BACAAJA, SOLO – Nama rumah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mendadak ramai dibahas. Di Google Maps, kediamannya di Jalan Kutai Utara No 1, Solo, sempat ditandai dengan label unik: “Tembok Ratapan Solo”.
Fenomena ini makin viral setelah beredar video seorang pemuda yang terlihat meratap di depan gerbang rumah tersebut. Warganet pun langsung mengaitkan istilah itu dengan makna historis yang sebenarnya jauh dari konteks candaan.
Soalnya, istilah “Tembok Ratapan” bukan sekadar sebutan iseng. Dalam sejarah dunia, nama itu merujuk pada Western Wall, situs suci yang berada di Kota Tua Yerusalem.
Tembok ini juga dikenal dengan nama Kotel atau Kotel HaMa’aravi oleh umat Yahudi. Lokasinya ada di Yerusalem dan jadi salah satu tempat ibadah paling penting bagi mereka.
Banyak orang Yahudi datang ke sana untuk berdoa, merenung, bahkan meratap. Makanya, para pengunjung dari luar kemudian menjulukinya sebagai “Tembok Ratapan” karena sering melihat orang berdoa sambil menangis.
Mengutip Encyclopædia Britannica, doa-doa yang dipanjatkan di sana umumnya berisi ratapan atas kehancuran Bait Suci serta harapan akan pemulihannya. Jadi, makna “ratapan” di sini memang punya akar sejarah dan spiritual yang dalam.
Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah menyelipkan kertas kecil berisi doa di celah-celah batu tembok. Celah itu kabarnya sudah dipenuhi jutaan kertas harapan dari berbagai penjuru dunia.
Banyak yang percaya doa yang diselipkan di sana punya makna khusus. Entah soal kesehatan, jodoh, perdamaian, atau sekadar curahan hati yang sulit diucapkan langsung.
Area doa di Tembok Barat juga dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Di tengahnya ada pembatas karena dalam tradisi setempat, keduanya tidak beribadah bersama di lokasi tersebut.
Sebelum berdoa, pengunjung biasanya diminta membasuh tangan sebagai simbol penyucian diri. Untuk pria, tersedia penutup kepala kecil atau kippah yang wajib dipakai saat berdoa.
Tempat ini juga jadi pusat perayaan hari besar Yahudi seperti Hanukkah, Yom Kippur, hingga Sukkot. Bahkan upacara Bar Mitzvah pun sering digelar di sana.
Secara struktur, sebagian besar bangunan Tembok Barat justru berada di bawah tanah. Tembok ini terdiri dari 45 lapisan batu kapur, dengan 28 lapis terlihat di atas permukaan.
Salah satu batu terbesarnya punya panjang sekitar 13 meter dan berat ratusan ton. Ukurannya bikin siapa pun yang melihat langsung bakal takjub.
Secara historis, tembok ini adalah sisa dari kompleks penahan Bukit Bait Suci. Di lokasi itulah dulu berdiri Kuil Pertama dan Kuil Kedua umat Yahudi.
Kuil Pertama dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babilonia sekitar 587–586 SM. Lalu Kuil Kedua dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M.
Tradisi doa di Tembok Barat sendiri mulai berkembang pada abad ke-16. Saat itu wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Ottoman yang dipimpin Sultan Sulaiman Agung.
Kini, Tembok Barat berada di kawasan yang sama dengan Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa. Wilayah ini juga tak lepas dari dinamika konflik panjang antara Israel dan Palestina.
Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Israel mengambil alih kendali penuh atas area tersebut. Sejak itu, isu kepemilikan dan akses ke tempat suci ini kerap memicu ketegangan.
Kembali ke Solo, penyematan nama “Tembok Ratapan” pada rumah Jokowi jelas bukan dalam konteks sejarah tadi. Namun viralnya istilah itu bikin banyak orang jadi penasaran dengan makna aslinya.
Dari candaan warganet sampai situs suci ribuan tahun, satu istilah bisa punya arti yang sangat berbeda. Jadi sebelum ikut-ikutan menyebut, nggak ada salahnya tahu dulu cerita panjang di balik nama “Tembok Ratapan” yang sebenarnya. (*)


