BACAAJA, WUHAN – Malam yang seharusnya berjalan normal di Wuhan mendadak berubah jadi momen bikin deg-degan. Ratusan taksi robot tiba-tiba berhenti serentak di tengah jalan, membuat lalu lintas kacau dan penumpang di dalamnya sempat kebingungan tanpa arah.
Layanan taksi tanpa sopir milik Baidu, yakni Apollo Go, jadi sorotan setelah lebih dari 100 unit kendaraan otonomnya mengalami gangguan secara bersamaan. Kejadian ini langsung viral di media sosial China karena dianggap tidak biasa.
Insiden tersebut terjadi pada malam hari, ketika aktivitas lalu lintas masih cukup padat. Banyak kendaraan robot itu berhenti mendadak dengan lampu hazard menyala, seolah memberi tanda ada sesuatu yang tidak beres pada sistem mereka.
Beberapa penumpang bahkan dilaporkan terjebak di dalam kabin tanpa pengemudi selama lebih dari 90 menit. Kondisi ini membuat situasi semakin menegangkan, terutama karena kendaraan berhenti di lokasi yang tidak aman seperti jalan layang dan jalur cepat.
Menurut laporan yang beredar, gangguan sistem menjadi penyebab utama berhentinya armada Apollo Go secara massal. Polisi setempat mengaku menerima banyak laporan dari warga sejak pukul 20.56 waktu setempat.
Pihak berwenang langsung bergerak cepat. Aparat dari berbagai instansi diterjunkan untuk mengamankan lokasi, mengatur lalu lintas, dan memastikan keselamatan para penumpang yang masih berada di dalam kendaraan.
Video dan foto yang beredar luas memperlihatkan deretan taksi robot berhenti di berbagai titik jalan. Ada yang terparkir di jalur cepat, ada juga yang berhenti di tengah persimpangan, membuat arus kendaraan lain terganggu.
Beberapa pengendara lain bahkan harus melakukan manuver mendadak untuk menghindari tabrakan. Rekaman dashcam menunjukkan situasi cukup berisiko, dengan kendaraan harus berpindah jalur secara tiba-tiba.
Salah satu penumpang, seorang mahasiswi, menceritakan pengalamannya saat terjebak bersama dua temannya. Ia menyebut kendaraan sempat mengalami gangguan berulang sebelum akhirnya benar-benar berhenti total.
Mobil yang mereka tumpangi bahkan sempat berhenti hingga empat kali sebelum akhirnya tidak bisa bergerak sama sekali di dekat persimpangan. Situasi ini membuat mereka mulai panik karena tidak ada kepastian bantuan datang.
Di dalam kendaraan, layar sempat menampilkan pesan agar penumpang tetap berada di dalam dan menunggu bantuan dalam waktu lima menit. Namun kenyataannya, bantuan tak kunjung datang sesuai yang dijanjikan.
Mahasiswi tersebut baru bisa menghubungi pihak perusahaan sekitar 30 menit kemudian. Sayangnya, respons yang diterima hanya sebatas laporan ke atasan tanpa solusi langsung di lokasi.
Setelah menunggu cukup lama tanpa kejelasan, mereka akhirnya memutuskan keluar sendiri dari kendaraan. Keputusan itu diambil demi keselamatan, mengingat posisi mobil berada di area yang cukup berisiko.
Cerita serupa juga datang dari penumpang lain bernama Zhou. Ia mengaku kendaraannya berhenti hanya sekitar 10 menit setelah perjalanan dimulai, tepat di jalan layang yang masih dipadati kendaraan lain.
Zhou sempat melihat pesan di layar yang meminta penumpang tidak membuka pintu. Namun kondisi di lapangan membuatnya tidak punya banyak pilihan selain mencari cara untuk keluar.
Yang membuat situasi makin rumit, nomor darurat yang tersedia di dalam kendaraan tidak bisa dihubungi. Hal ini membuat penumpang benar-benar merasa sendirian tanpa bantuan.
Ia akhirnya harus menunggu lebih dari satu jam sampai seorang polisi yang melintas membantu proses evakuasi. Kejadian ini memperlihatkan celah dalam sistem darurat layanan tersebut.
Meski begitu, pihak berwenang memastikan tidak ada korban luka dalam insiden ini. Semua penumpang berhasil keluar dengan selamat meskipun harus menunggu cukup lama.
Layanan Apollo Go sendiri sebenarnya sudah cukup luas digunakan di China. Bahkan di Wuhan saja, jumlah armadanya mencapai lebih dari 1.000 unit dan tersebar di berbagai titik kota.
Tak hanya di dalam negeri, ekspansi layanan ini juga sudah menjangkau pasar internasional, termasuk kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan ambisi besar dalam mengembangkan transportasi otonom.
Namun insiden ini jadi pengingat bahwa teknologi secanggih apa pun tetap punya risiko. Gangguan sistem sekecil apa pun bisa berdampak besar, apalagi jika terjadi secara massal seperti ini.
Ke depan, publik tentu berharap ada evaluasi menyeluruh dari pihak perusahaan. Keamanan dan keandalan sistem harus jadi prioritas utama, agar kepercayaan pengguna tidak ikut berhenti di tengah jalan seperti taksi robot itu. (*)


