BACAAJA, JAKARTA – Fenomena unik kembali jadi obrolan publik setelah Menko Kumham Imigrasi dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengungkap keheranannya soal tren warga yang lebih memilih menghubungi petugas pemadam kebakaran ketimbang polisi.
Bukan cuma untuk kebakaran, tetapi juga hal-hal lain yang sebenarnya berada di luar domain Damkar.
Dalam Kuliah Umum di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Yusril cerita bahwa sekarang banyak masyarakat lebih nyaman menghubungi Damkar jika ada kejadian mendadak.
Entah itu ular nyasar, buaya nongol di halaman, sampai urusan kejepit teralis—semuanya dilimpahkan ke petugas pemadam.
Ia mengaku heran, karena Damkar pada dasarnya ditugaskan menangani kebakaran dan keadaan darurat terkait keselamatan fisik, bukan hewan berbahaya.
Tapi di lapangan, justru mereka yang dipanggil, sementara polisi sering malah tidak dihubungi.
Dalam penjelasannya, Yusril mengamati adanya pergeseran persepsi publik. Menurutnya, masyarakat mungkin merasa lebih aman dan nyaman berinteraksi dengan petugas Damkar, sebab tidak ada rasa takut seperti saat berhadapan dengan aparat kepolisian.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini perlu menjadi bahan refleksi bersama, terutama bagi kepolisian.
Polisi semestinya menjadi simbol perlindungan, pengayoman, dan rasa aman bagi masyarakat. Namun kenyataannya, sebagian warga justru mengalami sebaliknya.
Yusril menambahkan, kritik soal kinerja penegakan hukum, termasuk yang ditujukan kepada penyidik, sudah seharusnya menjadi masukan untuk perbaikan institusi. Ia berharap ke depan polisi bisa lebih dipercaya dan lebih dekat dengan masyarakat.
Di tengah sesi, Yusril juga menyinggung bagaimana Damkar yang bahkan mampu menangani buaya dan ular, sementara sebagian polisi dianggap tidak siap menghadapi situasi seperti itu.
Hal tersebut, katanya, makin memperjelas jarak persepsi antara dua institusi itu di mata masyarakat.
Menurutnya, momen ini dapat menjadi panggilan untuk perubahan. Bagaimana polisi bisa muncul bukan sebagai sosok yang menakutkan, tetapi sebagai penolong pertama yang diandalkan warga ketika terjadi sesuatu.
Yusril menutup dengan optimisme bahwa dengan keterbukaan terhadap kritik dan komitmen memperbaiki diri, polisi ke depan bisa mengembalikan kepercayaan publik.
Semoga saja, ke depannya, warga tidak lagi bingung harus menghubungi siapa saat darurat—dan memilih berdasarkan rasa aman, bukan rasa takut. (*)

