BACAAJA, BANDUNG – Rencana pembangunan Kereta Api Kilat Pajajaran yang digadang bakal menempuh Jakarta–Bandung hanya dalam 1,5 jam ternyata tidak serta-merta mendapat tepuk tangan. Di atas kertas memang terdengar keren, tapi di lapangan banyak pengamat justru geleng-geleng kepala.
Djoko Setijowarno, akademisi Teknik Sipil dari Unika Soegijapranata, menilai proyek bernilai sekitar Rp8 triliun ini belum jadi kebutuhan mendesak. Ia menyarankan dana sebesar itu dialihkan saja ke sektor transportasi lain yang lebih krusial di Jawa Barat.
Menurutnya, jalur nonaktif seperti Cianjur–Padalarang atau Sukabumi jauh lebih butuh sentuhan ketimbang memaksakan hadirnya kereta kilat baru. Apalagi DJKA sebenarnya sudah punya Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030 yang fokus pada reaktivasi jalur, dengan kebutuhan dana mencapai ratusan triliun.
Saat ini opsi menuju Bandung juga sudah seabrek. Ada KA Parahyangan, layanan Whoosh yang hanya 45 menit, hingga KA lokal, bus, travel, dan tol yang fasilitasnya sudah lebih dari cukup. Karena itu, muncul pertanyaan: apa urgensinya menambah moda baru yang sebenarnya sudah ada substitusinya?
Masalah lain muncul dari klaim waktu tempuh 1,5 jam. Djoko menyebut angka itu terlalu muluk. Dengan jalur yang ada sekarang, target itu mustahil dicapai. Jika mau bangun jalur baru lengkap dengan terowongan dan jembatan, dana Rp8 triliun rasanya jauh dari cukup.
Ia juga menyoroti minimnya angkutan umum di Jawa Barat, mulai dari pedesaan, perkotaan, hingga transportasi pelajar yang nyaris tidak tersedia. Ironisnya, pelajar dilarang membawa motor, tapi fasilitas penunjangnya tidak disiapkan.
Peneliti Instran, Ki Darmaningtyas, punya pandangan serupa. Ia mempertanyakan urgensi proyek ini, mengingat dulu usulan mirip pernah ditolak saat Ignasius Jonan menjabat. Pemerintah kala itu memilih fokus pada Whoosh saja.
Darmaningtyas menyoroti masih banyak daerah di luar Jawa yang transportasinya butuh perhatian lebih. Beberapa jalur kereta di Sumatra bahkan rusak berat karena banjir, dan idealnya dana dialihkan ke sana terlebih dahulu daripada menambah proyek di Jawa.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya sudah mempresentasikan gambaran besar proyek ini. Kereta kilat versi Pajajaran itu disebut akan bisa mempersingkat waktu tempuh Jakarta–Bandung hingga 1 jam, dan terhubung sampai Garut, Tasikmalaya, hingga Banjar dalam 2 jam.
Meski konsepnya terdengar menjanjikan, wacana ini tetap memantik berbagai pertanyaan besar. Efisiensi, prioritas anggaran, hingga urgensi nyata di lapangan membuat proyek ini masih jadi perdebatan. Untuk saat ini, banyak pihak menilai, yang dibutuhkan bukan moda baru, tapi optimalisasi dan pemerataan transportasi yang sudah ada. (*)


