BACAAJA, BANJARNEGARA – Operasi pencarian korban longsor Pandanarum resmi ditutup, tapi kisah haru di balik tragedi ini masih kuat terasa di hati banyak orang. Di tengah hujan yang terus turun sore itu, keluarga korban, relawan, hingga Tim SAR berdiri melingkar di atas tumpukan material longsor—tempat yang kini dipenuhi kenangan dan kehilangan.
Doa bersama membuka prosesi penutupan, dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Banjarnegara KH Wakhid Jumlai. Suara hujan menyatu dengan isak kecil yang tak lagi bisa ditahan. “Semoga seluruh korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ucap Wakhid lirih, membuat suasana makin syahdu.
Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, yang sejak awal terus memantau proses pencarian, mengungkapkan bahwa upaya maksimal sudah dilakukan selama 10 hari. Dari masa tujuh hari yang diperpanjang tiga hari, semua kekuatan dikerahkan, namun kondisi di lapangan membuat operasi harus dihentikan.
“Kami sudah berupaya semampunya. Keluarga juga sudah mengikhlaskan. Dengan berat hati operasi ditutup hari ini,” kata Amalia. Ia memastikan pemerintah daerah akan segera fokus pada penataan kawasan, termasuk pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi keluarga terdampak.
Di sisi lain, keluarga korban mencoba berdamai dengan kenyataan. Ikhsan, salah satu warga, kehilangan nenek dan budhenya yang hingga akhir tidak ditemukan. “Kami ikhlas. Yang penting doa kami terus mengalir,” katanya pelan.
Tercatat, 17 korban berhasil ditemukan sepanjang proses pencarian. Namun, 11 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Prosesi tabur bunga menjadi simbol penutup—penghormatan terakhir bagi mereka yang belum kembali ke rumah.
Tak hanya kehilangan, bayang-bayang trauma juga masih terasa di Dusun Situkung. Ketua Ikatan Psikolog Klinis Jawa Tengah, Gones Saptowati, mengatakan pentingnya pemulihan psikologis dilakukan secara terpadu. “Kami sudah melakukan assessment. Dari 38 anak, ada tiga yang menunjukkan kondisi kurang nyaman. Ini reaksi normal dalam kondisi tidak normal,” ungkapnya.
Art therapy hingga perhatian khusus telah diberikan kepada para penyintas. Menurut Gones, pemulihan psikologis tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Kolaborasi lintas lembaga, dari Polri hingga RSUD Banjarnegara, diperlukan agar pendampingan berlangsung menyeluruh.
Tak hanya anak-anak, warga dewasa pun membutuhkan sesi konseling berkelanjutan. “Kami juga menangani konseling individual rujukan Puskesmas. Dilakukan berkala supaya penyintas benar-benar pulih,” jelasnya.
Dengan operasi resmi ditutup, fokus kini bergeser ke pemulihan jiwa dan kehidupan. Di atas tanah yang masih basah oleh hujan dan air mata, warga Pandanarum berusaha bangkit kembali—pelan, tapi pasti. (*)


