Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah

Redaktur Opini
Last updated: Desember 31, 2025 8:44 am
By Redaktur Opini
12 Min Read
Share
Sumber: Foto diolah dari Kompas.id
SHARE

Widyanuari Eko Putra, buruh swasta dan periset lepas. Tinggal di Batursari, Demak.

Kekecewaan demi kekecewaan, kekalahan demi kekalahan, telah membuatnya sadar bahwa hidup tak pernah linear dengan utopia dan keinginan.

 

Lelaki itu duduk sepelemparan kerikil di depan saya. Berkaus hitam bergambar NAS Illmatic, celana abu-abu tua, dan bersepatu Converse klasik. Pendaran matahari sore jatuh ke wajahnya. Tapi tampaknya ia tak peduli. Di tangannya sebuah mikrofon mode on, dan ia bercerita panjang lebar tentang buku yang sudah ia rilis tahun ini. Setiap Api Membutuhkan Sedikit Bantuan, judulnya.

Saya dengan separuh kekaguman dan sisanya lagi penghormatan menyaksikan lelaki setengah baya itu berbicara. Banyak lelaki hidup sampai tua, tetapi tak banyak yang menjadi keren di usia senja mereka. Kebanyakan dari mereka menjadi tua dengan menyebalkan, keras kepala, dan dikepung pikiran overthinking yang tak masuk akal. Ia justru jauh dari hal-hal barusan.

Lelaki itu masih menulis buku, artinya ia masih percaya gagasan mesti dicetak di atas kertas. Telinganya masih ramah menyambut dentuman album-album berisik yang ia rilis di label musik indie yang ia nakhodai, Grimloc Records. Dan satu hal yang membuat mulutnya masih relevan untuk didengarkan ialah, ia fasih memaparkan persoalan dan relasi pelik dalam konstelasi budaya, politik, dan musik, dengan bahasa yang mudah dipahami. Sampai di sini saja ia kategori sosok istimewa.

Tua tidak menjadikannya gampang omong besar. Meskipun ia akui sendiri pikun mulai merayapi isi kepalanya. Dari suaranya mengisyaratkan ia telah banyak melewati pengalaman buruk. Tegas dan berwibawa, tapi di saat bersamaan menyeruak gelagat kerapuhan. “Akui saja kita rapuh,” ucapnya di sela-sela diskusi. Cara ia mengisap rokok kretek pun memperjelas kesan bahwa ia masih punya banyak kegelisahan yang belum sempat tercurahkan.

Sementara itu sambil menyimak ia bicara, di tangan saya segelas es amerikano tinggal setengah isi gelas.  Perpaduan es dan ekspressonya pas, menurut saya ini termasuk racikan yang enak. Saya lalu melolos sebatang Sampoerna Mild dan membakarnya ujungnya pelan-pelan. Mengisap dalam-dalam asapnya sambil mencermati ucapan yang barusan meloncat dari mulut Herry Sutresna alias Ucok Homicide.

Tak perlu saya jelaskan siapa ia. Hape di tanganmu bisa menjelaskan banyak hal tentangnya, jauh melebihi pengetahuan tentangnya yang telanjur terselip di batok kepala saya. Sebenarnya, tergolong terlambat saya kenal namanya. Semua bermula dari keisengan belaka.

Kala itu saya membeli CD Morgue Vanguard x DoyZ lantaran sampulnya yang ikonik. Foto seorang bocah kurus tampak tengah berpose joget break dance dengan lentur. Saya tak bisa bilang menyukai lagu-lagu di album ini, meski saya pastikan saya menyukai liriknya. Dan Ucoklah juru kunci di balik lirik-lirik performatif di album itu.

Petang itu, Sabtu 13 Desember 2025 yang cerah di Kancane Kafe, Sleman. Sebuah kafe yang luas dan nyaman. Lalu lalang kendaraan tak terdengar dari sana. Teras depan banyak berjejer kursi permanen dari semen. Dedaunan dan ranting pepohonan terlihat rapat dan rimbun. Seolah mereka tengah ditugasi menangkis sorotan matahari. Angin datang dari halaman, dan udara pun jadi sejuk. Dan ketika kita memasuki bangunan, ruang tengah ditata seolah sengaja memperlakukan istimewa tamu untuk lama-lama bersantai. Di ruang belakang terbentang ruang diskusi terbuka. Di sanalah diskusi buku itu digelar.

Jam dua siang lebih, diskusi dimulai. Menemani Ucok di panggung kecil, berjejer para pembedah. Beberapa nama yang cukup dikenal baik di kalangan skena Jogja. Ada Ferdhi Putra, pemuda sang perangkai buku Blok Pembangkang. Lalu ada solois Sabina Tiphani yang pernah bersekutu di band Agoni. Di divisi moderator, Idha Saraswati, penulis dan juru kunci di Serunai.com., bertugas menjaga koridor forum.

Seperti lazimnya sebuah diskusi buku di Jogja, banyak anak muda datang terlibat. Saya merasa beruntung ikut dalam keramaian di sana. Mereka datang bukan untuk sekadar duduk diam lalu pulang. Cukup banyak dari mereka mengajukan interupsi dan sekian pertanyaan. Dan saya menjadi penanya kedua dalam sesi tanya jawab di acara itu. Dua jam perjalanan dari Semarang, saya tak mau hanya jadi pendengar di diskusi ini. Setidaknya kehadiran saya memberi sedikit sumbangsih topik percakapan.

Penanya pertama menyinggung bentuk politik kebudayaan yang semestinya ditempuh oleh individu kiwari. Anda dan kita semua sama-sama tahu. Belakangan negara jadi kian represif. Satu per satu kebijakannya nyaris menebas habis ruang kebebasan berekspresi. Persis seperti seorang blandong suruhan oligarki membabat kayu-kayu di hutan. Dan saat giliran saya bertanya tiba, saya menyampaikan keresahan saya terkait sikap politik musisi idola yang belakangan berpaling dari garis politik yang saya yakini.

Saya tidak bisa mengesampingkan kesukaan saya pada Radiohead. Sejak SMA merekalah band Inggris yang paling banyak saya dengarkan sampai hari ini. Artinya itu sudah dua puluh tahun lamanya. Sangat menyedihkan ketika belakangan tahu sikap mereka kurang jelas dalam melihat genosida di Palestina oleh zionis Israel. Bagi Radiohead situasinya memang tidak sesederhana menentukan sikap membela atau memboikot.

Barangkali Anda sekalian sudah tahu, di Radiohead sendiri bersemayam darah Israel yang mengalir dalam diri Johnny Greenwood sang gitaris dan Collin Greenwood sang bassis. Israel juga menjadi salah satu negara yang paling mengangkat kesusksesan pada masa awal karir mereka. Anda pasti tahu lagu Creep. Ketika seantero Eropa dan Amerika kurang terlalu bergairah menyambut lagu itu, di Israel justru meledak dan sangat familiar.

Tahun 1993, Radiohead menjalani debut konser internasional pertama mereka di sana. Mereka, saya kira, tak akan melupakan momen penting itu. Namun, di sisi lain, pembantaian di Palestina adalah kolonialisme terang-terangan. Dukungan internasional mutlak diperlukan agar penjajahan di sana lekas usai. Dan ini bukan tentang balas budi ataupun rasa tidak enak dengan sesama personil band.

Ketika beberapa bulan silam lagu “Let Down” Radiohead menyeruak kembali ke permukaan lantaran ulah orang-orang di tiktok, diam-diam saya ikut senang. Bertahun-tahun menyukai lagu itu tapi tak pernah kesampaian menjumpai kawan menyukai lagu yang sama. Perasaan semacam ini sungguh sulit dijelaskan.

Saya pernah bercerita panjang lebar tentang betapa menyedihkannya lagu itu di hadapan istri saya. Ia tampak menyimak cerita saya. Meskipun tentu saja saya tahu diam-diam sebenarnya ia tak peduli dengan lagu yang dalam pandangannya terlalu “gloomy”. Katanya, lagu itu bikin suasana rumah jadi terasa membosankan.

Di sisi lain, ada pula kekecewaan yang tak bisa saya sembunyikan. Memang, Thom Yorke sempat melontarkan pernyataan keras di Instagramnya. Katanya, kelakuan rezim zionis Netanyahu sudah di luar nalar. Tak lama berselang bahkan ia sempat mendaku Radiohead tidak akan pernah manggung lagi di Israel. “I wouldn’t want to be within 5,000 miles of the Netanyahu regime,” ucap Thom.

Sementara Johnny Greenwood justru bersikap sebaliknya. “Boycotts only strengthen the government, which uses them to say that everyone hates us and therefore we can do whatever we want. That’s far more dangerous,” ucapnya sepakat untuk tidak bersepakat dengan Thom.

Itulah yang saya tanyakan kepada Ucok. Pertanyaan yang kemudian saya ketahui menjadi salah satu kegelisahan yang juga Ucok rasakan. Begitu banyak musisi-musisi yang karyanya ia cintai bersikap sebaliknya dari yang dulu ia kenal. Tentang Chuck D, Public Enemy, dan sederet nama yang pada akhirnya mengecewakannya sebagai penggemar.

Di situlah Ucok kemudian menyatakan bahwasanya kehidupannya sebagai seorang fans pada akhirnya seperti menelan pil pahit. Kekecewaan demi kekecewaan, kekalahan demi kekalahan, telah membuatnya sadar bahwa hidup tak pernah linear dengan utopia dan keinginan. Para idola itu mati digantung uang, ketenaran, dan sedikit kebebalan. Juga lagu-lagu yang pelan-pelan hanya berguna sebagai latar sebuah konten di media sosial.

Di taraf inilah kesadaran untuk mengajukan negosiasi personal perlu dilakukan. Bikin sendiri batasan-batasan dalam hidupmu. Mana yang boleh dan mana yang kelewatan. Kapan bersikap tegas, kapan bersikap kompromistis. Sebuah upaya yang sebenaranya sangat-sangat politis.

Ucok mengakui ia masih memutar Chuck D dari gesekan stilus di atas piringan hitam miliknya. Kendati kekecewaannya kepadanya tak sedikitpun pudar. Ia sulit menegoisasikan keputusan Chuck D berada di barisan penindas Menlu Amerika Serikat, Anthony Blinken.

Negosiasi atas purwarupa kekecewaan mesti diajukan agar hidup tak berujung di tali gantungan. Sebagian dari kita lahir dan bertumbuh bersama lagu-lagu yang kita yakini bisa jadi panutan. Meski pada akhirnya kita tahu bahwa keteguhan hati manusia sejatinya tak pernah lebih tebal dari karet lateks kontrasepsi. Manusia terus berubah, kekecewaanlah yang selalu sama bentuknya.

Dengan demikian penting bagi Ucok untuk menyerukan perayaan-perayaan kecil yang menyurung napas hidup manusia menjadi lebih panjang. Agar hidup tak lekas menyerah dan pasrah. Menyadari keringkihan dan menjaganya dengan sedikit api yang tersisa adalah sekecil-kecilnya bentuk perjuangan.

“Saya rindu kawan-kawan yang pernah saya kenal. Buku ini adalah alasan bagi sebuah pertemuan dengan kawan-kawan lama saya,” ucapnya lugas. Saya menangkap nada kecewa sekaligus harapan di balik kata-katanya itu.

Ucok tahu tahun-tahun panjang selepas Reformasi membuatnya kehilangan banyak harapan. Apalagi dalam setahun belakangan, rentetan kekalahan seringkali memaksa siapapun untuk mundur teratur dan syukur-syukur kembali merapatkan barisan.

Persitiwa Agustus nyaris memporakporandakan semua tugu harapan yang pernah tertancap di dada mereka yang mendaku tengah memperjuangkan Tanah Air ini menjadi sedikit lebih baik. Dan Ucok adalah satu dari begitu banyak individu kecil yang terlempar oleh sekian kekalahan itu. Tapi baginya setiap pertemuan akan memberinya bantuan nyala api yang tersisa. Api yang berarti harapan yang akan selalu membutuhkan uluran tangan dari sejawat dan kawan perjuangan.

Sore itu jawaban atas semua pertanyaan tak sepenuhnya tuntas. Menjelang Mahrib percakapan di kafe belakang itu pun usai. Saya datang mendekat dan meminta Ucok menandatangani buku yang barusan dibeli. Kami bersalaman, dan genggaman tangannya terasa begitu erat dan kuat.

Hari ini, di teras belakang rumah saya di Demak ketika saya menyelesaikan tulisan ini, mendung pekat terlihat di langit. Kopi belum sempat saya tuang, dan rokok masih berbatang-batang. Saya mengingat pertemuan dalam diskusi itu bukan sebagai nostalgia. Itu adalah secuplik upaya menjaga “api” tetap menyala.(*)

Batursari, Desember 2025

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Meromantisasi Nikah Muda di Medsos adalah Tindakan yang Memprihatinkan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Asap Sate di Malioboro Bikin Gerah dan Dikeluhkan, Petugas Langsung Tertibkan!!
Next Article Cara Unik Sambut Tahun Baru, Tiap Negara Punya Gaya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Jateng Mau Sulap 70 Persen Sampah Jadi Listrik, Mimpi atau Jalan Keluar?

96 Ribu Pejabat “Belum Lapor”, MAKI: KPK Jangan Cuma Kasih Angka, Spill Namanya!

MBG Lima Hari Aja? Santai, Daerah 3T Dapat “Bonus Sabtu”

Bukan Sekadar Haul, Ini “Push Rank” KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional

Haji 2026 Tetap Berangkat, Meski Timur Tengah Lagi Panas-Panasnya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

November 24, 2025
Opini

Lelaki Miskin, Kenapa Lagi?

November 12, 2025
Opini

Valuasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Jalan Tengah Pembangunan Banjarnegara Maju 2025

September 9, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?