BACAAJA, BULUKUMBA – Kisa memilukan dan menyanyat hati datang dari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bayi usia 14 bulan meninggal dunia karena kelaparan.
Bayi piatu itu dilaporkan tak makan dan minum susu selama 10 hari sebelum akhirnya meninggal dunia.
Nakla Safira, nama bayi berusia 14 bulan itu. Ia sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.
Kisah Nakla ramai dibicarakan di media sosial. Nakla disebut tidak mendapat asupan makanan dan susu selama sekitar 10 hari karena keluarganya mengalami keterbatasan ekonomi.
Sebelum meninggal, Nakla mengalami kejang. Setelah kejang Nakla dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya kemudian mengharuskan bayi tersebut menjalani perawatan selama sepekan di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Bulukumba.
Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah Nakla dibawa pulang ke rumah keluarga untuk dimakamkan. Suasana duka menyelimuti keluarga, termasuk nenek yang selama ini merawatnya.
Berasal dari Keluarga Miskin
Kehidupan Nakla memang penuh keterbatasan. Ibunya meninggal dunia saat ia baru berusia satu bulan. Sementara ayahnya bekerja sebagai buruh di luar kota sehingga tidak selalu bisa mendampingi.
Selama ini, Nakla diasuh oleh sang nenek. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat kebutuhan sehari-harinya sulit terpenuhi.
Tetangga keluarga, Ehmy Sandre, mengatakan sang nenek sempat meminta bantuan karena kondisi cucunya yang semakin lemah.
“Dia (neneknya) datang ke rumah nangis-nangis minta tolong cucuku 10 hari tidak makan dan minum karena habis jatuh dalam keadaan sakit tidak makan. Adminduknya baru belum diurus BPJS,” kata Ehmy.
Selain persoalan asupan, Nakla disebut pernah terjatuh dan mengalami sakit. Keluarga juga kesulitan membawanya berobat karena keterbatasan biaya. Nakla diketahui belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
DPRD Soroti Pelayanan Warga Miskin
Kasus ini turut mendapat perhatian Pimpinan DPRD Bulukumba, Syahruni Haris. Ia menilai masih ada warga miskin yang belum terjangkau pendataan dan pelayanan pemerintah. Padahal, akses kesehatan seharusnya tetap menjadi prioritas, terutama dalam kondisi darurat.
Syahruni juga mengingatkan masyarakat agar tetap membawa pasien ke rumah sakit meskipun belum memiliki BPJS Kesehatan.
“Ini kejadian berulang-ulang masyarakat kita tidak terpantau pelayanan kesehatannya ceritanya sudah 10 hari di rumah neneknya menyampaikan tidak ada BPJS ini. Kepada masyarakat tidak ada BPJS tetap datang ke rumah sakit karena kalau sudah ke rumah sakit BPJS nomor dua, nyawa yang harus diutamakan,” tegas Syahruni, Jumat (30/10/2026).
Sementara itu, Wakil Bupati Bulukumba Andi Edy Manaf menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kelalaian pemerintah daerah dalam menangani kasus Nakla.
Ia berjanji akan mengevaluasi persoalan tersebut. Andi juga meminta masyarakat melaporkan apabila menemukan warga miskin yang membutuhkan bantuan tetapi belum mendapat perhatian pemerintah.
Menurutnya, aparatur pemerintahan di tingkat bawah harus lebih aktif memantau kondisi warga di wilayah masing-masing.
“Pemerintah di tingkat bawah lurah sampai kepala dusun lingkungan itu harus proaktif mencermati kehidupan masyarakatnya. Bukti hari ini bagian daripada masyarakat yang tertutup juga yang tidak melaporkan kondisi keluarganya,” kata Andi.
Kasus Nakla menjadi pengingat pentingnya pendataan warga rentan dan respons cepat pemerintah. Jangan sampai keluarga yang membutuhkan bantuan justru luput dari perhatian hingga terlambat mendapatkan pertolongan. (*)

