BACAAJA, SURAKARTA – Suasana haru menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat dua tokoh penting dari Yogyakarta datang memberi penghormatan terakhir untuk mendiang Paku Buwono XIII.
Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam X tiba di hari yang sama, Selasa (4/11/2025), menandai momen langka ketika dua simbol kerajaan Mataram bersatu dalam duka.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga besar Keraton Solo, termasuk adik almarhum PB XIII, KGPH Dipokusumo, yang tampak berusaha tegar di tengah suasana kehilangan.
Paku Alam X lebih dulu tiba di area keraton dan sempat menunggu di ruang transit sebelum Sri Sultan HB X datang. Suasana di Bangsal Parasdya terasa khidmat, aroma kemenyan dan doa mengiringi langkah dua raja yang membawa pesan penghormatan dan persaudaraan.
Keduanya berdoa di depan jenazah PB XIII, tanpa banyak kata, hanya ketenangan yang berbicara. Dalam diam itu, seolah sejarah Mataram kembali menyatu lewat duka.
Setelah berdoa, Sri Sultan HB X dan Paku Alam X berpamitan. Waktu menunjukkan pukul 12.18 WIB, namun suasana masih terasa berat, seperti enggan beranjak dari masa lalu yang sarat kenangan.
“Saya menyampaikan duka cita, semoga semuanya berjalan lancar,” ujar Sri Sultan HB X dengan nada tenang sebelum meninggalkan keraton.
Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, ia juga mendoakan agar Solo tetap aman dan proses regenerasi kepemimpinan berjalan baik tanpa gejolak.
“Karena bagaimanapun kami bagian dari yang harus menjaga tradisi, baik yang di Surakarta maupun Yogyakarta,” katanya lagi, menegaskan makna kebersamaan dua keraton yang sering disangka berjarak.
Sri Sultan juga berharap agar keraton tetap langgeng, menjadi bagian dari republik, dan terus relevan di tengah perubahan zaman. “Harapannya sama, bagaimana kita bisa mengurus dengan langgeng, menjadi bagian dari republik. Aman-aman saja, nyaman-nyaman saja semuanya,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan keinginan besar: menjaga budaya tanpa kehilangan arah modernitas.
Tentang sosok PB XIII sendiri, Sri Sultan memilih tak banyak berkomentar. Ia hanya mengaku mengenal, meski tak sedekat yang mungkin dibayangkan publik.
“Dalam arti bergaul dan sebagainya kan relatif dan jarang. Kami tidak berani memberikan pemikiran,” ucapnya singkat.
Meski begitu, komunikasi antar-keraton tetap berjalan, hanya saja sering terjadi di balik layar, tanpa sorotan publik.
“Sebetulnya relatif, sama beliau-beliau saya kenal. Anak-anak saya juga ada komunikasi, tidak tertutup,” ungkap Sri Sultan.
Ia menambahkan bahwa momentum kebersamaan antar-keraton tidak selalu mudah ditemukan karena kesibukan dan jadwal kegiatan adat yang sering bersamaan.
“Kalau upacara waktunya bersamaan, jadi momentum itu tidak mudah ditemukan. Tapi kalau komunikasi, tetap dilakukan,” katanya.
Kedekatan dua keraton besar ini memang lebih sering dirasakan dalam simbol dan nilai budaya ketimbang pertemuan formal.
Namun kehadiran dua raja hari itu menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih hidup, tidak lekang dimakan zaman.
Langkah mereka di pelataran keraton bukan sekadar kunjungan, tapi juga perwujudan hormat pada sejarah yang sama-sama mereka jaga.
Dalam duka yang sama, dua kerajaan serumpun itu kembali memperlihatkan makna harmoni: bahwa darah Mataram tetap mengalir, sekalipun dalam diam dan perbedaan arah zaman.
Dari Yogyakarta hingga Surakarta, dari Sultan hingga Sunan, hari itu duka menjadi jembatan yang menghubungkan dua masa—masa lalu yang penuh kejayaan, dan masa kini yang terus belajar menjaga warisan. (*)

