BACAAJA, SEMARANG – Suasana meriah terasa di Kampung Bustaman, Kota Semarang, saat warga bersama para pengunjung mengikuti tradisi gebyuran untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Tradisi tahunan ini kembali menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang penasaran dengan suasana dan makna di balik perayaan tersebut.
Salah satu pengunjung, Ayu (21), dara asal Pemalang yang kuliah di UIN Walisongo, mengaku tertarik datang karena tradisi ini sudah menjadi ikon budaya kota yang selalu digelar menjelang Ramadan.
Bacaaja: Gebyuran Bustaman 2026: Ragam Tradisi Unik Sambut Ramadan di Semarang
Bacaaja: Lebih dari Sekadar Tradisi, Dugderan Semarang Diperjuangkan Jadi Warisan Budaya Nasional
Menurutnya, acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki makna simbolik yang kuat. Wajah peserta yang dicoret-coret dan kemudian disiram air menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan suci.
“Ini menarik karena sebelum Ramadan kita seakan diingatkan untuk membersihkan diri, baik secara simbolik maupun secara batin. Setelah dicoret-coret lalu digebyur air, seperti pesan bahwa kita harus siap menyucikan diri,” ujar Ayu, Minggu (15/02/2026)
Pengunjung lain yang baru pertama kali datang juga mengaku penasaran setelah sebelumnya hanya mendengar cerita teman-temannya. Etsa (20) dari Bojonegoro yang kuliah di Semarang, juga mengaku suasana di lokasi ternyata lebih seru dan unik dari yang dibayangkan.
“Awalnya cuma diajak teman, tapi ternyata acaranya seru sekali. Tadi juga sempat wawancara warga dan ternyata setiap coretan dan gebyuran air punya makna sendiri. Jadi senang bisa merasakan langsung tradisi ini,” katanya.
Para pengunjung juga merasakan suasana kebersamaan yang kuat begitu memasuki kawasan kampung. Warga setempat dengan ramah menyambut siapa saja yang datang, bahkan langsung mengajak pengunjung ikut serta dalam ritual coret-coret dan siraman air.
Menurut Etsa, inilah daya tarik utama Bustaman. Siapa pun yang datang akan langsung merasa diterima dan menjadi bagian dari perayaan.
“Begitu masuk kampung, semua terasa menyatu. Warganya ramah, langsung menyapa, bahkan kita langsung diajak ikut merasakan tradisinya. Di sini kita benar-benar menemukan makna kebersamaan,” ujarnya.
Tradisi gebyuran Bustaman pun menjadi pengalaman unik yang jarang ditemui di tempat lain. Para pengunjung berharap semakin banyak warga Semarang maupun wisatawan luar kota datang untuk merasakan langsung atmosfer hangat dan penuh kebersamaan ini.
Dengan suasana yang meriah sekaligus sarat makna, Gebyuran Bustaman tak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah, melainkan juga tentang mempererat hubungan antarwarga dan membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci. (dul)


