BACAAJA, JAKARTA- Sejumlah serikat buruh menilai, merujuk rumus baru versi pemerintah dan asosiasi pengusaha, “indeks tertentu” yang menjadi acuan akan diturunkan jadi 0,2 sampai 0,7. Padahal tahun lalu, Presiden Prabowo masih menetapkan angka mendekati 0,9.
“Turunin indeks berarti nurunin martabat buruh juga dong,” sindir Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, lewat rilis resminya, Minggu (9/11). Menurut dia, kalau benar angka indeks diturunkan, itu sama aja kayak “pemerintah lagi melindungi pengusaha hitam yang doyan bayar murah tapi minta hasil maksimal.”
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023, formula kenaikan upah minimum harus ngikutin tiga hal: pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan indeks tertentu.
Nah, masalahnya, dua yang pertama udah jelas, inflasi 2,65 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,12 persen. Tapi yang terakhir ini, alias indeks tertentu, malah jadi bahan tarik-tarikan kepentingan.
Versi pengusaha (Apindo) malah lebih ekstrem: maunya indeks cuma 0,1-0,5 persen. “Kalau pakai rumus kayak gitu, kenaikannya bisa super kecil, bahkan gak nyentuh kebutuhan hidup layak,” kata Iqbal.
Makanya, buruh lewat KSPI dan Partai Buruh tetep ngegas: UMP harus naik 8,5 persen sampai 10,5 persen. Itu pun, kata mereka, udah itung-itung realistis buat nutup inflasi dan biaya hidup yang makin nyekik.
Iqbal juga ngingetin, upah bukan cuma angka di Excel atau tabel perhitungan. “Ini soal hidup manusia, bukan margin keuntungan,” ujarnya. Dia juga menegaskan bahwa indeks tertentu itu hak prerogatif presiden, bukan keputusan teknokrat yang duduk di ruang rapat ber-AC sambil ngeteh sore. “Jadi jangan seenaknya nurunin tanpa alasan logis,” tambahnya.
KSPI bahkan udah ngasih arahan buat serikat buruh di seluruh provinsi dan kabupaten/kota biar ikut dorong angka itu di Dewan Pengupahan masing-masing. Selain itu, mereka juga masih memperjuangkan adanya upah minimum sektoral (UMS) yang lebih tinggi dari UMK, biar gak semua sektor disamaratakan kayak mie instan.
Belum Merespons
Sampai berita ini naik, belum ada konfirmasi dari Menaker Yassierli dan Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani buat klarifikasi soal indeks tertentu ini. Sayangnya, keduanya masih belum respon. Mungkin lagi sibuk ngitung ulang rumus atau lagi ngecek spreadsheet? Entahlah.
Dari tahun ke tahun, cerita upah selalu sama: buruh teriak, pengusaha menahan, pemerintah jadi wasit. Tapi wasitnya sering condong ke satu sisi, dan kita semua tahu ke mana arah peluitnya.
Kita ngomongin hidup layak, bukan hidup mewah. Kenaikan 8-10 persen itu bukan buat beli mobil baru, tapi sekadar biar bisa tetap makan tiga kali sehari tanpa ngutang di warung.
Upah layak bukan berarti bikin pengusaha bangkrut, tapi bikin ekonomi jalan. Karena gaji buruh itu uang yang balik lagi ke pasar, warung, dan toko-toko kecil di sekitar kita. Kalau buruh gak punya daya beli, ekonomi juga seret, kan?
Kalau rumus upah diturunin terus, jangan-jangan nanti buruh cuma dikasih “bonus senyum dari HRD” setiap akhir bulan. Murah meriah, tapi katanya “bisa bikin semangat kerja.” (tebe)


