BACAAJA, JAKARTA – Di tengah persiapan panjang menuju Haji 2026, dokter-dokter yang biasa menangani jemaah mulai mewanti-wanti satu fenomena yang makin sering muncul: jemaah berangkat dalam kondisi tubuh yang benar-benar tidak siap. Kondisi ini kemudian disebut sebagai fenomena “zombi,” istilah santai untuk menggambarkan jemaah yang tiba di Tanah Suci sudah kelelahan, sakit, atau drop sebelum memulai rangkaian ibadah.
Ketua PERDOKHI, dr. Syarief Hasan Lutfie, menjelaskan bahwa ibadah Haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi aktivitas fisik yang sangat intens. “Jangan sampai kita kirim jemaah dalam kondisi tidak fit,” ujarnya dalam sebuah acara kesehatan beberapa waktu lalu.
Tahun ini, data jemaah yang berangkat dengan kondisi kurang prima cukup tinggi. Kementerian Agama mencatat lebih dari 22 persen jemaah termasuk kategori lansia, dan sebagian besar memiliki komorbid yang membuat mereka lebih rentan kelelahan atau sakit di perjalanan.
Kondisi itu semakin diperberat oleh cuaca ekstrem di Arab Saudi. Suhu tinggi, kepadatan manusia, serta aktivitas jalan kaki yang intens membuat tubuh cepat drop jika tidak disiapkan sejak awal.
Selain Haji, gelombang Umrah yang tidak pernah berhenti juga membuka risiko penularan penyakit antarnegara. Jutaan orang bergerak dan berkumpul dalam waktu bersamaan, membuat penyakit infeksi lebih cepat menyebar.
Dokter Syarief menekankan perlunya pemeriksaan calon jemaah yang benar-benar ketat. “Jangan sampai dokternya asal isi formulir, tapi jemaahnya berangkat dalam kondisi rentan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak kasus meninggal di hotel bukan karena aktivitas ibadah, tetapi karena penyakit bawaan yang sudah muncul dalam penerbangan atau sebelum ritual dimulai.
Di sisi lain, pemeriksaan fisik jemaah kerap dianggap formalitas. Padahal, kondisi seperti tekanan darah tidak stabil, asma akut, atau penyakit jantung semestinya menjadi bahan pertimbangan serius.
Melihat situasi itu, pemerintah Arab Saudi pernah memberikan teguran diplomatik kepada Indonesia terkait banyaknya jemaah yang diberangkatkan tanpa kesiapan fisik memadai (istiṭho’ah).
Bukan hanya itu, jemaah juga kerap memaksakan diri. Baru tiba dari perjalanan panjang 10 jam, mereka langsung ingin tawaf atau beraktivitas tanpa memberi waktu tubuh beradaptasi.
Padahal, selama musim haji, jalan kaki minimal 6–8 kilometer per hari adalah hal biasa. Tanpa stamina kuat, dehidrasi dan kolaps bisa terjadi kapan saja.
Salah satu langkah pencegahan penting adalah vaksin meningitis konjugat. Vaksin ini wajib diberikan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan.
Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Suzy Maria, menjelaskan bahwa meningitis bisa menyebar cepat melalui droplet. “Dalam kondisi padat seperti haji, penularannya sangat mudah,” ujarnya.
Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 24 jam. Pada penderita yang selamat, sering masih ada kerusakan permanen seperti gangguan pendengaran atau kejang.
Selain vaksinasi, edukasi kesehatan bagi jemaah juga harus diperkuat, terutama bagi kelompok lansia dan jemaah dengan riwayat komorbid.
Para ahli menilai bahwa kesiapan mental dan fisik harus berjalan beriringan. Banyak jemaah fokus pada ritual ibadah, tetapi melupakan persiapan fisik dasar seperti latihan jalan kaki.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah pola istirahat. Kurang tidur sebelum keberangkatan bisa memperburuk kondisi tubuh saat sampai di Arab Saudi.
Air minum menjadi faktor kritis lain. Suhu yang sangat panas membuat tubuh cepat kehilangan cairan, sehingga jemaah harus rutin minum meski tidak merasa haus.
Di tengah padatnya rangkaian ibadah, jemaah juga perlu tahu batas kemampuan diri. Memaksakan diri bisa berujung fatal.
Banyak jemaah yang datang dengan keinginan kuat menyelesaikan semua amalan sunnah. Namun dokter menyarankan fokus pada amalan wajib untuk menjaga tenaga.
Sementara itu, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperketat pemeriksaan kesehatan calon jemaah. Langkah ini diharapkan bisa menekan risiko kematian dan penyakit di Tanah Suci.
Selain pemerintah, pendamping jemaah juga diminta untuk lebih sigap mengawasi peserta dalam rombongannya, terutama kelompok lansia.
Dengan persiapan fisik dan vaksinasi yang tepat, risiko fenomena “zombi” bisa ditekan. Jemaah pun dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman. (*)


