Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Jenang Bumbung, Warisan Kolonial Manisnya Perlahan Tergerus Zaman
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Jenang Bumbung, Warisan Kolonial Manisnya Perlahan Tergerus Zaman

Dulu jenang bumbung lebih sering muncul saat momen Lebaran atau acara adat. Kini, makanan tradisional ini juga dipasarkan secara komersial meski produksinya masih terbatas sesuai pesanan.

Nugroho P.
Last updated: September 20, 2025 5:55 am
By Nugroho P.
2 Min Read
Share
Jenang Bumbung makanan tradisonal sejak era kolonial.
SHARE

BACAAJA, BANYUMAS – Di tengah derasnya kuliner modern, warga Desa Kutaliman, Kecamatan Kedungbanteng, masih setia menjaga tradisi lewat makanan khas bernama jenang bumbung. Kudapan manis berbahan ketan ini sudah ada sejak era kolonial Belanda dan hingga kini masih diproduksi meski jumlah perajinnya semakin sedikit.

Tokoh masyarakat Kutaliman Niwan, menyebut jenang bumbung terbuat dari campuran tepung ketan, ampas kelapa, dan gula kelapa. Yang membuatnya berbeda adalah cara memasaknya. Adonan dimasukkan ke dalam batang bambu atau bumbung, lalu dibakar menggunakan daun kelapa kering.

“Prosesnya unik. Setelah dibakar, isi jenang akan mengembang hingga memenuhi batang bambu. Nanti bumbung yang gosong dibersihkan lalu dipotong-potong,” terang Niwan.

Tradisi membuat jenang bumbung ini, kata Niwan, sudah ia saksikan sejak kecil. Bahkan hingga sekarang, kuliner khas itu tetap diproduksi meski jumlah perajinnya tidak sampai 10 orang.

Produksi jenang bumbung biasanya dilakukan untuk acara tertentu, seperti hajatan, penyambutan tamu, hingga pesanan khusus dari konsumen. Karena tanpa bahan pengawet, jenang ini hanya tahan beberapa hari sehingga harus segera dikonsumsi.

Darsono (45), warga setempat, mengatakan proses pembuatan jenang bumbung bisa memakan waktu seharian penuh. Mulai dari mencari bambu di kebun, menyiapkan adonan, hingga tahap pembakaran.

“Setelah matang, bambu dibersihkan dari kulit yang hangus, dipotong-potong, lalu dikemas. Satu bungkus biasanya berisi lima potong dengan harga Rp10 ribu,” jelas Darsono.

Dulu jenang bumbung lebih sering muncul saat momen Lebaran atau acara adat. Kini, makanan tradisional ini juga dipasarkan secara komersial meski produksinya masih terbatas sesuai pesanan.

Keunikan rasa manis gurihnya, ditambah proses memasak yang masih tradisional, membuat jenang bumbung tetap dicari. Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya, makanan ini bukan sekadar kuliner, melainkan simbol warisan budaya yang patut dijaga. (*)

You Might Also Like

Jateng Magnet Investasi Padat Karya, Serapan Tenaga Kerja Tertinggi se-Pulau Jawa

Saat Kota Makin Panas, Taman Sudirman Cocok Jadi Jujugan

Viral Dimana-mana, Angka Survei Dedi Mulyadi Justru Segini!

Rahasia Tumpeng Keren yang Bikin Juri Melongo di Lomba 17 Agustus

Tampil Elegan dengan Selendang Merah, Puan Sambut Ketua Parlemen ASEAN di Sidang Bersama DPR-MPR-DPD 2025

TAGGED:ide kulinerjajan khas banyumasjajanan khasjenang bumbungkulinerkuliner jadulmakanan khas banyumasoleh oleh khas
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Expo Jamnas 1 Jatam: MPM PWM Jateng Bawa Beras Premium dan Benih Padi Tahan Lahan Kering
Next Article Pelaku pembakaran saat demo tertangkap, mereka dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Jumat (17/9/2025). (istimewa) Pelaku Bakar Mobil dan Pos Polisi saat Demo Ricuh Semarang Akhirnya Ketangkep

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengisi tumbler saat launching layanan Air Siap Minum “Toya Wening” di Pasar Gede Surakarta, Rabu (1/4/2026).

Bawa Tumbler, Respati Launching Kran Air Siap Minum ‘Toya Wening’ di Pasar Gede Solo

Citra satelit menunjukkan adanya pembukaam lahan di kawasan BSB City. (google earth)

Pengamat Lingkungan Beri Peringatan: Laju Pembangunan Jangan Korbankan Alam

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN).

ASN Bisa Long Weekend Tiap Pekan? WFH pada Hari Jumat Resmi Diterapkan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi penderita Covid-19.
Unik

Covid-19 Mulai Menyebar di Indonesia, Kemenkes: JN.1 7 Kali Lebih Cepat Menular

Juni 6, 2025
Penyedia jasa bersih-bersih rumah via aplikasi 'rewangono', Dwi Wulandari, punya segudang cerita.
Kerjo Aneh-aneh

Cerita dari Semarang: ketika Sapu Migarasi ke Smartphone, Jasa Bersih-bersih go Digital

Januari 13, 2026
Unik

Telantarkan Puluhan Korban, Dua Penyalur Pekerja Migran Diringkus Polisi

Juni 19, 2025
Tips

Suka Makan Mi Instan Tapi Takut Gemuk? Intip Tips Ala Korea Ini!

September 19, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Jenang Bumbung, Warisan Kolonial Manisnya Perlahan Tergerus Zaman
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?