Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Aduh Pak Muis, Niat Bantu Sekolah, Malah Berujung di Meja Hijau
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Aduh Pak Muis, Niat Bantu Sekolah, Malah Berujung di Meja Hijau

Kisah ini terasa getir. Bayangkan, niat menolong justru dianggap melanggar hukum. Dana yang dikumpulkan bersama komite sekolah untuk membayar guru honorer dianggap pungli. Padahal, uang itu hasil kesepakatan bersama orang tua siswa.

Nugroho P.
Last updated: November 11, 2025 8:16 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Abdul Muis, guru Sosiologi di SMAN 1 Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
SHARE

BACAAJA. LUWU UTARA – Menjelang masa pensiunnya, Abdul Muis cuma ingin satu hal: menutup karier panjangnya sebagai guru dengan tenang. Tapi takdir berkata lain. Bukannya mendapat penghargaan, ia justru berakhir di ruang sidang, menghadapi tuduhan pungutan liar.

Abdul Muis, guru Sosiologi di SMAN 1 Luwu Utara, Sulawesi Selatan, kini jadi sorotan publik. Setelah puluhan tahun mengabdi, status PNS-nya resmi dicabut. Semua bermula dari niat membantu guru honorer yang gajinya belum cair.

Kisah ini terasa getir. Bayangkan, niat menolong justru dianggap melanggar hukum. Dana yang dikumpulkan bersama komite sekolah untuk membayar guru honorer dianggap pungli. Padahal, uang itu hasil kesepakatan bersama orang tua siswa.

Kasus yang menjeratnya bermula tahun 2018, saat ia dipercaya jadi bendahara Komite Sekolah. Semua pihak setuju: setiap bulan, orang tua siswa menyumbang Rp20.000 untuk mendukung kegiatan sekolah. Yang tak mampu, dibebaskan.

“Dana itu bukan pungutan sembarangan. Semua disepakati lewat rapat,” kata Abdul Muis saat ditemui di sekretariat PGRI Luwu Utara. Ia masih mengingat jelas bagaimana keputusan itu dibuat terbuka dan dicatat resmi.

Sebagai bendahara, tugasnya cuma satu: memastikan kegiatan sekolah tetap jalan. Banyak guru pensiun, ada yang meninggal, sebagian pindah. Sementara proses pengangkatan guru baru butuh waktu lama sebelum masuk sistem Dapodik.

Karena itu, sekolah pun bergantung pada guru honorer. Tapi masalahnya, honor mereka kecil dan sering telat dibayar. Dari sanalah dana komite jadi penyambung napas. “Ada guru honor yang kadang nggak bisa datang karena nggak punya uang bensin,” kenang Muis.

Namun semuanya berubah di tahun 2021. Seorang pemuda datang ke rumahnya, mengaku aktivis LSM, dan menanyakan soal dana sumbangan. “Saya jawab apa adanya. Tapi dia minta lihat buku keuangan. Saya kaget,” ujar Muis.

Tak lama, ia dipanggil polisi. Kasus berjalan cepat—dari pemeriksaan, sidang, hingga vonis bersalah. Ia divonis satu tahun penjara dan denda Rp50 juta. “Saya jalani hampir tujuh bulan. Dendanya saya bayar,” ucapnya pelan.

Muis menyebut, awalnya jaksa sempat menyatakan berkas belum lengkap karena belum ada bukti kerugian negara. Tapi kemudian, Inspektorat turun tangan dan menyebut ada kerugian keuangan. Dari situlah semuanya berubah.

Dalam sidang, Muis tetap bersikukuh tak bersalah. Ia menganggap yang terjadi hanyalah salah paham terhadap peran komite sekolah. Semua sumbangan dilakukan terbuka, ada rapat, dan ada notulen. Tidak ada paksaan.

“Kalau pungli, pasti dipalak dan diam-diam. Tapi kami terbuka. Bahkan banyak siswa yang nggak bayar tetap bisa ikut ujian,” tegasnya.

Setelah putusan inkrah di Mahkamah Agung, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pun menindaklanjuti dengan surat pemberhentian resmi. Kariernya sebagai ASN berakhir sudah.

Di tengah cobaan itu, Abdul Muis memilih ikhlas. Ia tak mau larut dalam amarah. “Rezeki itu urusan Allah. Kalau niatnya baik, pasti ada jalan,” katanya.

Meski kecewa, ia tetap berdiri tegak. Tak sedikit rekan guru dan muridnya memberi dukungan moral. Mereka tahu siapa Abdul Muis sebenarnya—guru yang rela mengorbankan uang transportasinya demi bantu guru honor.

Selama jadi bendahara, ia hanya menerima Rp125 ribu untuk transportasi dan tambahan Rp200 ribu sebagai wakil kepala sekolah. “Uang itu sering saya pakai bantu teman guru. Karena saya tahu mereka susah,” katanya.

Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sesekali datang ke sekretariat PGRI. Meski tanpa status ASN, semangatnya untuk mengajar belum padam.

Abdul Muis sadar, dunia tak selalu berpihak pada niat baik. Tapi ia yakin, waktu akan membuktikan segalanya. “Saya cuma mau dikenang sebagai guru yang mencoba membantu, bukan mencuri,” ujarnya menutup percakapan.

Kisahnya jadi pengingat: di balik sistem pendidikan yang megah, masih ada sosok-sosok kecil yang berjuang dengan cara sederhana—kadang, terlalu jujur untuk dunia yang rumit. (*)

You Might Also Like

Inovasi Mitigasi Bencana Ala Novinda Dian Puspito Antar Banjarnegara Raih Juara 3 Porsenijar Jateng

Ngobrol Santai Bareng Rektor SCU Semarang: Mahasiswa Prioritas, Rektor Terakhir

Dari Sawah Jadi Tenaga Jalan, Hadirlah Bensin Bobibos Nusantara!

Jas Almet Undip Ganti Warna, Rektor: Masa Keren Gini Dibilang Mirip Terpal

Gemes Maksimal! Puluhan ‘Calon Haji Cilik’ Ini Bikin Suasana Manasik Jadi Super Seru

TAGGED:ABDUL MUISguruNASIB GURUpendidikanviral
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tujuh Kebiasaan Receh Tapi Manjur Bikin Awet Muda
Next Article Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid. Lahan 16,4 Hektare yang Bikin Heboh, Siapa Sebenarnya Pemiliknya? Ini Suara Nusron

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kebersamaan Mohammad Saleh dengan warga korban banjir bandang di kawasan lereng Gunung Slamet, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang (27/01/2026). (ist)
Info

Dampak Banjir di Jateng, M Saleh: Pemulihan Pendidikan Nggak Boleh Nunggu Lama

Februari 8, 2026
Anggota Komisi X DPR RI Furtasan Ali Yusuf mengkritik banyaknya sekolah SD terutama swasta yang menarik iuran sekolah ugal-ugalan atau cukup tinggi melampuai kemampuan orang tua. Foto: dok/ist
Pendidikan

Biaya Sekolah SD Ugal-ugalan, Butuh Regulasi Batas Atas-Bawah

Juli 25, 2025
Pendidikan

224 Ribu Calon Siswa Lolos SPMB Jateng 2025

Juni 25, 2025
Wagub Jateng, Taj Yasin, ajak mahasiswa UNNES tingkatkan toleransi antarumat beragama dalam acara Beyond Religion 2025. Ia menilai kampus sebagai tempat ideal menanamkan nilai keberagaman. Indeks kerukunan Jateng pun naik, jadi inspirasi daerah lain di Indonesia. Foto: dok/humas.
Pendidikan

Wagub Taj Yasin: Kampus Harus Jadi Markas Toleransi, Bukan Ajang Perundungan

September 16, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Aduh Pak Muis, Niat Bantu Sekolah, Malah Berujung di Meja Hijau
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?