BACAAJA, BOYOLALI- Sebanyak 71 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Boyolali resmi menerima kendaraan operasional berupa mobil pikap. Penyerahan dilakukan di halaman Kodim 0724/Boyolali dan diterima langsung oleh ketua koperasi bersama kepala desa masing-masing, Kamis (9/4/2026).
Dari pantauan di lokasi, puluhan mobil berwarna putih itu berjajar rapi. Karena jumlahnya banyak, sebagian bahkan harus diparkir di area BPBD Boyolali yang berada di sebelah barat Makodim.
Mobil yang dibagikan merupakan pikap 4×4 bermesin diesel produksi Mahindra. Desainnya cukup khas, dengan logo Koperasi Desa Merah Putih di sisi bak, serta tulisan “Cendrawasih” di bagian belakang.
Baca juga: Kopdes Merah Putih di Jateng Sudah Beroperasi, Ini Kata Gubernur Luthfi
Komandan Kodim 0724/Boyolali, Dhanu Anggoro Asmoro, menyebut kendaraan ini jadi bagian dari percepatan pembangunan koperasi desa. “Hari ini kita serahkan 71 kendaraan untuk 71 desa yang pembangunan KDMP-nya sudah 100 persen,” ujarnya.
Dari total 267 desa/kelurahan di Boyolali, sebanyak 138 titik sebenarnya sudah rampung pembangunan koperasinya. Namun, untuk tahap awal, baru 71 yang menerima kendaraan karena dinilai sudah siap secara kelembagaan.
Dukung Operasional
Mobil pikap ini nantinya akan digunakan untuk mendukung operasional koperasi, terutama dalam distribusi dan pengadaan barang dagangan. Dhanu menegaskan, pihaknya hanya memfasilitasi penyaluran dari PT Agrinas Pangan Nusantara kepada koperasi desa.
Tahap kedua penyaluran kendaraan ditargetkan bisa dilakukan akhir bulan ini. Selain mobil, perlengkapan lain seperti AC dan rak display juga mulai disiapkan untuk menunjang operasional gerai koperasi.
Sementara itu, Kepala Desa Penggung, Suyamto, berharap bantuan sarana ini bisa langsung dimanfaatkan. “Lebih cepat lebih baik, supaya operasional koperasi bisa segera berjalan dan membantu peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, pembangunan KDMP di Boyolali sudah menjangkau sekitar 250 desa. Sisanya masih terkendala status lahan, seperti sawah dilindungi atau aset pemerintah daerah yang masih dalam proses hibah.
Di saat kota sibuk debat soal ekonomi besar, desa justru pelan-pelan gas lewat koperasi dan pikap. Mungkin benar, perubahan itu nggak selalu datang dari atas, kadang justru melaju dari jalan desa, pakai bak terbuka. (tebe)

