkat lumpur, tanah, dan sampah besar.
Pengerahan backhoe dinilai sangat membantu mempercepat proses normalisasi sungai. Pasalnya, endapan yang menumpuk selama ini menyebabkan pendangkalan dan berpotensi memicu genangan saat hujan deras.
Kepedulian Lingkungan
Pemkot Semarang pun mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat yang ikut turun tangan menjaga kebersihan sungai. Sinergi antara warga dan pemerintah ini diharapkan bisa jadi contoh kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Selain membersihkan sungai, kerja bakti ini juga jadi pengingat penting agar masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Dengan kondisi Kali Banger yang lebih bersih dan alirannya lancar, kualitas lingkungan dan kenyamanan warga sekitar diharapkan ikut meningkat.
Baca juga: Atasi Banjir Semarang, Agustina Wilujeng Bangun Rumah Pompa Baru di Petudungan
“Kami Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan serupa di berbagai wilayah sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir dan pelestarian lingkungan perkotaan,” kata Agustina.
Hari itu, Kali Banger jadi saksi: urusan banjir nggak bisa diserahkan ke hujan saja. Warga sudah turun, alat berat sudah jalan, tinggal satu PR yang belum kelar: jangan sampai sungai dibersihkan pagi ini, lalu sore harinya jadi tempat buang sampah lagi. Karena sungai bukan tempat penitipan dosa lingkungan. (tebe)


