BACAAJA, JOMBANG – Pawai sahur on the road alias SOTR di Jombang, Jawa Timur mendadak jadi omongan warganet. Bukan cuma karena konvoi motornya yang panjang, tapi juga karena dentuman sound horeg plus aksi joget yang dinilai kelewat batas saat suasana Ramadhan masih gelap-gelapnya.
Video kegiatannya cepat banget menyebar di media sosial. Ribuan orang terlihat ikut iring-iringan motor, mengikuti mobil yang membawa sound system besar menyusuri jalan desa sampai area persawahan.
Kapolsek Ploso, Kompol Achmad Chairuddin, langsung angkat suara. Mengutip laporan dari detikJatim, ia menegaskan kegiatan SOTR itu digelar tanpa izin kepolisian maupun pemerintah desa setempat.
“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kadesnya juga tidak tahu, tahunya dari warganya,” tegasnya.
Menurutnya, kejadian serupa sebenarnya pernah muncul pada pekan pertama Ramadhan tahun lalu. Karena itu, pihak kepolisian mengaku sudah melakukan langkah antisipasi agar tidak terulang di pekan-pekan berikutnya.
Untuk Ramadhan kali ini, ia memastikan pengamanan bakal diperketat. Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, juga sudah mengimbau masyarakat supaya tidak menggelar kegiatan yang bisa mengganggu ketertiban dan ketenangan selama bulan puasa.
Ke depan, polisi berencana melakukan patroli gabungan bersama Polsek Kabuh dan melibatkan pemerintah desa. Imbauannya sederhana: kalau mau jalan-jalan pagi setelah sahur, tidak perlu pakai sound besar yang menggelegar.
Yang bikin makin ramai dibahas, dalam video viral itu terlihat ada penari berjoget dengan pakaian ketat di depan sound horeg. Bahkan disebut-sebut diduga waria, meski polisi menyebut aksi itu spontan.
“Tidak etis puasa-puasa seperti itu,” ujar Chairuddin menyayangkan kejadian tersebut.
Sekretaris Desa Jatibanjar, Hengki, juga buka suara. Ia memastikan kegiatan tersebut bukan agenda resmi dari pemerintah desa.
Menurutnya, aksi joget seksi di bulan puasa jelas tidak pantas dan bisa menimbulkan keresahan warga sekitar. Apalagi berlangsung di jalan penghubung desa saat warga lain sedang bersiap menjalankan ibadah.
Sementara itu, dari pihak penyedia sound, Aprelia selaku pemilik Aprelia Production menjelaskan bahwa lebih dari sepuluh sound horeg ikut meramaikan kegiatan tersebut.
Ia mengatakan acara itu bukan hasil sewaan pihak tertentu. Kegiatan tersebut disebut sebagai agenda keliling sahur yang memang biasa dilakukan komunitas sound di wilayah Jombang.
“Itu tidak ada yang menyewa, dari pihak sound-sound Jombang kan sering sahur on the road,” jelasnya.
Meski begitu, skala kegiatan kali ini dinilai lebih besar dari biasanya. Konvoi motor yang mengular sejak dini hari hingga suasana mulai terang membuat banyak warga terbangun lebih cepat dari jadwal imsak.
Di beberapa unggahan yang beredar, terlihat penari menerima saweran dari peserta yang ikut konvoi. Aksi tersebut memicu beragam komentar, mulai dari yang menganggapnya hiburan hingga yang mengecam karena dinilai tidak menghormati suasana Ramadhan.
Fenomena sound horeg sendiri memang sudah lama jadi tren di sejumlah daerah Jawa Timur, termasuk di wilayah Jombang. Dentuman bass keras kerap jadi ciri khas acara hajatan hingga konvoi tertentu.
Namun ketika dibawa ke momen sahur Ramadhan, apalagi tanpa izin resmi, respons masyarakat jadi berbeda. Banyak yang berharap suasana bulan puasa tetap dijaga agar lebih kondusif.
Polisi kini fokus pada langkah pencegahan agar kejadian serupa tak terulang di pekan berikutnya. Pendekatan persuasif dan patroli gabungan disebut jadi strategi utama.
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa euforia sahur keliling tetap perlu batas. Ramadhan memang momen kebersamaan, tapi tetap harus sejalan dengan etika dan ketertiban.
Di tengah semangat bangunin orang sahur, jangan sampai justru bikin gaduh satu kampung. Apalagi kalau sampai viral karena hal-hal yang bikin geleng kepala. (*)


