Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: 52 Anak di Jateng Terpapar Kekerasan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

52 Anak di Jateng Terpapar Kekerasan

T. Budianto
Last updated: Oktober 11, 2026 12:03 pm
By T. Budianto
6 Min Read
Share
SOSIALISASI BULLYING: Perwira Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror Polri Iptu Yusuf (paling kanan) usai sosialisasi “Dampak Bullying di Ruang Digital” di RT02/RW06 Perumahan Grand Tembalang Regency, Kota Semarang, Sabtu (10/10/2026). (Foto: eks)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Satuan Tugas Wilayah Jawa Tengah (Satgaswil Jateng) Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri menyebut hingga awal Oktober ini, ada 52 anak di wilayah ini yang terpapar kekerasan via online.

Jumlah ini meningkat lebih dari 100 persen di banding data Densus 88 akhir tahun lalu di provinsi ini.  Hal itu diungkapkan Perwira Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror Iptu Yusuf saat kegiatan sosialisasi “Dampak Bullying di Ruang Digital” di RT02/RW06 Perumahan Grand Tembalang Regency, Kota Semarang, Sabtu (10/10/2026) petang.

“Sekarang ada 52 anak di Jateng yang terpapar, 2 di antaranya sudah masuk grup jaringan teroris, istilahnya jadi anak yang berhadapan dengan hukum walaupun jadi saksi, mereka yang dewasa sudah kami tangkap, dilakukan penegakan hukum,” kata Yusuf di antara warga yang hadir.

Berdasar fakta dari penanganan anak-anak itu, ungkap Yusuf, rata-rata orangtuanya tidak percaya. Mereka menyebutkan anak-anak mereka cenderung “penurut”, lebih banyak di dalam kamar, beraktivitas online.

“Setelah kami buka ponselnya, tunjukkan video-video yang ada di dalamnya, mereka (orangtua) kaget semua. Beberapa anak memberikan penolakan, tapi dengan koordinasi orangtua, kami buka ponsel mereka tunjukkan apa yang ada di dalamnya,” sambung Yusuf.

Baca juga: Densus 88 Sikat 11 Terduga Teroris di 6 Provinsi

Aktivitas anak-anak yang disebut “penurut”, lebih banyak di kamar, tak menjamin tidak mendapat paparan kekerasan. Pasalnya, sebut Yusuf, salah satu pintu masuk kekerasan, radikalisme, ekstremisme hari ini justru dari aktivitas onlinenya.

Dia menyebut pintu masuknya gim online Roblox, di mana di dalamnya terdapat fitur chat global. Dari fitur ini, mereka akan masuk lagi ke percakapan lebih privat, seperti Telegram maupun WhatsApp. Salah satunya grup bernama True Crime Community. Isinya; berbagai video tentang kekerasan hingga pembunuhan sadis.

Ketika anak-anak terbiasa melihat video-video itu, hal yang dikhawatirkan adalah adanya normalisasi kekerasan. Anak-anak cenderung menjadi “tidak risih” melihat aksi sadistis. Bahkan, menganggap kekerasan adalah solusi ketika mendapat persoalan.

“Ketika mendapatkan bullying lalu anak ini tidak mendapat penanganan yang benar, bisa jadi mereka akan luapkan dengan aksi kekerasan. Yang kami tangani, ada yang H-1, H-4, ada yang seminggu sebelumnya mereka akan melakukan kekerasan, kami masuk lebih dulu ke mereka, door to door. Ada yang ingin melakukan penusukan massal di sekolahnya,” cerita Yusuf.

Anak-anak yang terpapar itu, sebut Yusuf, sekira 80 persen adalah korban bullying. Anak yang tidak dapat ruang di dunia nyata lari ke dunia maya, ini fakta yang kami dapatkan.

“Di Jateng, akhir tahun 2025 ada 22 orang anak, ini sudah mau akhir tahun sudah 52 anak yang kami tangani, kenaikannya (lebih dari) 100 persen. Kami juga masih mengidentifikasi ribuan nomor (ponsel) yang mengarah ke sana,” jelasnya.

Tren Kekerasan

Yusuf menjelaskan, tren paparan kekerasan terorisme ke ranah digital sebenarnya sudah mulai terjadi ketika kelompok ISIS di Timur Tengah memproklamirkan diri sekira tahun 2014, kemudian disusul di Indonesia melalui kelompok teror Jamaah Anshorut Daulah (JAD).

Pada perkembangannya, muncul aksi teror melibatkan anak-anak dan orangtuanya seperti kasus Bom Surabaya tahun 2018. Densus melihat adanya pergeseran pola propaganda kelompok teror ke ranah digital. “Game online ini jadi salah satu sarana pintu masuknya,” papar Iptu Yusuf.

Di depan warga GTR Kota Semarang, Iptu Yusuf mengajak semuanya terutama para orangtua untuk rutin dan aktif mengawasi perubahan perilaku anaknya.  Jika terdapat kebiasaan yang berubah, seperti; lebih sering mengurung diri, asosial, lebih banyak aktivitas online, orangtua perlu melakukan pendekatan lebih intens ke anak-anaknya.

Meskipun sudah ada kerjasama dengan Pemprov Jateng-Psikolog termasuk kepolisian tingkat resor maupun daerah, Iptu Yusuf menyebut orangtua memegang peran krusial untuk pencegahan dini.

Ketua RT02/RW06 Bale Amarta Perumahan GTR Kota Semarang, Edy Warsito mengamini dewasa ini banyak terjadi insiden bullying di kalangan pelajar. Itu yang membawanya, bersama kelompok PKK setempat, aktif melakukan sosialisasi, mendatangkan narasumber kompeten agar warga mendapat pengetahuan maupun informasi lebih banyak akan fenomena ini.

Baca juga: Kasus Bullying Muncul Lagi, Sekolah Diminta Introspeksi

Senada, Ketua RW06, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Khusnul Hidayat mengatakan di wilayahnya juga banyak aktivitas mahasiswa mengingat banyak kampus di sana. Aktivitas ini juga tak bisa lepas dari ruang digital.

“Kami sangat apresiasi kegiatan seperti ini, mudah-mudahan di Bulusan khususnya di Grand Tembalang Regency, ketika ada fenomena seperti itu, warga juga bisa cepat merespons, merangkul, atas dampak daripada teknologi tadi,” tandasnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa bullying bukan sekadar bahan candaan di sekolah atau drama yang selesai ketika bel pulang berbunyi. Luka yang dibiarkan bisa terbawa ke ruang digital, tempat anak mencari penerimaan tetapi justru berpotensi bertemu lingkungan yang salah.

Ironisnya, kita sering sibuk memastikan anak punya ponsel terbaru, kuota internet selalu terisi, dan gimnya lancar tanpa lag. Namun, ketika isi kepalanya mulai dipenuhi kekerasan, kita baru sadar bahwa sinyal internet ternyata lebih kuat daripada sinyal kepedulian orang dewasa di sekitarnya. (eks)

You Might Also Like

Tanah Dipinjamkan ke Polres Kebumen Sejak 1950, Eh Mau Disertifikatkan! Ahli Waris Protes

Bejatnya Psikolog Gadungan, Tipu dan Cabuli Korban di Hotel Semarang

30 Ribu Batang Baja Ringan dari Kendal Ekspor Perdana ke Australia

16.000 Tiket Kereta Mudik Lebaran Sudah Terjual, KAI Daop 4 Ungkap Tanggal Favorit

Mahasiswa KKN Jadi Mitra Pemprov Bangun Desa

TAGGED:bullyingDensus 88disdik jatengheadline
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article WhatsApp Uji Chat Rahasia, Cuma Bisa Dibuka di HP Utama
Next Article Jangan Bebani Pedagang Kecil dengan Biaya Sertifikat Halal

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Muh Harris: Anak Lebih Antusias Makan MBG Prasmanan

Apakah Pelaku Bullying yang Masih Anak-Anak Bisa Dihukum?

Jangan Bebani Pedagang Kecil dengan Biaya Sertifikat Halal

52 Anak di Jateng Terpapar Kekerasan

WhatsApp Uji Chat Rahasia, Cuma Bisa Dibuka di HP Utama

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Bazar keramik di PT Sango Ceramics Indonesia, Wonosari, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026), nggak cuma diburu buat koleksi pribadi, jasa titipan (jastip) juga turut ngeborong untuk dijual lagi. (bae)
Info

Bazar Keramik Sango Diserbu Pengunjung, Jastip Ikut Ngeborong Buat Dijual Lagi

April 10, 2026
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Info

Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat

April 1, 2026
Fokus

Agustina Ajak Kafilah MTQ Keliling Semarang

September 15, 2026
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
Info

Gibran Respons Putusan MK soal Ijazah: “Segera Kami Follow Up”

Oktober 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: 52 Anak di Jateng Terpapar Kekerasan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?