BACAAJA, AMERIKA SERIKAT – Mark Zuckerberg belakangan jadi perbincangan gara-gara aksi uniknya ke para tetangga. Bos Facebook itu ketahuan bagi-bagi “berkat” saat merenovasi properti miliknya di kawasan Crescent Park, Palo Alto, Amerika Serikat.
Aksinya sekilas mirip tradisi masyarakat Jawa saat bangun rumah. Bedanya, isi berkat versi Zuckerberg jelas jauh dari kata sederhana. Bukan nasi berkat atau jajanan pasar, tapi paket berisi headphone peredam bising, minuman bersoda, dan donat.
Bingkisan itu dibagikan sebagai bentuk permintaan maklum sekaligus kompensasi atas suara bising proyek renovasi yang sudah berlangsung cukup lama. Harapannya, para tetangga bisa tetap nyaman meski aktivitas konstruksi jalan terus.
Headphone peredam bising jadi item paling mencuri perhatian. Perangkat ini dimaksudkan agar warga sekitar tetap bisa tenang walau suara alat berat kerap terdengar dari area proyek.
Namun, “berkat” tersebut rupanya belum sepenuhnya meluluhkan hati tetangga. Sejumlah warga masih mengeluhkan kebisingan yang tak kunjung berhenti, penutupan jalan, hingga puing bangunan yang bikin lingkungan terlihat semrawut.
Keluhan lain juga muncul soal perubahan suasana lingkungan. Kawasan yang dulu tenang kini dipenuhi kamera pengawas, pengamanan ketat, dan patroli rutin, imbas dari sistem keamanan properti Zuckerberg.
Tak sedikit pula yang menyoroti sejumlah rumah milik Zuckerberg yang dibiarkan kosong, di tengah kondisi krisis perumahan yang melanda wilayah tersebut.
Selama lebih dari satu dekade terakhir, Zuckerberg tercatat menggelontorkan dana fantastis untuk membeli belasan rumah di kawasan itu. Sebagian diubah jadi rumah tamu, taman luas, lapangan olahraga, hingga kolam renang.
Proyek pembangunan yang nyaris tak ada jedanya ini disebut sudah berjalan hampir delapan tahun. Bagi warga sekitar, situasi itu cukup menguras kesabaran.
Pihak Zuckerberg sendiri menyebut sudah berupaya meminimalkan gangguan, bahkan mengklaim melampaui kewajiban yang ditetapkan pemerintah setempat. Meski begitu, bagi sebagian tetangga, “berkat” mahal belum tentu sebanding dengan rasa nyaman yang hilang. (*)

