Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Jejak Sunyi Densus 88 Bongkar Rekrutmen Anak Lewat Dunia Maya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Hukum

Jejak Sunyi Densus 88 Bongkar Rekrutmen Anak Lewat Dunia Maya

Melalui informasi ini, Densus 88 mengajak semua pihak untuk waspada tanpa panik, peduli tanpa menghakimi, dan aktif mencegah sebelum terlambat. Dunia digital boleh luas, tapi pengawasan dan pendidikan tetap punya peran besar untuk menjaga anak-anak tetap aman.

Nugroho P.
Last updated: November 18, 2025 7:22 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Densus 88
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Fenomena rekrutmen anak oleh jaringan terorisme kembali bikin publik tercengang. Data terbaru yang dihimpun Densus 88 menunjukkan bahwa angka korbannya makin naik dan pola geraknya makin rapi. Informasi ini disampaikan langsung dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, dengan penjelasan yang to the point tapi tetap bikin suasana serius terasa.

Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut ada 110 anak berusia 10 sampai 18 tahun yang teridentifikasi masuk radar jaringan terorisme. Mereka tersebar di 23 provinsi, dan sebagian besar direkrut lewat aktivitas online yang kelihatannya biasa saja.

Trunoyudo menjabarkan bahwa perekrutan dilakukan secara bertahap dan sangat halus. Awalnya, propaganda dilempar di platform umum seperti Facebook, Instagram, dan gim online. Kontennya bukan yang terkesan ekstrem, tapi justru dibuat menarik: potongan video pendek, animasi yang eye-catching, meme, sampai musik yang dikemas fun.

Konten-konten itu sengaja dibuat untuk memancing kedekatan emosional, membangun rasa penasaran, lalu pelan-pelan menanamkan ideologi. Begitu ada anak yang terlihat cocok atau responsif, mereka langsung diajak masuk ke ruang komunikasi yang lebih tertutup.

Biasanya, kontak personal dilakukan melalui DM Facebook atau Telegram. Di tahap ini, pembicaraan mulai diarahkan pada topik-topik ideologis yang lebih dalam, sering kali dibungkus dengan narasi heroik atau romantisasi perjuangan.

Faktor penyebab anak rentan terpapar pun cukup kompleks. Menurut Trunoyudo, ada anak yang mengalami bullying, ada yang kurang perhatian keluarga, ada pula yang sedang mencari jati diri. Ditambah minimnya literasi digital dan kurangnya pemahaman agama yang benar, mereka jadi target empuk bagi jaringan terorisme.

Dalam momen itu, Densus 88 juga menghadirkan AKBP Mayndra Eka Wardhana, juru bicara unit antiteror, yang mempertegas bahwa tren ini memang sedang meningkat signifikan. Dibandingkan periode 2011–2017 yang hanya mencatat 17 anak korban rekrutmen, angka terbaru pada 2024–2025 melonjak tajam menjadi 110 anak.

Mayndra menyebut proses rekrutmennya “masif banget,” terutama karena hampir semuanya dilakukan lewat media daring. Pergerakan para perekrut sangat cepat, sulit dilacak, dan memanfaatkan celah psikologis anak-anak yang aktif di dunia digital.

Polri pun tak tinggal diam. Mereka menggandeng sejumlah kementerian dan lembaga lain untuk mencegah makin banyak anak yang masuk dalam jaringan berbahaya ini. Fokusnya pada pencegahan dan pendidikan sejak dini, terutama untuk memperkuat lingkungan keluarga.

Mayndra menegaskan bahwa pertahanan terbaik terhadap radikalisasi tetap dimulai dari rumah. Orang tua, guru, serta komunitas sekolah harus punya radar awal untuk mendeteksi perubahan perilaku anak-anak mereka. Jika ada keganjilan, harus cepat ditangani.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia maya bukan sekadar tempat hiburan. Ada ruang-ruang gelap yang bisa menarik anak-anak tanpa mereka sadari. Karena itu, pendampingan digital sangat penting.

Narasi ini juga membuka mata banyak pihak bahwa propaganda modern bukan lagi berbentuk video serius atau ceramah panjang. Semuanya bisa dikemas ringan, lucu, bahkan terasa seperti hiburan biasa. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Densus 88 berharap publik ikut ambil bagian dalam pengawasan. Kolaborasi masyarakat, keluarga, sekolah, dan aparat penegak hukum diperlukan supaya anak-anak bisa punya ruang aman untuk tumbuh tanpa gangguan ideologi ekstrem.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga celah risiko yang tak bisa diremehkan. Anak-anak, yang masih belajar mengenal dunia, jadi target paling mudah jika tidak dibekali pendampingan yang cukup.

Dengan meningkatnya literasi digital, pemahaman agama yang benar, serta kepekaan orang-orang terdekat, risiko ini bisa ditekan. Dan yang paling penting, pencegahan harus dilakukan sebelum mereka terseret lebih jauh.

Melalui informasi ini, Densus 88 mengajak semua pihak untuk waspada tanpa panik, peduli tanpa menghakimi, dan aktif mencegah sebelum terlambat. Dunia digital boleh luas, tapi pengawasan dan pendidikan tetap punya peran besar untuk menjaga anak-anak tetap aman. (*)

You Might Also Like

Akhirnya Kapolresta Sleman Diberhentikan, Buntut Kasus Suami Korban Jambret Jadi Tersangka

Namanya Ikut Viral di Kasus MBG, Sumanto Bantah Terlibat

186 Napi Perempuan Semarang Dapat Remisi, Satu Langsung Bebas

Korupsi Cilacap Bermula dari Kebijakan Bupati Sebelum Yunita

Drama Kematian Dosen Untag Semarang Makin Panas! AKBP Basuki Resmi Ditahan

TAGGED:Densus 88teroristerorisme
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Cuaca Mengacau, Pencarian Longsor Cilacap Sempat Terhenti Sore Ini
Next Article Jateng Bidik Empat Besar PON

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Anak Muda Ogah Jadi Petani? Ketua DPRD Jateng Bongkar Penyebabnya

Agustina: Bullying Bukan Kenakalan Biasa, Pelaku Harus Diproses

Heboh di Banjarnegara, Pengasuh Ponpes Diduga Lakukan Pencabulan Kepada 4 Santriwati

KOORDINASI--Sudewo Bupati Pati nonaktif, berkoordinasi dengan penasihat hukumnya di ruang sidang, Senin (29/6/2026). (bae)

Kubu Sudewo Salahkan Pengawal KPK: Kericuhan Dipicu Ulah Petugas

FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Inayah Wahid dan sang ibu Sinta Nuriyah Wahid.
Hukum

Sidang Vonis Aktivis Pati Disorot! Putri Gus Dur hingga Ketua BEM UGM Datang, Ingatkan Soal Ini

Maret 5, 2026
Bos Sritex, Iwan Setiawan duduk di kursi pesakitan mendengar pembacaan putusan kasus korupsinya di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (6/5/2026). (bae)
Hukum

Bos Sritex Diganjar Hukuman 14 Tahun Penjara, Bayar Uang Pengganti Rp677 Miliar

Mei 6, 2026
TERDAKWA MENGAMUK--Gus Yazid mengamuk di pengadilan, Rabu (13/6/2026), usai sidang kasus pencucian uang hasil penjualan aset TNI. (bae)
Hukum

Gus Yazid Ngamuk di Pengadilan Tipikor, Seret Panglima TNI hingga Menhan

Mei 13, 2026
Zara konsultasi sama penasihat hukumnya menyikapi tuntutan jaksa di PN Semarang, Rabu (10/9/2025). (bae)
Hukum

Sok Jago Senioritas Berujung Pidana, Zara PPDS Undip Kena Tuntutan 1,5 Tahun Bui

September 10, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Jejak Sunyi Densus 88 Bongkar Rekrutmen Anak Lewat Dunia Maya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?