BACAAJA, SEMARANG – Beberapa tahun terakhir, drama China dengan formula CEO tajir jatuh cinta ke perempuan sederhana makin menjamur. Alurnya simpel, nggak ribet, tapi entah kenapa selalu bikin penonton betah. Sosok pria superkaya datang sebagai penyelamat, bantu dari nol, lalu berakhir cinta-cintaan.
Cerita model begini jadi senjata andalan di platform digital, terutama video berdurasi pendek. Tinggal buka aplikasi, scroll sebentar, pasti ketemu kisah CEO dingin tapi perhatian ke cewek miskin yang hidupnya penuh drama.
Popularitasnya memang gila-gilaan. Banyak yang ngerasa cerita ini gampang dicerna, emosinya cepat nyantol, dan cocok buat hiburan ringan setelah capek seharian.
Tapi seiring makin sering muncul, kritik pun berdatangan. Nggak sedikit penonton yang mulai sadar kalau ceritanya terlalu jauh dari realita. Uang digambarkan seolah bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk luka batin dan urusan cinta.
Genre ini juga dinilai bikin ekspektasi palsu. Seakan-akan kebahagiaan cuma bisa datang kalau ketemu orang kaya dan berkuasa. Dari sinilah polemik mulai melebar.
Drama CEO dan perempuan miskin biasanya tayang di platform video singkat seperti Douyin hingga WeTV. Formatnya singkat, ceritanya cepat, dan penuh adegan dramatis yang sengaja bikin penonton penasaran.
Di balik viralnya, pemerintah China akhirnya turun tangan. Mereka merilis pedoman baru untuk mengatur mini drama romantis dengan tema CEO dan si miskin.
Aturan ini menegaskan agar konten tidak mempromosikan pandangan yang memuliakan pernikahan dengan orang kaya atau keluarga berkuasa. Kisah pamer harta dan kekuasaan juga diminta untuk dikurangi.
Pemerintah juga memperingatkan pembuat konten agar tidak sengaja menampilkan kemewahan berlebihan hanya demi sensasi. Hal ini disorot karena dianggap bisa membelokkan nilai sosial.
Pedoman tersebut dirilis oleh Administrasi Radio dan Televisi Nasional China. Isinya menekankan pentingnya realisme dalam produksi drama pendek, khususnya yang mengangkat karakter CEO.
Pembuat drama diminta tidak membungkus kisah fiktif dengan label seolah-olah kisah nyata. Cerita CEO jatuh cinta pada perempuan miskin dikhawatirkan merusak persepsi publik tentang dunia usaha.
Fenomena ini dinilai mendorong budaya romantis instan. Kesuksesan cepat, cinta cepat, dan hidup mewah tanpa proses jadi gambaran yang terus diulang.
Karena itu, pemerintah melarang menjadikan kekayaan sebagai pusat cerita. Fokus cerita diminta lebih sehat dan relevan dengan kehidupan nyata.
Ke depan, pembuat drama diharapkan mengangkat tema lain, seperti sejarah, perjuangan hidup, atau kisah masa kini yang lebih membumi. Cerita CEO bukan cuma soal cinta dan konflik keluarga.
Jumlah mini drama juga diminta dikurangi, tapi kualitasnya ditingkatkan. Judul bombastis seperti “CEO Dominan” pun diminta tidak lagi dipakai sebagai umpan klik.
Konten yang memamerkan kekuasaan, materialisme, dan hedonisme dianggap perlu ditekan. Pemerintah ingin tontonan publik tidak lagi mengidolakan kekayaan semata.
Selain itu, mini drama diminta tidak mempromosikan kesuksesan instan atau kekayaan yang datang tanpa usaha. Nilai-nilai realistis jadi kunci utama.
Langkah ini pun memancing beragam reaksi. Ada yang setuju demi tontonan lebih sehat, ada juga yang merasa hiburan favoritnya jadi dibatasi. Kalau menurutmu, aturan ini perlu atau malah kebanyakan ngatur? (*)


